
Maaf ya kalau banyak typo, agak oleng di puasa pertama.
Happy reading.
Anna masih saja merasa kesal meski Alam sudah membelanya di depan Maura.
Sampai shitf jaganya habis di jam 9 malam, dia masih saja berwajah masam. Sementara Alam malah bingung, kenapa lagi istrinya ini murung seperti itu?
Di mobil yang melaju pulang, Alam terus melirik istrinya. Dan semakin menghadap ke arah Anna saat mobil itu berhenti di lampu merah.
"Sayang, ada apa dengan mu? kenapa dari tadi diam terus?" tanya Alam, tapi Anna malah semakin mencebik.
Tadi siang Alam memang membela Anna, tapi Anna tidak suka melihat tatapan Alam pada Maura. Seolah tatapan itu begitu dalam di matanya.
Padahal sungguh, itu hanya tatapan biasa. bahkan terkesan mengintimidasi agar Maura tidak menganggu Anna.
Tapi entahlah, di mata Anna semuanya terasa berbeda, dia tidak suka.
"Kalau kamu tidak bicara, bagaimana aku bisa tahu," ucap Alam sekali lagi, dia pun menyentuh satu tangan Anna dan menggenggam nya.
"Aku tidak suka tatapan mu pada dokter Maura," jawab Anna ketus, ketus seperti dulu pertemuannya pertama kali dengan Alam.
"Astaga, ku kira ada apa. Baiklah maafkan aku, mulai sekarang aku tidak akan menatap mata wanita manapun lagi," balas Alam langsung, kini dia sudah mulai paham dengan suasana hati Anna yang sering berubah-ubah hanya karena hal sepele. Karena itulah dia ingin segera menyudahinya tanpa diperpanjang.
Dan benar saja, mendengar jawaban Alam itu akhirnya Anna mulai bisa tersenyum kecil.
"Benarkah? janji?"
"Iya, Janji."
Dan semenjak janji itu terucap mulai banyak janji janji lainnya yang Alam berikan untuk sang istri. Waktu berlalu dan setiap Anna marah Alam akan selalu berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Kata Marleen gejala mood swing ini biasanya akan menghilang ketika kehamilan berusia 3 bulan.
Jadi Alam harus bertahan 1 bulan lagi, terus mengalah demi membuat suasana hati Anna tetap bahagia.
Di rumah sakit.
Saat ini sedang ada rapat 3 bulanan khusus untuk dokter bedah, baik dokter bedah spesialis ataupun bedah umum.
Anna pun menghadiri rapat itu, membuatnya harus berangkat pagi meski shift jaganya siang.
Di tengah rapat yang sedang berlangsung tiba-tiba Anna merasa mual. Dia coba tahan agar tidak muntah. Tapi tetap saja tidak bisa, rasanya malah menumpuk di tenggorokan.
Dengan menutup mulutnya, Anna langsung berlari keluar dari ruang rapat itu sebelum sempat mengucapkan kata permisi.
Sontak saja aksinya itu mencuri perhatian semua orang, termasuk Alam yang langsung jadi cemas.
Dia pun segera bangkit dan menyusul istrinya, namun dengan cepat Deril menahan. Deril tahu jika Alam peduli pada wanita itu, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menunjukan perhatian.
"Permisi, saya akan periksa dokter Anna, sepertinya beliau sakit," ucap salah seorang dokter wanita yang ada di ruangan itu.
Dokter yang bernama Sabrina itu pun keluar mencari keberadaan Anna. Berada di satu departemen bedah, membuat mereka semua saling mengenal. Karena itulah Sabrina pun peduli pada Anna.
Selepas Sabrina pergi rapat pun kembali dilanjutkan. Meski salah satu pesertanya mulai tidak fokus, dialah Maura.
Dalam diam dia terus menatap ke arah Alam. Mulai membayangkan hal yang tidak-tidak, mulai mengira jika Anna hamil anak pria itu.
Pria yang dia cintai.
Tidak mungkin. batin Maura.