HAPPIER

HAPPIER
BAB 40



Aku terbangun dan merasakan tubuhku begitu lemas dan tak bersemangat. Kualihkan pandanganku ke sisi dimana Sky biasa berbaring di sisiku meski berjarak oleh bantal guling, namun ia sudah tidak ada.


"Mungkin sholat subuh di mesjid." Fikirku.


Aku beranjak ke kamar mandi dan mendapati diriku yang benar-benar berantakan. Ingatanku kembali pada kejadian tadi malam dimulai dari pertemuanku dengan Vivian dan berakhir di pelukan Sky.


Rasa sakit dan perih menyusup masuk ke dalam hatiku menciptakan perasaan sesak di dada. Kuhela nafas panjang dan kembali memperhatikan wajahku dari balik pantulan kaca besar di kamar mandi ini.


Aku kadang bingung, kenapa Sky begitu suka dengan desain kamarnya yang dipenuhi kaca besar-besar di beberapa sisi kamarnya. Terkadang aku merasa kehilangan banyak privasi karena sering dipandangi oleh bayanganku sendiri.


Mataku membulat demi mengingat kejadian semalam saat mengganti pakaianku yang basah.


"Oh..No.. Sky! Semalam kamu dapat jackpot!" Wajahku memanas mengingatnya, apalagi saat mataku memindai pakaian yang kini membungkus tubuhku yang tanpa pelindung bagian dalam.


"Dan apa ini?" Aku mendekatkan tubuhku ke kaca, menelisiknya dengan seksama, ada sebuah tanda merah kecoklatan di antara tulang selangkaku.


"Sky...! Laki-laki tetap saja laki-laki.." aku benar-benar kesal mendapati tanda tersebut.


Aku bukan perempuan bodoh yang tidak mengerti dari mana dan bagaimana tanda tersebut tercipta.


Segera kubersihkan tubuhku dengan mandi air hangat di bawah shower, tidak lama karena keburu waktu sholat subuh.


--


--


Pintu terbuka bersamaan denganku yang mengakhiri sholat subuhku dengan salam. Aku menoleh dan mendapati Sky mendekat kepadaku dan ikut duduk bersila di hadapanku.


Wajahnya begitu cerah memancarkan rona bahagia yang hakiki.


Aku menatapnya datar karena masih kesal dengan apa yang dilakukannya tadi malam. Meski kesal tetap kucium tangannya dan menerima kecupan lembutnya di keningku. Sebuah rutinitas yang mulai kusukai saat kami sholat berjamaah di rumah.


Sepertinya dia tidak berniat membahas kenapa aku pulang dalam kondisi seperti itu tadi malam, aku pun tidak ingin membahasnya saat ini. Aku masih berusaha menata hatiku dan pada saatnya nanti aku akan membaginya ke Sky.


Aku beranjak merapikan alat sholat ke lemari, sementara Sky terus memperhatikan setiap gerak gerikku.


Aku sekarang tidak lagi memakai pakaian tertutup, untuk apa, toh tadi malam Sky pasti sudah melihat semuanya. Semua daster yang kupunya modelnya sama dengan yang kupakai semalam, berleher lebar dan panjangnya di atas lutut.


Bisa kulihat wajah tegang Sky saat melihat tubuhku tidak tertutup kain mukenah lagi.


"Semoga kamu kuat, Sky!" Kekehku dalam hati. Aku yakin dia tidak akan melakukan hal aneh-aneh kepadaku sepanjang aku tidak menginginkannya.


Ini adalah hukuman untukmu Sky karena sudah berani membuat maha karya di tubuhku.


Sky kemudian bangkit berjalan mendekatiku kemudian membuka semua pakaian sholatnya menyisakan boxer doraemonnya di tubuhnya.


Aku hanya bisa menahan nafas melihat tubuhnya yang lebih banyak terekspos dibanding yang ditutupinya. Seketika ruangan ini terasa seperti kekurangan oksigen, apalagi saat dengan sengaja ia mendorongku dengan menggeser langkahnya ke samping mengenaiku membuat seluruh bulu di badanku meremang karena bersentuhan kulit dengannya.


"Permisi, kamu menghalangiku mengambil hanger untuk baju kokoku ini." Ucapnya sambil mengacungkan sebuah hanger ke wajahku.


Aku gelagapan karena merasa tertangkap basah terpesona melihat tubuhnya. Bukannya aku yang tadi sengaja menggodanya dengan dasterku yang kuanggap kurang bahan ini malah sekarang aku yang harus menahan sesuatu di dalam diriku yang sedang berkobar-kobar.


"Aku bantu umi dulu siapkan sarapan!" Ucapku buru-buru keluar kamar dan tanpa sadar aku membanting pintu saat menutupnya.


Sejenak kusandarkan tubuhku di pintu dan meletakkan kedua tanganku di atas dada.


"Uuurrrgghhh.. kurang ajar kamu Sky. Pagi-pagi bikin aku olahraga jantung begini." Rututku pelan kemudian melangkah turun ke dapur setelah merasa detak jantungku sudah bergerak normal.


