
Saran. Kalau mau baca 3 bab langsung bacanya malem aja ya, soalnya aku ngetiknya satu satu trus rebahan dulu, tapi diusahan sehari selalu 3 bab 😖
Hingga jam 7 malam tiba Anna dan Alam masih saling mendiami, dan bekerja dalam keadaan seperti ini sungguh tidak terasa nyaman bagi keduanya. Pikiran mereka terus saja tertuju pada satu sama lainnya dan itu sungguh menganggu.
Disaat tidak ada lagi pasien Anna memilih duduk di salah satu kursi tunggu khusus dokter tunggu di ruang IGD, dia melamun dan memikirkan banyak hal. Dan semua yang terlintas dibenaknya adalah tentang keegoisannya sendiri pada sang suami.
Selama ini Alam selalu mengalah padanya, selalu mengerti dengan semua kemarahannya yang kadang tidak berdasar.
Menyadari itu Anna jadi murung, terlebih saat ingat tadi dia memotong ucapan Alam dengan tidak sopan. Padahal Alam hanya ingin menjelaskan dan membuatnya tenang.
Maafkan aku Dad, aku salah.
Anna mengelus perutnya yang tiba-tiba terasa kram, jika sudah seperti ini biasanya hanya akan mereda saat Alam mengelusnya.
Dan kini pun sama, Anna ingin sekali suaminya itu segera mengelus perutnya dengan sayang.
Anna lantas merogoh ponselnya di saku jas dan coba menghubungi Alam, tapi sayang panggilannya tidak terjawab.
Tidak ingin rasa sakit dan masalah ini semakin berlarut-larut, akhirnya Anna memutuskan untuk menemui sang suami di ruang kerjanya. Dengan perlahan Anna bangkit, memijat sejenak pinggangnya dan kemudian berjalan pelan-pelan.
Namun langkah Anna terhenti di salah satu lorong saat dia melihat Alam pun berjalan menghampiri dia. Alam tidak menjawab panggilan Anna bukan karena sibuk atau menghindar, namun dia meninggalkannya di ruangan sementara dia ingin menemui Anna.
Dan akhirnya kini mereka bertemu di pertengahan.
Anna berhenti sementara Alam terus melangkah mendekat, sampai di hadapan Anna dan Alam langsung menarik istrinya pelan untuk bersembunyi.
"Dad, maafkan aku," ucap Anna langsung dengan suara yang cukup pelan, namun Alam masih mampu mendengarnya dengan baik.
Dan Alam tidak menjawab ucapan Anna itu dengan kata-kata, dia langsung saja mencium bibir istrinya. Ciuman dalam yang saling membalas. Satu tangan Alam pun mengelus perut istrinya dengan sayang, membuat Anna begitu tenang.
"Maafkan aku Mom, tidak seharusnya aku mendiamkanmu."
Di tempat tersembunyi itu mereka saling memeluk dan menenangkan satu sama lain. Hingga masing-masing hati diantara mereka mulai terasa tenang. Dan kecupan singkat sebagai tanda bahwa mereka tidak lagi marahan.
"Pengangkatanan mommy bukan dibatalkan, hanya ditunda. Kalau mommy tidak percaya, mommy bisa bertanya pada dokter Rudi."
"Mommy percaya Dad, maafkan mommy."
"Setelah mommy melahirkan, kita bisa melakukan ujian itu."
Anna mengangguk.
Sst! Alam meminta Anna untuk diam saat terdengar suara derap langkah mendekat. Mereka semakin memeluk erat, berusaha tidak menimbulkan bayangan yang terlihat oleh orang lain.
Anna sangat gugup, takut ketahuan. Meski mereka sudah menikah, tapi tetap saja ini rasanya mesyum sekali.
Suara langkah kaki itu perlahan menjauh dan akhirnya Anna bisa bernafas lega.
Namun Alam kembali mencium bibirnya, membuat jantung Anna kembali berdebar hebat. Dan Alam selalu tidak bisa berhenti diciuman, dia selalu memberi banyak tanda di dada istrinya.
Cukup lama bercumbuu dan akhirnya mereka keluar dari sana, keluar dengan canggung seolah tidak terjadi apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi Author
Kala Bos Menggoda karya Novi Wu