
Beberapa perawat yang berada di luar lift langsung menunduk memberikan hormat saat melihat di dalam sana ada sang direktur utama.
Dan Alam hanya menganggukkan kepalanya kecil sebagai balasan. Sama-sama memasang wajah dingin, Alam dan Anna akhirnya keluar dari lift itu. Mereka mengambil jalan yang berbeda, Alam ke sisi kiri dan Anna ke sisi kanan.
Tidak ada lagi pembicaraan atau pun isyarat apapun, mereka berdua benar-benar terlihat seperti orang asing.
Tapi meski begitu, kebersamaan mereka berdua tetap saja jadi bahan pembicaraan.
Mulai di jodoh-jodohkan dan membuat Maura geram.
Waktu berlalu.
Sudah 1 bulan Anna bekerja di rumah sakit Medistra, selama itu juga belum ada yang tau siapa identitas Anna yang sesungguhnya.
Anna dan Alam pun semakin lihai menyembunyikan status mereka. Hanya sapaan hormat dan tidak ada komunikasi apapun jika ditengah keramaian. Anna juga selalu menyelesaikan masalahnya sendiri, dia tidak pernah melibatkan Alam.
Anton pun benar-benar sudah berubah, kini dia lebih mendahulukan pasien dari segala urusan apapun. Perubahan Anton itu tidak lepas dari pengamatan Anna.
Meski hubungan mereka tidak sebaik dulu, namun dalam sudut hati Anna dia sudah mulai bisa memaafkan Anton.
Tapi tidak dengan Maura, perselisihan Anna dan Maura makin menjadi-jadi. Maura bahkan selalu merebut pasien yang hendak berobat dengan Anna.
Sebagai dokter aktif, mereka juga mempunyai target banyaknya jumlah pasien yang ditangani tiap bulan. Kemudian grafik penanganan mereka akan menjadi bahan penilai dokter terbaik tahunan.
Awalnya Anna diam saja saat Maura mengambil alih pasien dia, tapi lama-lama Anna geram juga. Dia ingin mendatangi ruang kerja Maura dan meminta wanita tua itu untuk menghentikan kegilaan ini.
Dengan rahang mengeras dan langkah kaki yang lebar Anna terus berjalan. Tapi sial, di ujung jalan malah ada seseorang yang menarik tangannya kuat.
Membekap mulutnya dengan cepat dan membuatnya terpojok di balik dinding.
Anna ingin berontak, namun urung saat dia melihat wajah suaminya sendiri. Anna mengigit tangan yang membekap mulut dia, membuat Alam langsung menarik tangannya. Dan kembali menutup bibir Anna dengan sebuah ciuman.
Anna tidak tinggal diam, dia mulai membuka mulut dan membalas.
"Mau kemana? kenapa wajahmu kesal sekali?" bisik Alam setelah dia melepaskan ciumannya. Di sudut ini mereka aman dari cctv. Tidak ada pula pengunjung rumah sakit yang berkeliaran.
"Apa perlu aku membantu mu?"
"Tidak perlu, cukup jauhi kami berdua. Kalau kamu membantu ku, pasti dokter Maura akan semakin membenci ku."
"Kenapa?"
"Karena dia menyukai kamu, memangnya kamu tidak sadar? ish, dasar kanebo kering."
"Apa katamu?"
"Kanebo kering."
Alam meremaas dada Anna sebagai hukuman dan Anna menganga, menahan diri agar tidak mendesaah, dia hanya mampu mendelik menatap tajam sang suami.
"Jangan lakukan disini!" bisik Anna dengan suaranya yang menekan.
"Kalau begitu cepat selesaikan urusanmu, setelah itu datang ke ruanganku."
"Apa alasannya kalau Tissa tanya?"
"Pikirkan saja sendiri." Setelah mengatakan itu Alam kembali mengecup bibir Anna, meremaas kuat dada istrinya dan segera pergi lebih dulu dari sana.
Meninggalkan Anna yang nafasnya masih terengah. 3 kancing baju atasnya terlepas gara-gara Alam.
Buru-buru Anna membenahi penampilannya dan ikut keluar juga.
Berjalan seperti biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...