
"Sudah bertemu dengan dokter Maura?" tanya Alam dan Anna mengangguk.
Alam duduk di kursi kerjanya dan memangku Anna, memeluk erat pinggang istrinya ini. Sementara Anna menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Mereka saling tatap.
"Kenapa memintaku datang? Aku tidak bisa lama-lama," ucap Anna, juga bertanya.
"Tidak bisa lama-lama?"
Anna mengangguk.
"Memangnya dokter jaga yang lain tidak datang?"
"Datang sih, tapi kan tetap saja tidak enak jika aku pergi terus."
"Sekali saja bersikaplah egois, kadang aku merasa mereka memanfaatkan keahlianmu. Jadi semua kasus yang sulit selalu dilempar padamu."
Anna tersenyum.
"Aku juga merasa begitu, tapi percayalah, sebenarnya mereka yang rugi. Jika seperti itu terus mereka tidak akan pernah belajar."
Kini Alam yang tersenyum, Anna selalu saja seperti itu. Melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang positif.
"Buka kancing baju atas mu," titah Alam, membuat senyum kecil Anna langusng hilang.
"Mau apa?"
"Mau itu."
"Kenapa tidak buka sendiri?"
"Aku lebih suka melihat saat kamu yang membukanya, lebih membuat ku berdesir."
"Dasar mesyum."
"Memang, cepat buka. Katamu tidak boleh lama-lama."
Dengan bibir mengerucut, Anna melepaskan jas dokter warna putihnya. Meletakkannya diatas meja Alam. Lalu dengan gerakan perlahan mulai melepaskan kancing baju bagian atas, pelan-pelan hingga terbuka 3.
"Satu lagi," pinta Alam.
Anna menurut.
"Satu lagi," tambah Alam dan lagi-lagi Anna menurut.
"Buka."
Anna membuka baju itu, memperlihatkan isinya tepat di hadapan wajah sang suami.
"Kamu sangat seksi An," ucap Alam, ucapan sederhana yang mampu membuat Anna melayang. Apalagi Alam mengatakan saat sedang menatapi tubuhnya.
Mereka sama-sama hanyut.
Sama-sama terpejam menikmati sentuhan.
Lalu langsung mendelik saat mendengar pintu ruangan itu diketuk.
Tok tok tok!
Alam melepaskan kuluumannya, sementara Anna langsung bergegas turun.
"Ah bagaimana ini?" Anna cemas.
"Tenanglah An, jangan gugup." pinta Alam, dia bangkit dan mengecup bibir Anna lalu membenahi baju istrinya.
Alam bisa tenang, tapi Anna sudah merasa seperti digerebek.
Setelah bajunya rapi, Anna membuka pintu ruangan itu. Sedangkan Alam sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.
Tatapan Anna langsung bertemu dengan manik hitam milik Anton.
Deg! Anna sangat terkejut, entahlah dalam benaknya langsung terbayang jika ulahnya dan Alam tadi ketahuan.
Tapi Anna mencoba tenang, dia membuka pintunya lebar dan sedikit menyingkir memberi akses Anton untuk masuk.
"Dokter Alam, saya permisi," ucap Anna setelah dia dan Anton kembali menghadap.
"Baiklah dokter Anna." balas Alam dengan suaranya yang datar dan raut wajah tanpa ekspresi. Anna mengangguk kecil lalu hendak berlalu. Namun kembali urung saat mendengar suara Alam yang memanggil.
"Dokter Anna, jangan tinggalkan jas Anda," ucap Alam lagi, membuat keadaan disini akhirnya jadi sangat canggung.
Kenapa Anna sampai melepaskan jas dokternya?
Kenapa jas Anna ada di meja Alam?
Dan banyak kenapa-kenapa lagi di benak Anton.
Dengan canggung yang coba ditutupi. Anna kembali mengambil Jas nya. Lalu menunduk hormat dan benar-benar keluar dari ruangan itu dengan jantung yang bergemuruh hebat.
"Ah sial, ini sangat tidak bagus untuk kesehatan jantung dan mental ku!" gerutu Anna saat dia sudah keluar.
Dilangkah kakinya yang buru-buru, Anna juga berulang kali memukuli kepalanya sendiri.
Berulang kali merutuki dirinya sendiri, bodoh bodoh bodoh bodoh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...