
Aku sebenarnya lebih suka menginap di rumah orang tua Sky malam ini dibanding pulang ke rumah. Kebetulan Nindi dan suaminya memutuskan untuk menginap, andai Sky tidak bersikeras pulang, aku pasti memilih tidur dan berbagi cerita semalaman dengan Nindi.
Suasana hening sepanjang perjalanan pulang. Tidak ada diantara kami yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan.
Sampai di rumah, Sky cepat-cepat keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untukku.
Kuperhatikan dia begitu pendiam, dia juga menghindari kontak mata dengaku, lebih banyak menunduk daripada menatapku.
Sepertinya dia marah!
Aku langsung membersihkan badan dan setelah itu bersiap untuk tidur. Rasanya sangat lelah setelah seharian beraktifitas di kantor dan sekarang sudah jam 11 malam.
Aku tidak melihat Sky masuk kamar, mungkin dia sedang sibuk di ruang kerjanya. Fikirku.
Karena tidak tahan menahan kantuk, akhirnya aku pun terlelap.
Aku tiba-tiba terbangun dengan nafas memburu karena hentakan suara petir dan cahaya kilat yang menyambar-nyambar dari balik dinding kaca besar kamar ini. Segera kuambil remot di atas nakas agar tirai tertutup sempurna.
Kulirik sisi sebelahku, tak ada Sky di sana. Sepertinya dia sama sekali tidak masuk ke dalam kamar. Aku sebenarnya sedikit takut sendiri di saat malam dengan hujan deras seperti ini.
Kuberanikan diri mencari keberadaan Sky, namun dia tidak ada di lantai bawah. Aku terpaksa naik ke lantai 2, selain anger room, di atas ada ruang studio, 1 kamar tidur yang dia jadikan gudang dan rooftop yang cukup nyaman dan asri.
Aku sudah hampir berbalik kembali ke kamar karena tidak menemukan Sky di atas. Namun, netraku menangkap sebuah siluet tubuh seseorang yang sedang duduk di bangku panjang tanpa peduli dengan hujan deras yang terus jatuh ke tubuhnya.
Sky! Hatiku membatin melihatnya.
Aku segera mengambil payung kemudian ikut duduk di sampingnya. Mungkin dia tidak menyadari kedatanganku karena dia menunduk dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri. Kuarahkan payung untuk melindungi tubuhnya sementara aku memilih mengarahkan tubuhku menoleh ke arah lain.
Meskipun aku marah, aku tetap peduli kepadanya.
Hingga beberapa saat, kurasakan tanganku mulai terasa pegal, apa dia tidak menyadari kedatanganku?
Aku membalik tubuhku menghadapnya bersamaan saat dia memutar kepalanya menoleh ke arahku.
Sky melirik tanganku yang memegang payung kemudian menoleh ke atas.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa sakit." Sky langsung merebut payung di tanganku kemudian berbalik memayungiku.
Aku balas merebut payung itu lalu membuangnya.
"Kalau aku bisa sakit hujan-hujanan seperti ini, lalu kamu?" Tanyaku berteriak kepadanya. Hujan terlalu deras dan angin cukup kencang di sini.
Kutatap mata Sky dengan sorot tajam, dia membalas tatapanku dengan sorot yang sulit kuartikan.
"Aku sudah terbiasa sakit sendiri, masuklah!" Ucapnya lemah dengan suara bergetar, bibirnya pun ikut bergetar.
Aku tahu dia saat ini sedang menangis, walau tersamar oleh air hujan.
"Kamu bodoh, Sky!" Ucapku tidak bisa lagi menahan air mataku yang ikut luruh bersama air hujan yang kian deras.
"Aku memang bodoh." Jawabnya menyunggingkan senyum tipis. "Masuklah!" Imbuhnya kemudian kembali memutar tubuhnya menatap lurus ke depan.
Anak ini keras kepala banget! Aku sudah merasakan tubuhku mulai bergetar karena kedinginan. Aku berdiri kemudian berjalan mendekatinya lalu duduk di atas kedua pahanya. Kukalungkan kedua tanganku di lehernya.
Sky berdiri, aku merapatkan kedua kakiku yang melingkar di pinggangnya. Sky akhirnya berjalan masuk rumah, membawaku seperti bayi koala tanpa melepas tautan bibir kami yang sudah bergerak liar, saling menuntut dan terbakar api gairah yang sudah berkobar-kobar setelah menahannya selama seminggu ini di dalam perang dingin yang kuciptakan sendiri.
