
Hari berlalu.
Pagi ini Anton benar-benar bersiap untuk pergi meninggalkan Rumah Sakit Medistra.
Kabar tentang kepergian nya sudah didengar oleh seluruh orang. Para perawat yang selama ini mendampingi Anton pun mulai merasa kehilangan, bahkan ada pula yang menangis menyesalkan keputusan sang direktur utama untuk mengirim Anton ke rumah sakit di pinggiran kota.
"Dokter Anton, kami akan selalu menunggu Anda."
"Dokter Anton jaga kesehatan, kapan-kapan kami akan berkunjung."
"Dokter Anton, jangan lupa bawa baju hangat. Disana sangat dingin."
Dan Anton hanya mampu tersenyum menanggapi itu semua, cukup terharu jika ternyata kehadirannya di Rumah Sakit ini sangat dihargai oleh orang lain.
Pagi itu jam 8, Anton menemui Alam untuk pamit.
Setelahnya dia keluar dari rumah sakit itu dengan membawa berkas miliknya di dalam kardus kecil.
Di parkiran rumah sakit, Anna menghampiri dengan sedikit berlari, dia juga berteriak memanggil nama Anton.
"Dokter Anton!" panggil Anna. Sampai dihadapan Anton, nafas Anna terengah. Dia bahkan sudah payah untuk menormalkan nafas itu.
"Dokter Anna," sahut Anton. Dia tersenyum melihat Anna yang menghampiri dia seperti ini.
Dan Anna mencoba berdiri tegap.
"Maafkan aku dokter Anna, aku akan menebus kesalahan ku dengan benar, jadi aku mohon kali ini maafkan aku," pinta Anton sungguh-sungguh, saat mengatakan itu dia coba tersenyum. Ingin membuat perpisahan ini tidak terasa menyedihkan untuknya.
"Aku sudah memaafkan anda dokter Anton, ku pastikan Anda akan kembali ke rumah sakit ini lagi." jelas Anna dan Anton terkekeh.
Anna selalu saja seperti itu, optimis dengan semua kemauannya. Seolah semuanya bisa dsngan mudah terjadi seperti membalikkan telapak tangan.
Tapi Anton sangat tahu, ini tidak akan semudah itu. Anton sudah merasa jika setelah pergi, Maura tidak akan membiarkan dia untuk kembali.
"Benarkah?" tantang Anton dengan senyumnya yang semakin lebar.
"Tentu saja, rumah sakit ini adalah milik ku."
Anton tergelak keras. Padahal saat mengatakan itu Anna memasang wajahnya serius, tapi Anton malah menilainya sedang bercanda.
"Tapi sepertinya Anda sedang meremehkan saya?"
Anton kembali tertawa, berbicara dengan Anna sungguh membuat beban pikirannya hilang.
"Saya harus pergi, menuju rumah sakit disana butuh waktu 4 jam," ucap Anton setelah tawanya mereda dan Anna menganggukkan kepalanya.
Mereka berpisah, Anna masih berdiri dan terus melihat mobil Anton yang menjauh.
Dan saat berbalik Anna langusng dibuat terkejut ketika melihat di ujung sana ada seorang pria yang menatapnya tajam.
Alamsyah Dude.
"Astaga, matanya itu mengerikan sekali," gumam Anna. Dia sedikit berlari dan menghampiri Alam. Kini mereka berada di depan pintu lobby rumah sakit.
"Apa kamu sedih dokter Anton pergi?"
"Jangan cemburu disini, banyak yang lihat," bisik Anna.
"Aku tidak peduli."
"Peduli saja, ayo kita masuk." Anna menarik ujung jas Alam dan membawanya masuk. Interaksi keduanya tetap saja jadi pusat perhatian semua orang.
Anna bisa tenang saat dia dan Alam sudah berada di dalam lift.
"Huft lega," ucap Anna tanpa sadar.
"Kamu dengan Anton berani tertawa bersama didepan umum, kenapa denganku tidak?" tanya Alam, pertanyaan tidak masuk akal mulai keluar ketika sedang cemburu seperti ini.
"Jadi, pilih tertawa di tempat umum atau bermesraan di tempat tersembunyi?" tanya Anna dengan suaranya yang menggoda.
Seketika luruh sudah cemburu Alam. Dia sangat lemah saat Anna mulai menggoda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...