
"Hubungan mu dengan Anton sudah membaik?" tanya Alam pada sang istri.
Kini dia dan Anna sudah tiba dirumah, berjalan beriringan menuju pintu rumah mereka.
Anna mengambil kunci dan membukanya.
"Baik bagaimana?" tanya Anna.
"Tadi aku lihat kalian mulai dekat di meja absen ruang IGD."
"Oh, biasa saja sih."
Alam yang tidak puas dengan jawaban istrinya itupun langsung memukul bokong Anna, hingga terdengar nyaring...
Plak!
"Iiiss mesyum," kesal Anna, dia mencubit tangan Alam itu. Membuat Alam langsung terkekeh dan memeluk istrinya erat, kini mereka sampai di ruang tengah. Alam bersandar di pinggiran Sofa dan memeluk pinggang Anna.
"Aku tidak masalah kamu berteman dengan Anton, tapi jangan terlalu dekat," ucap Alam. Satu tangannya mengelus punggung Anna dengan sayang.
"Terlalu dekat itu bagaimana? seperti ini?" tanya Anna, juga langsung praktek. Dia mendekatkan wajah hingga hidung mereka saling menempel. Dan saat itu juga Alam langsung meremaas bokong istrinya kuat.
Anna melenguh terkejut, namun terdengar seperti desahaan di telinga Alam. Belum lagi tatapan mereka yang saling bertemu, makin menambah hangat keadaan malam ini.
"Jangan membuatku cemburu," ucap Alam lagi.
"Kalau kamu cemburu memangnya kenapa? bukannya bagus?"
"Kalau aku cemburu aku ingin memakan mu."
"Kalau begitu gigit aku," tantang Anna dengan suaranya yang menggoda. Anna tahu, cemburu itu rasanya tidak nyaman, karena itulah kini dia berubah nakal untuk menghapus rasa cemburu suaminya.
Anna membuka kancing bajunya secara perlahan, memperlihatkan isinya tanpa malu-malu.
"Gigit aku," pinta Anna, membuat Alam langsung berhasrat saat itu juga.
Tidak perlu sampai di kamar, diatas Sofa ruang tengah itu mereka saling menyatu, bersenggama memberikan sentuhan paling memabukkan.
Malam berganti dan pagi pun datang.
Hari ini hujan turun tanpa permisi.
Anna dan Alam masih saling memeluk dibawah selimut.
"Dingin," ucap Alam, dia memeluk tubuh polos istrinya erat. Membuat kulit mereka saling menempel satu sama lain, memberikan kehangatan yang sempurna.
"Dingin, dan ini sangat hangat," balas Alam.
"Lebih baik kita bangun, aku takut jalanan macet dan kita nanti malah datang terlambat ke rumah sakit." ucap Anna, tapi Alam malah menurunkan tangannya dan bermain di lembah hangat itu.
"Aw, Alaaam, jangan lakukan itu!"
"Sekali lagi, setelah itu kita pergi," tawar Alam.
"Semalam kan sudah banyak."
"Aku sedang kejar setoran."
"Setoran apa?"
"Setoran benih."
"Iish!"
Pergumulan pun terjadi lagi, awalnya pun Anna mengeluh lelah, namun saat tubuhnya mulai berdesir, dia akhirnya menikmatinya juga.
Jam 11 siang, Anna dan Alam sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Hujan turun semakin deras, langit pun nampak hitam mendung. Melihat warna awan itu membuat semua orang tahu jika hujan mungkin akan terus berlanjut hingga malam tiba.
Dan benar seperti dugaan Anna, saat ini jalanan mulai macet. Dibeberapa titik mereka bahkan terhenti, menunggu giliran untuk lewat. Perjalan mereka terhalang oleh banyaknya genangan air yang mulai tercipta.
"Apa tidak ada jalan pintas?" tanya Anna. Dia dan Alam memutuskan untuk pergi menggunakan 1 mobil, Alam tidak tega melihat istrinya menyetir sendiri dalam keadaan seperti ini.
"Ada, tapi aku yakin disana juga macet, lebih aman kita lewat jalan utama saja."
Anna mengangguk.
Biasanya perjalanan ke rumah sakit paling lama nereka hanya butuh waktu 20 menit. Tapi kini mereka membutuhkan waktu yang lebih banyak, 1 jam 30 menit.
"Aku turun dulu," pamit Anna saat mobil mereka sudah berhenti di parkiran rumah sakit.
"Cium dulu."
Anna menurut, sebelum keluar dan menembus hujan, dia lebih dulu melumaat bibir suaminya dan memberikan kehangatan. Juga menciptakan decapan di ruang sunyi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...