
Curhat. Aku seneng lo baca-baca komentar para reader saling balas-balasan, saling cerita dan kasih support. Semoga cerita ini bisa jalin silaturahmi kita semua ya, Aamiin.
Jam 3 sore Alam memutuskan pulang. Saat sedang berjalan keluar menuju parkiran, langkahnya terhalang ketika terdengar seorang pria memanggil namanya.
"Dokter Alam," panggil Anton, dia datang kemari karena perintah Alam. Mulai besok Anton akan kembali bekerja di rumah sakit Medistra pusat, masa hukumannya mendapatkan keringanan. Belum sampai 1 tahun namun dia sudah dipanggil untuk kembali.
"Dokter Anton, Anda sudah sampai," sapa Alam dan Anton menundukkan kepalanya hormat.
"Terima kasih Dok," ucap Anton, dia sangat berterima kasih karena Alam sudi memanggilnya kembali ke rumah sakit ini. Kembali bekerja disini adalah impiannya.
Sementara Alam hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, kemudian segera pergi dari sana. Dia sudah tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan istri berserta anaknya.
Anton tetap berdiri disana, terus memperhatikan mobil Alam hingga menghilang. Hari ini dia belum bekerja, masih ingin menyapa semua rekan-rekannya dan menyusun ruang kerja.
Hampir 9 bulan pergi dari rumah sakit ini Dan rasanya begitu rindu.
"Dokter Anton!" pekik beberapa perawat saat melihat Anton memasuki ruang IGD.
Anton tersenyum lebar, sangat bersyukur dia masih di sambut hangat.
Ramai-ramai itu pun mencuri perhatian Maura yang tidak sengaja lewat. Dia menghentikan langkah dan sedikit melongok untuk melihat sisi dalam IGD, sampai akhirnya terlihat oleh dia ada Anton disana.
Bibirnya tersenyum tipis, senyum miring.
Dengan langkah penuh percaya diri, Maura pun menghampiri Anton, membuat para perawat yang sedang mengelilingi Anton seketika bubar.
Dan saat Anton berbalik, tatapannya langsung bertemu dengan dua mata milik Maura.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Maura, saat mengatakan itu dia melipat kedua tangannya didepan dada, seolah sedang menunjukkan kekuasaan.
"Dokter Alam memanggil saya."
"Benarkah? Aku belum mengetahui tentang itu."
"Anda bisa menanyakannya langsung pada beliau. Saya bahkan membawa surat kembali." Anton mengeluarkan berkas dari tas yang dia bawa, mengambil selembar kertas pindah tugas resmi.
Melihat itu Maura mengerutkan dahi, pasalnya Alam tidak sedikitpun berbicara padanya tentang ini. Maura masih merasa jika dia memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan rumah sakit, padahal kini dia tidak punya hak apa-apa. Semenjak sahamnya dijual pada Daniel, hak istimewanya pun telah hilang.
Terlebih daftar pemegang saham terbaru sudah diperbarui, tidak ada lagi nama Maura Thomson disana.
Dengan sedikit kesal Maura mengembalikan kertas itu pada Anton. Tapi dia tidak bisa pergi dengan harga dirinya yang terluka seperti ini. Maura kembali buka suara ...
"Ku harap mulai sekarang kamu tahu harus berdiri di belakang siapa. Bukan dokter Anna yang membuat mu terusir seperti kemarin," ucap Maura dengan suara pelan dan penuh penekanan. Ingin Anton tahu bahwa sejak dulu hingga kini dialah yang berkuasa di rumah sakit ini.
Anton tidak menjawab, juga tidak memberikan respon apapun.
Setelah mengatakan itu Maura pergi, sementara Anton tersenyum miring.
Aku tidak akan jatuh di lubang yang sama dokter Maura, jadi jika Anda ingin kembali jatuh, jatuhlah sendirian. Batin Anton.
Setelahnya dia kembali tersenyum, kembali menyapa semua rekannya dan segera menuju tuang kerja lamanya. Hari ini begitu indah bagi Anton dan tidak ingin pertemuannya dengan Maura merusak semuanya.