HAPPIER

HAPPIER
BAB 31



"Sky, pakaian kotornya jangan digantung di kamar mandi dong." Ucapnya dengan membawa keluar pakaian yang tadi kutinggal di kamar mandi. Kulihat ia memasukkannya ke dalam kantong loundry.


Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, speechless jadinya.


"Uuugghhh.. kirain hanya umi dan kak Nindi yang suka marah-marah." Sungutku pelan.


"Aku dengar Sky!" Katanya kemudian menghampiriku dan kembali duduk di tempatnya tadi.


Ah, aku fikir aku akan mati dalam kecanggungan setelah menikah dengannya, ternyata dia bersikap biasa saja, tak ada bedanya saat belum menikah.


"Baiklah.. kuikuti permainanmu, kakak cantik!" Ucapku dalam hati.


Bery kembali sibuk dengan laptopnya, aku merasa dikacangin. Begini banget yah nasibnya jadi suami yang masih dianggap bocah sama istrinya. Aku mau ngomong, tapi tidak tahu mau ngomong apa, aku tidak punya pengalaman berbasa-basi dengan siapapun.


Dia yang biasanya cerewet malah sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Mana ada pengantin yang malam pertamanya diisi dengan bekerja dan diam-diaman seperti kami.


Padahal semua doa di malam pengantin sudah kuhapal mati diluar kepala. Sepertinya aku terlalu terburu-buru. Mungkin aku harus belajar dulu bagaimana caranya tembak cewek, kali aja Bery memang tipe cewek yang mau pacaran dulu sama suaminya.


Seperti kak Nindi yang selalu membangga-banggakan pernikahannya dengan mas Fachri, dia lebih suka mengatakan dirinya adalah pelaku pacaran halal karena pacarannya baru dilakukan setelah berada dalam ikatan yang sah. Kalau yang dulu-dulu sempat dekat dengan beberapa laki-laki, katanya itu hanya layaknya pengganti permen. Manisnya hanya sebentar, jadi dia tidak pernah secara official memiliki pacar, karena setiap kali si laki-laki sudah nembak dan menuntut status kepemilikan, kak Nindi akan mundur perlahan. Katanya, manisnya hanya sampai ditembak, selebihnya siap-siaplah sakit hati, siap-siap menangis, siap-siap diposesifin, bahkan harus siap-siap menelan pil pahit yang bernama rindu karena merindukan sesuatu yang tak bernama dan tertulis.


Kalau kataku, setiap gadis yang mengumumkan status kepemilikannya sebagai pacar, maka bersiaplah kehilangan sejumlah calon suami potensial yang sebenarnya mungkin sudah siap melamarmu. Karena kebanyakan laki-laki tidak suka hubungan rumit, seolah di dunia perempuan hanya dia saja.


"Ting tong.." suara bel pintu berhasil menyelamatkan diriku dari suasana hening yang mencekam ini.


Bery menghentikan aktifitasnya hendak berdiri membuka pintu.


"Biar aku saja." Ucapku menahannya dengan lebih dulu membuka pintu.


Ternyata petugas hotel yang datang membawa menu makan malam kami.


"Permisi, mas!"


"Iya, silahkan masuk."


Petugas hotel tersebut kemudian masuk dan menata makanan di atas meja yang ada di depan sofa. Bery ikut membantu menyusunnya agar meja bisa memuat semua menu yang ada.


"Terima kasih." Ucap Bery setelah petugas tadi selesai.


"Sama-sama, mba. Mari mba..mas.. semoga hidangannya sesuai dengan selera lidahnya. Selamat malam." Pamit pegawai hotel tersebut ramah.


Aku mengunci pintu kemudian ikut bergabung dengan Bery.


Kami menikmati makanan dalam diam, aku jadi bingung, kenapa setelah menikah malah jadi canggung begini? Padahal sebelum-sebelumnya biasa saja, malahan aku sering diusilin Bery.


Dia tampak pendiam dan seperti menghindari kontak mata denganku.


Tapi bagus juga, dengan begitu aku bisa memandangnya sepuasku tanpa takut tertangkap basah.


"Aku tau aku cantik. Tapi jangan diliatin gitu terus juga kali, Sky!"


"Uhuukkk..uhukkk.." aku tersedak, makanan yang baru masuk ke dalam mulutku menyembur keluar, untungnya aku masih sempat menoleh ke arah lain saat batuk. Aku ketahuan, rupanya Bery tahu aku terus menatapnya sedari tadi.


"Minum..." Bery memberiku segelas air dan langsung kuteguk berkali-kali.


"Masak gitu aja kaget? Heran deh Sky." Ucapnya sambil melanjutkan makannya.


"Sorry..." ucapku tidak enak.


"Lanjutkan makannya." Perintahnya dengan tetap fokus makan.


Aku kok merasa diperlakukan seperti adik, bukan suami olehnya. Bagaimana caranya meluluhkan hatinya yang katanya sudah beku itu kalau di matanya aku hanya dianggap adik?


