
Anna mengetuk pintu ruang kerja Alam. Meski status dia adalah istri, namun Anna selalu bersikap profesional. Sebelum masuk ke ruangan ini dia selalu meminta izin lebih dulu.
Saat itu Alam tidak menjawab, dia membuka pintu itu secara langsung. Menarik tangan Anna untuk masuk, lalu segera menutup dan mengunci pintunya rapat.
Di balik pintu itu Alam langsung memeluk Anna erat, sangat erat. Sementara Anna memejamkan mata, menghirup aroma tubuh suaminya yang begitu menenangkan.
"Maafkan Aku," ucap Alam lirih dan Anna hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
Ini memang bukan salah Alam, semuanya ada pada dirinya sendiri.
"Terima kasih hukumannya." ledek Anna, dia mendongak dan menatap sang suami, kini bibirnya mulai tersenyum kecil.
"Aku akan menemani mu saat jaga malam."
"Kamu tidak pulang?"
Alam menggeleng.
Anna lantas berjinjit dan menjangkau bibir suaminya, mencium dalam-dalam bibir sang suami. Dan Alam membalas itu dengan begitu lembut.
Memberikan sentuhan yang begitu menenangkan.
Puas saling menyesap, ciuman itu terlepas. Bibir mereka sama-sama basah.
"Mommy dan Daddy sangat menginginkan aku menjadi seorang dokter ahli bedah, tapi memiliki phobia ini apa aku masih bisa mewujudkan keinginan mommy dan daddy itu Al?" tanya Anna, dengan tatapannya yang kosong dan menatap Alam lekat.
"Tidak ada manusia yang sempurna An, semua orang punya kelemahan dan begitu pun kamu. Tapi semua orang juga punya kesempatan yang sama untuk mewujudkan semua mimpinya."
"Tapi aku seperti melawan takdir, aku takut darah tapi harus menghadapi itu."
"Hanya dalam keadaan tertentu An, kamu sudah sembuh. di ruang operasi semuanya berjalan baik. Pelan-pelan kita coba lagi, ini tidak akan butuh waktu lama."
"Kamu akan tetap berada disisiku Al?"
"Tentu."
"Aku tidak ingin pulang, malam ini aku ingin menginap disini."
"Apapun untuk mu."
Alam mengecup sekilas bibir Anna, lalu menggendong istrinya dan membawanya untuk duduk di sofa ruangan itu.
Saat ini jam jaga Anna sudah selesai, dia juga sudah melakukan absen ganti shift sebelum datang kesini.
Alam membantu Anna untuk melepaskan jas putih itu, lalu menyimpannya di sofa yang lain.
"Cuci dulu wajahmu." Titah Alam dan Anna patuh.
Alam memesan makanan dan tak berselang lama kemudian makanan itu datang.
Alam mengambilnya sendiri didepan, tidak membiarkan siapapun untuk masuk ke dalam ruangannya.
Selesai Anna dari dalam kamar mandi, sudah ada makanan di atas meja. Anna tersenyum, jujur saja dia memang sedikit lapar.
"Kamu pesan makanan?"
"Hem, duduk dan makanlah. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku sebentar," jawab Alam, kini dia sudah duduk di kursi kerjanya.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, lagipula aku tidak mau terlalu kenyang, karena nanti aku akan memakan mu." jawab Alam dengan seringai.
Dan Anna langsung mendesis kesal, "Iihh!"
Anna lantas segera duduk dan makan, sementara Alam langsung berkutat di depan komputer.
Anna sudah selesai, tapi Alam belum.
"Al?"
"Hem?" jawab Alam, matanya masih tertuju pada komputer, ingin pekerjaan ini cepat selesai dan bisa segera menemui istrinya.
"Aku tidak biasa tidur pakai bra."
"Ya sudah di lepas."
"Tapi jangan lihat."
"Hem."
Anna memperhatikan Alam lekat, melihat suaminya yang masih fokus. Dia mulai yakin, alam tidak mungkin mengintip.
Lantas dengan segera dia melepas baju, lalu melepaskan bra nya. Tubuh atas Anna polos, dan Alam yang diam-diam melihat itu mengulum senyum, sangat menggoda.
Anna yang tidak tahu mata nakal suaminya, langsung buru-buru memakai bajunya kembali.