*****


Sumpah, aku tidak bisa menahan tawaku saat Bery buru-buru keluar dari kamar dan menutup  pintu dengan keras. Bisa kulihat perubahan wajahnya yang sudah merona merah melihat aksiku yang mungkin tidak disangkanya.


Terserah dia mau mengatakan aku pria mesum atau nakal, aku tidak peduli, toh aku begini hanya dengannya. Siapa suruh dia yang memulai memanas-manasi aku dengan pakaian yang menggoda sisi kelelakianku ini.


Sudah lama tak berolahraga karena kesibukan kerja, akhirnya aku menuju pintu yang memisahkan antara kamar tidur dengan ruang kerjaku yang kusebut studio. Di bagian kusen pintu tersebut, terpasang besi stainless bulat menggantung di kedua sisinya. Sengaja kuletakkan di situ sehingga memudahkan diriku mencuri-curi beberapa gerakan pull up setiap kali masuk atau keluar dari ruang studioku tersebut.


Baru hitungan ke sepuluh, kembali pintu dibuka dengan kasar dari luar. Terlihat Bery celingak celinguk sepertinya mencariku.


"Cari aku?" Tanyaku menghentikan aktifitas olahragaku.


Wajahnya tampak kaget mendengar suaraku. Dia memang tidak melihatku berada di pintu studio karena posisinya sekarang masih membuka pintu setengah sementara posisi pintu studio ada di belakang pintu saat membuka 90° seperti saat ini.


"Ge er banget!" Ketusnya lalu masuk ke dalam kamar dan menuju lemari mengambil cardigan juga rok panjangnya.


Tentu saja dia baru sadar kalau sedang memakai baju kurang bahan dan tidak mungkin memakainya di depan abi.


"Issshhh...kok masih kelihatan sih?" Sungutnya sambil menarik-narik cardigannya ke atas.


Aku paham sekarang. Aku tersenyum dan gemas melihatnya.


"Gak usah ditutupi, cantik kok ada stempelnya gitu." Ucapku dengan seringaian nakal di belakangnya.


Dia menatapku jengah lewat pantulan kaca lebar yang memperlihatkan seluruh tubuh kami.


Bery berbalik, dan--


"Aawww..awww.. sakit..sakit Ber!"


Aku mundur berjalan menyamping kiri kanan demi menghindari cubitan Bery di perut dan di pinggangku. Bukannya berhenti, Bery malah semakin semangat menyerangku dengan kedua tangannya mencubitku bergantian. Ini benar-benar sakit, ia tidak main-main mencubitku.


"Stop Ber, sakit!"


"Nggak, aku belum puas. Ini gara-gara kamu. Pokoknya badan kamu juga harus penuh stempel." Ucap Bery dengan nafas memburu tanpa henti menyerangku.


"Sakit.. aaww.. stop Ber, ampun!" Aku menepis tangannya tapi masih kekeh mencubitku, terlepas cubit lagi, lepas cubit lagi.


"Nah.. sekarang mau menghindar kemana? Heummm?" Tanyanya saat tubuhku sudah tersudut di salah satu sudut kamar.


"Ampun sayang.. stop yah.. sakit ini." Ucapku memohon dengan dua telapak tangan saling bertemu.


"Enggak! Pokoknya kamu diam di situ, gak boleh melawan dan gak boleh menepis tanganku."


"Iya, siap..siap.. tapi jangan dicubit pakai tangan. Aku bikin stempelnya pake bibir loh, bukan tangan. Balasnya pake bibir juga dong."


"Kamu yah, bisa-bisanya masih menggodaku. Aku marah sama kamu Sky. Kesal tau!" Bibirnya mengerucut membuatku semakin gemas dan rasanya ingin melahap habis bibir seksinya itu.


"Lain kali jangan bikin di bagian ini dong, susah sembunyiinnya tau gak?" Ucapnya menunjuk stempel di bawah lehernya itu.


"Iya..iya.. lain kali aku bikin lebih ke bawah lagi deh, gak di situ lagi." Ucapku sok bersalah padahal wajahku semakin menyeringai nakal kepadanya.


"Sky!!!" Teriaknya memekikkan telinga, wajahnya kembali merona.


"Aku salah apa lagi, sayang?"


"Arrrgghhh.." ia meneriakkan rasa frustasinya dan berlalu pergi.


"Plak.." kembali pintu dibanting.


"I love you, wife!!!" Teriakku yang entah dia dengar atau tidak.


Aku benar-benar bahagia kali ini, belum pernah kurasakan bahagia seperti saat ini di sepanjang ingatanku 25 tahun hidup di dunia ini.


Oooo☆~~☆oooO


Jangan lupa berikan like, comment dan vote kalian yah untuk mendukung Novel ini. Klick tombol Favorit agar kalian bisa mendapatkan notifikasi tiap kali ada update terbaru. okay.. Thanks 😍🤗