
Jam 10 malam lewat 15 menit, Alam menyudahi pekerjaannya. Dia menghampiri Anna yang sudah membaringkan tubuh diatas sofa, kedua tangannya sibuk memainkan ponsel. Menggulir layarnya membuka sosial media.
Tanpa permisi, Alam langusng ikut berbaring, memeluk tubuh istrinya erat. Lebar sofa ini cukup untuk menampung tubuh mereka berdua.
"Sudah selesai?" tanya Anna.
"Hem."
Alam menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher sang istri. Sesekali mencium dan menhirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.
"Sudah main ponselnya, ayo tidur."
"Aku masih mengirim pesan untuk temanku di LN, tunggu sebentar."
"Temanmu yang mana? bukannya teman mu hanya Tissa."
"Ada yang lain, aku tidak se kuper itu."
"Apa kuper?"
"Kurang pergaulan."
Alam tidak menanggapi lagi, disaat istrinya sibuk berbalas pesan dia pun sibuk membuka kancing baju kemeja sang istri, hingga kedua bogkahan daging lembut itu terlihat begitu jelas dihadapan matanya.
Alam terpana, tanpa menunggu lama dia langsung menciumi keduanya. Anna menggeliat merasa geli, tapi Alam tidak peduli. Hingga akhirnya Alam menguluumnya salah satu.
"Al.."
"Bukan kah aku sudah bilang akan memakan mu?"
"Tapi jangan sekarang, aku masih mengirim pesan."
"Ya sudah kirim saja, jangan menganggu ku."
Setelahnya Alam sibuk dengan urusannya sendiri, membuat istrinya polos diatas sofa itu. Anna pun dengan segera menyudahi tukar kabarnya, dia langsung menarik wajah sang suami yang sedari tadi menyesapi dadanya.
Anna menariknya hingga nereka berciuman. Penyatuan bibir hingga akhirnya penyatuan diri. Desahaan lembut Anna terdengar memenuhi seisi ruangan ini. Alam pun terus berpacu menikmati penyatuan mereka.
Dan dihentakkan yang paling dalam, Alam menyemburkan semua benihnya di dalam sana.
Mereka saling memeluk, sama-sama bernafas dengan terengah.
"Apah?"
"Aku mencintaimu."
Alam kembali mencium bibir Anna, siap memulai permainan kedua.
Di tengah malam, Anna terlelap lebih dulu. Sementara Alam terus menatap lekat wajah cantik istrinya. Mereka sama-sama polos, berlindung dibawah selimut tipis yang ada di ruangan Alam.
Tubuh Anna penuh dengan bercak merah sisa-sisa kecupan Alam yang keras.
"Aku sangat mencintaimu An, sangat." gumam Alam. Dia pun memikirkan banyak cara, bagaimana caranya agar phobia Anna bisa sembuh 100 persen.
Pagi datang.
Seperti biasa Alam akan bangun lebih dulu.
Sementara Anna masih meringkuk di bawah selimut itu dengan tubuhnya yang polos. Alam pun tetap membiarkan ruangan ini acak-acakan karena ulah mereka semalam. Alam tidak ingin membersihkan dan menganggu tidur Anna.
Mulai hari ini Anna akan menjalani hukumannya, menjadi dokter jaga selama 2 shift, siang dan malam.
Karena itulah Alam tetap membiarkan istrinya banyak tidur di pagi hari.
Selagi menunggu Anna, Alam menghubungi dokter Samantha melalui pesan singkat.
Alam menceritakan tetang apa yang terjadi pada Anna kemarin. Alam juga mengatakan jika kini hubungan diantara mereka semakin dekat.
Selama ini Anna memang mengharapkan anda untuk datang, tapi Anda tidak pernah memperlihatkan diri. Dia membenci Anda karena itu. Dan dengan kebersamaan kalian, ku rasa akan sangat mudah rasa benci berubah jadi cinta.
Bagaimana dengan trauma nya dok?
Untuk mengalihkan rasa takut itu, Anna harus punya perasan yang lebih pada hal lain. Jadi sekarang buatlah Anna sangat mencintai Anda. Setelahnya dia akan melakukan apapun untuk Anda, termasuk melawan rasa takut itu.
Alam terus melihat layar ponselnya, membaca berulang pesan Samantha. Sampai akhirnya perhatian dia beralih saat mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar.
Alam sedikit terkejut, pasalnya Anna masih tidur nyenyak dengan tubuhnya yang polos diatas sofa.
"Sial, siapa itu." gumam Alam.
Dia mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu, siap untuk membuka ...