
Dengan nafas yang masih terengah, Anna keluar lebih dulu dari ruangan itu. Di dahinya pun nampak sedikit peluh, cukup terlihat basah.
Ini memang hal gila yang pernah Anna lakukan seumur hidupnya, bagaimana dia dan Alam selalu memadu kasih dimanapun tempat berada. Tapi entah kenapa dia pun menyukainya, sangat menikmatinya. Rasanya malah terasa lebih nikmat dibandingkan ketika mereka melakukannya di atas ranjang. Debaran itu semakin dia rasa dengan jelas.
Anna benar-benar sudah jatuh ke pelukan Alam, kini dia mulai bisa mengatakan jika dia mencintai suaminya itu.
Tidak berselang lama setelah Anna keluar, Alam pun menyusul. Bibir nya tersenyum lebar saat dia keluar dari ruangan temaram itu. Salah satu saksi bisu bukti cintanya kepada Anna.
Dengan langkah pasti, Alam kembali masuk ke dalam ruangannya. Beberapa hari lalu dia mendapatkan kabar dari Samantha jika ada seseorang yang mencari tahu tentang masa lalu Anna.
Alam tidak tinggal diam, dia pun mencari tahu siapa orang itu. Malam ini juga orang suruhannya akan datang membawa informasi tersebut.
Belum sampai di ruangannya, ponsel Alam yang berada di saku celana bergetar. Dia pun menghentikan langkah dan merogoh ponsel itu, dilihatnya sebuah panggilan masuk dari nomor baru.
Tanpa pikir panjang, Alam menjawabnya.
Dan belum sempat Alam berucap, seseorang di ujung sana sudah lebih dulu buka suara.
"Berkas yang Anda minta sudah saya letakkan di atas meja Anda Tuan, maaf saya tidak menemui Anda," ucap pria itu.
Alam tidak menjawab, dia langsung memutuskan sambungan telepon itu dan bergegas masuk. Dengan langkah lebar dia menuju meja, melihat sebuah amplop coklat besar diatas sana. Berkas yang tadi belum ada saat dia pergi.
Dengan tergesa Alam membuka berkas itu, sungguh dia ingin segera tahu siapa orang yang sudah berani-beraninya menyelidiki masa lalu sang istri.
Alam merobek amplop coklat itu dan melihat sebuah foto yang jatuh.
Foto Maura.
Kedua mata Alam melebar, mulai betanya-tanya kenapa Maura melakukan ini semua?
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Alam. Selama ini Anna memang tidak pernah bercerita apapun tentang Maura.
Semuanya Anna simpan sendiri.
Tahu jika Anna akan tetap diam, maka Alam memutuskan untuk mencari tahu semuanya sendiri.
Jam 10 malam saat itu dia memanggil sang asisten pribadi untuk datang ke ruangannya.
Deril yang sudah pulang pun segera bergegas datang ke rumah sakit. Untuk urusan manajemen rumah sakit dan semua perintah Alam di luar medis, Deril adalah orang kepercayaan Alam.
Tapi tentang status Anna dan Alam, Deril pun tidak mengetahuinya. Tugasnya hanya menjalankan semua perintah sang Tuan, tanpa mengusik ranah pribadi tuannya itu.
15 menit kemudian Deril datang dan menghadap.
"Selidiki hubungan antara dokter Anna dan dokter Maura, sejak pertama kali Anna datang ke rumah sakit ini ..."
"Aku tidak memberimu banyak waktu, selesai kan dalam 1 hari."
"Baik Tuan," jawab Deril patuh.
Selepas kepergian Deril, Alam merobek semua berkas tentang Maura di atas mejanya. Lalu membuangnya ke dalam tong sampah kecil di salah satu sudut ruangan.
"Siapapun yang mengusik Anna, dia akan berususan dengan ku," geram Alam.
Tidak peduli meski dimasa lalu Maura adalah temannya, tapi kini ketika Maura menggangu Anna maka Alam pun akan menghancurkan dia.