
Jam 5 sore harusnya Maura pulang, karena dia bukanlah dokter jaga yang harus tetap berada di rumah sakit pada jam-jam tertentu.
Maura datang saat jam kerja dan apabila dalam keadaan darurat baru dia dipanggil.
Tapi malam ini Maura sengaja tetap tinggal, karena ada yang ingin dia lakukan. Memastikan sendiri apakah Anna memiliki trauma darah atau tidak.
Dengan membawa dua kantung darah di tangannya, Maura mendatangi ruangan Anna. Malam itu Anna masih disana, belum menuju IGD.
"Dokter Anna, katung darah ini sekalian nanti di bawa ke ruang IGD."
"Hem, letakkan saja disitu," jawab Anna, menunjuk meja dengan ekor matanya. Dengan Maura dia memang semaunya, karena sudah bilang rasa hormat.
Anna kembali meminum suplemen makanan untuk membuat tubuhnya tetap bugar.
"Apa yang kamu minum?" tanya Maura penasaran.
"Obat kuat," jawab Anna ngawur, menjawab dengan senyum yang merekah, membuat Maura sungguh geram.
Selesai meminum obat itu, Anna langsung mengambil 2 kantung darah di atas meja, dengan santainya dia membawa kedua kantung darah itu tanpa menunjukan gejala-gejala takut.
Maura sedikit memicingkan mata, harusnya jika memiliki phobia darah, maka darah dalam bentuk apapun akan tetap takut.
"Untuk apa Anda masih disini? cepat keluar, ruangannya may ku kunci," usir Anna saat dia sudah tiba di ambang pintu namun Maura masih berdiri de depan mejanya dan menatap dia dengan tatapan entah.
Maura yang tidak mendapatkan apa yang dia mau pun semakin kesal dibuatnya, harusnya Anna takut melihat kantung darah itu. Atau setidaknya tubuhnya sedikit gemetar, tapi kini tidak ada tanda-tanda itu sedikitpun.
Maura tidak tahu, jika Anna sudah 90 persen sembuh. Kini ketakutannya hanya pada keadaan tertentu, keadaan yang membuatnya ingat pada kecelakaan itu. Tapi jika darah seperti ini, ataupun darah yang keluar dari luka, dia akan baik-baik saja.
Maura lantas keluar dengan raut wajahnya yang masam, sementara Anna langsung mengunci pintunya rapat.
Meski melangkah di depan, Maura masih mampu mendengar Anna yang sedikit bersenandung diantara langkah kakinya itu, menyebalkan sekali.
Padahal Anna sengaja membuat Maura tidak nyaman dengan semua ulahnya. Anna pun terkekeh, lalu tawa itu hilang saat ada seseorang menarik tangannya lalu masuk ke dalam sebuah ruangan.
Hemp! mulut Anna di bekap, matanya langsung melihat Alam yang memberinya isyarat untuk diam.
Sementara di luar sana Maura langsung bingung, saat melihat tidak ada lagi Anna di belakangnya.
"Ih, kemana wanita miskin itu? bukannya tadi ada dibelakang ku? kenapa sekarang tidak ada?" tanya Maura bertubi, bertanya pada dirinya sendiri. Mendapati tidak ada Anna, dia menelan ludahnya kasar.
Padahal jelas tadi dia dengar Anna yang menyanyi, lalu dimana Anna kini?
Ketidak adaan Anna itu cukup membuat Maura takut, apalagi saat Maura mulai mendengar suara-suara yang terasa janggal.
Suara desahaan diantara sepi ini.
Dengan segera, Maura pun berlari menjauh dari sana.
Dan di salah satu ruangan di lorong itu, Alam menyesap bibir sang istri, juga tangannya yang mulai berkelana kemana-mana. Sebelum Anna mulai kerja jaga shift Malam, Alam memang selalu melakukan ini. Katanya memberi Vitamin untuk sang istri versi dia.
"Sayang, pelankan suaramu, nanti ada yang dengar," bisik Alam saat Anna mendesaah cukup keras.
"Susah sayang, suaranya keluar sendiri."
"Kalau begitu gigit leher ku."
Anna menurut, disaat Alam mulai menghentakknya dibawah sana, Anna langsung mengigit leher suaminya.