Aku tak menampik, hatiku sakit saat mengabaikannya, aku merindukannya, aku merindukan segala hal yang ada pada dirinya dan malam ini ingin segera kubayar lunas apa-apa yang telah kami lewatkan karena kebodohanku dan keegoisanku.
Kembali rasa marah ini terpadamkan oleh api panas yang diciptakan Sky di atas ranjang. Aku tidak bisa menolaknya lagi, aku yang kini sangat menginginkannya. Aku tidak bisa lagi menghindarinya, mataku sudah dikuasai oleh kabut gairah yang membara.
Permainan pun berakhir setelah aku turun dari atas tubuh Sky kemudian berbaring telentang dengan nafas yang masih memburu.
Sky seolah tidak ingin membiarkanku beristirahat, dia langsung mengangkat tubuhku masuk ke dalam kamar mandi dan meletakkan tubuhku ke dalam bathtup sambil mengisinya dengan air hangat.
"Aku capek Sky, ngantuk!" Ucapku manja, menyandarkan kepalaku di sisi bathtup.
Sky kemudian bergabung masuk ke dalam bathtup memilih duduk di belakangku. Dia menggeser sedikit tubuhku agar bersandar di dadanya.
"Kita mandi dulu sayang, jangan sampai kita masuk angin!" Ucapnya sambil memercikkan air ke pundakku.
Tapi lama kelamaan acara mandi air hangat itu berubah menjadi semakin memanas karena Sky kembali membawaku terbang meraih puncak-puncak kenikmatan yang ada di dunia ini.
Setelah mandi bersih, kami memutuskan menunggu waktu sholat subuh yang sebentar lagi datang. Kami duduk di sofa dengan Sky membawa kepalaku bersandar di pundaknya. Tangannya terus mengusap lembut kepalaku diiringi suara merdunya melafalkan surat Al-Mulk.
Ah, nikmat Tuhan yang mana lagi yang aku dustakan?
*****
Alarm berbunyi nyaring memenuhi kamar tidur kami. Sengaja kuminta Sky menyimpan ponsel kami di atas lemari yang alarmnya sudah diatur ke jam 9 pagi untuk membangunkan kami setelah tidur sehabis sholat subuh tadi. Kalau disimpan di atas nakas, bisa-bisa kami malah khilaf mematikan alarm kemudian kembali tidur pulas.
Sky tampak tidak terganggu, tidak ada pergerakan sama sekali. Kutarik kursi yang ada di meja rias ke dekat lemari kemudian naik di atas kursi itu untuk mengambil ponsel yang alarmnya masih terus bernyayi.
Setelah mematikan alarm, aku masuk ke kamar mandi karena kandung kemihku rasanya sudah sangat penuh.
Aku merasakan lapar dan kufikir akan sangat menyenangkan memasak sarapan dari tanganku sendiri. Semenjak menikah dengan Sky, belum sekalipun aku memasakkan sesuatu untuknya. Berbeda dengan dirinya yang selalu bangun lebih awal menyiapkan sarapan bahkan saat makan malam di rumah, Sky lebih suka memasaknya sendiri dibanding delivery.
Ternyata kulkas terisi penuh dengan bahan makanan. Di freezer sudah tertata rapi ikan, daging sapi, daging ayam, udang, ada cumi juga dan sosis yang disimpan dalam box-box kecil yang nasing-masing isinya cukup untuk 1 kali porsi makan untuk kami berdua.
Kubuka lagi bagian pendingin kulkas, lagi-lagi dipenuhi box-box kecil yang bertumpuk-tumpuk berisi berbagai jenis sayuran.
Selain sayuran, di kulkas juga terisi penuh dengan buah dan beberapa botol bumbu siap pakai.
Aku tidak tahu, kapan Sky membeli semua ini dan kapan ia membuat food preparation sedetail dan serapih ini. Padahal kartu debitnya aku pegang.
Akan aku tanyakan saat Sky bangun nanti.
Aku memang sangat jarang membuka kulkas. Aku dan Sky sama-sama tidak menyukai minuman dingin meskipun itu adalah air putih. Kami lebih suka minum air hangat.
Tidak ingin berlama-lama mengagumi isi kulkas, aku bergegas membuat mie goreng seafood.
Berbekal ilmu dari hasil menonton chef youtube, akhinya mie goreng seafood jadi juga. Aku begitu bahagia hingga tanpa sadar bibirku terus bersenandung sembari menata masakanku di atas meja makan.
Semoga Sky suka!