*****


Aku sebenarnya ingin tertawa keras melihat wajah kebingungan Sky yang sepertinya ragu, antara ingin berperan menjadi suami yang baik atau bersikap sok cool seperti kelakuannya selama ini. Jangan salah, aku pun sebenarnya bingung bagaimana harus bersikap di sini.


Ketegangan sempat menguasai fikiranku saat ia keluar dari kamar mandi dengan hanya handukan saja. Parahnya, ia dengan santainya memakai pakaiannya di hadapanku. Tentu saja tanpa melepaskan lilitan handuknya itu. Tapi untukku yang baru merasakan berada di dalam kamar yang sama dengan seorang laki-laki dewasa, suamiku pula statusnya kini, pengaruhnya sungguh luar biasa menggoda iman dan sukses memporak-porandakan jiwa jombloku yang selama ini sudah mendarah daging.


Bukan hanya itu, dadaku rasanya sudah kembang kempis menahan keinginan untuk melihat secara dekat keindahan ciptaan Tuhan yang sudah sah menjadi milikku itu. Milikku?


Aku bangkit mengambilnya kemudian membawanya masuk ke kamar mandi, ternyata di kamar mandi ada pakaiannya teronggok di sana.


Bener-bener nih bocah, baru beberapa jam jadi suamiku sudah berani cari gara-gara. Aku tegur dong. Eh, diam-diam bae, tapi aku masih bisa mendengarnya menggerutu. Dasar bocah!


Hingga kami menikmati makan malam, Sky masih dalam mode cool-nya, tapi dapat kutangkap dari ekor mataku kalau tatapannya tak pernah benar-benar lepas memandang wajahku.


Daripada canggung terus, lebih baik kucandain dia, eh..anaknya tersedak. Sky...Sky!


Setelah makan malam dan meminta petugas hotel merapikannya aku kembali memeriksa laptopku. Sungguh, ini hanya peralihan suasana saja. Jika aku bisa menangkap kegugupan Sky, sesungguhnya akupun dilanda kegugupan dari tadi. Sekarang sudah hampir jam 10 malam, aku rasanya sudah mengantuk, lelah juga. Tapi aku bingung, tidurnya bagaimana?


Apa malam ini kami akan mulai berbagi ranjang, berbagi selimut dan berbagi hal lainnya atau bagaimana?


"Sudah ngantuk?" Tanyanya setelah melihatku menguap panjang. "Ayo tidur." Ajaknya.


"What? Bagaimana ini, aku harus bagaimana? Apa Sky akan meminta haknya sekarang juga?" Jeritku dalam hati.


Aku menggigit bibir bawahku, aku dilanda kegamangan.


"Aku akan tidur di sofa ini kalau kamu tidak nyaman." Ucap Sky seolah mengerti apa yang aku fikirkan.


Aku menoleh dan menatapnya sekilas, "apa kamu gak papa tidur di sofa kecil ini?" Tanyaku ragu.


Sky tersenyum, senyum yang tulus. "Tenang saja, aman itu!" Jawabnya meyakinkan.


Aku segera beranjak ke ranjang dan membaringkan tubuhku, kutarik selimut menutupi tubuhku hingga leher.


Tempat tidur ini sangat besar dan luas untuk diriku seorang, sementara Sky di sana terlihat menekuk tubuhnya dengan kaki terjuntai ke lantai.


Kasihan, tidak tega juga melihatnya.


"Sky..." panggilku. Aku bangun kemudian menyandarkan punggungku di kepala ranjang.


"Hmmmm"


"Kamu tidur di sini saja, tempat tidur ini luas kok. Kasihan kamu posisi gak nyaman begitu."


Sky merubah posisi tidurnya menjadi duduk di sofa. "Apa boleh? Kamu yakin?" Tanyanya ragu.


"Ayok sini, kamu gak akan apa-apain aku kan?"


"Aduh pertanyaan bodoh apa itu? Diapa-apain juga gak masalah, orang suami istri kok." Perang batinku.


Sky langsung mendekat kemudian merangkak naik kasur ikut masuk ke dalam selimut lalu duduk sepertiku yang bersandar di kepala ranjang.


"Bery, aku tidak akan meminta hakku sampai kamu izinkan, tapi karena ini malam pernikahan kita, boleh gak kita sholat sunnah 2 rakaat dulu sebelum tidur?" Pintanya dengan wajah memelas.


Aku tersenyum melihatnya yang benar-benar seperti bocah kecil meminta permen pada ibunya.


"Tentu saja boleh. Aku wudhu dulu." Ucapku dengan menganggukkan kepala.


Wajahnya begitu berbinar, matanya cerah melihat responku yang tidak menolak permintaannya.


Dia sangat menggemaskan. Tanpa sadar kucubit kedua belah pipinya.


"Awww..."


"Sorry... kakak khilaf!"


Aku langsung berlari ke kamar mandi demi menutupi rasa gugupku di matanya.


Oh Tuhan, bisa-bisa bukan Sky yang duluan khilaf, bisa jadi duluan aku...


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