
Seminggu berlalu.
Hukuman yang Anna jalani bukanlah hukuman yang mudah, dua waktu shift jaga membuat waktu istirahatnya benar-benar berkurang.
Sejak hari pertama hingga kini Alam juga selalu menginap di rumah sakit menemani sang istri secara tidak langsung.
Disaat Anna tengah sibuk menjalani hukumannya, Maura pun juga sibuk mencari tahu tentang masa lalu Anna dan kaitanya dengan keluarga Dude.
Tapi sayang, tentang Anna di masa lalu tidak bisa dia dapatkan sepenuhnya. Yang bisa Maura tahu hanya tentang pendidikan Anna.
"Kenapa kamu tidak bisa mendapatkan informasi yang lebih banyak? ini masih kurang!" bentak Maura pada seorang pria suruhan ayahnya.
"Kalau tentang pendidikannya aku juga sudah tahu!" bentak Maura lagi.
"Jawab! jangan cuma diam saja! kenapa kalian sampai tidak bisa mencari informasi tentang wanita itu!"
"Maaf Nona, sepertinya wanita itu memiliki orang belakang yang sangat berpengaruh, karena itulah informasi tentang dia di masa lalu terjaga dengan ketat."
"Omong kosong! jawaban apa itu, dia hanyalah wanita miskin!" bentak Maura, tidak terima saat anak buahnya mengatakan jika Anna memililki pendukung yang berpengaruh.
Maura kembali membaca dokumen itu dan mulai tertarik akan satu hal. Selama menjalani pendidikan, Anna juga sering berkunjung ke salah satu rumah sakit di LN.
Rutin seolah sedang menjalani pengobatan.
"Kenapa informasi yang kamu beri ini tidak jelas! menyebalkan sekali. Kenapa dia selalu pergi ke rumah sakit itu? apa dia sakit?"
"Maaf Nona, informasi itu tidak bisa saya dapatkan."
Maura terus memperhatikan berkas-berkas itu, sungguh perhatiannya hanya tertuju pada rutinnya Anna datang ke rumah sakit.
Dia terus berpikir sebenarnya apa yang terjadi pada Anna? jika sakit? sakit apa?
Maura terus berpikir sampai akhirnya dia teringat akan sesuatu, tentang dugaannya beberapa hari lalu saat Anna mendapatkan masalah ketika menangani pasien kecelakaan.
Anna yang nampak ketakutan ketika melihat pasien itu.
Di ruangan Alam Maura sempat bertanya apakah Anna memilili phobia darah atau tidak? Tapi saat itu Maura tidak mendapatkan jawaban apapun, karena Alam sudah lebih dulu memotong pembicaraannya.
Menyadari itu membuat Maura akhirnya menduga-duga, mulai teringat pula jika Anna memang tidak pernah membersihkan darah yang berlebih di tubuh pasien. Jika ada keadaan seperti itu, pasti Tissa yang lebih dulu menangani.
"Apa benar jika Anna memiliki phobia darah?" tanya Maura dengan bergumam, dia terus menerka-nerka.
"Tapi bagaimana bisa dia lulus jadi dokter?"
"Tidak-tidak, aku harus memastikannya sendiri. Jika memang benar Anna memiliki phobia itu, aku bisa memanfaatkannya." Maura mulai tersenyum, membayangkan kejadian saat Anna ketakutan ketika melihat pasien yang berlumuran darah.
Dan senyumnya makin lebar, ketika membayangkan setelah itu Anna akan dikeluarkan dari rumah sakit.
"Ah tidak, jangan langsung dikeluarkan, aku akan membuatnya jadi dokter di daerah terpencil."
"Hahahaha." Maura mulai tertawa, rasanya memang sangat membahagiakan ketika berhasil membuang jauh wanita yang menggoda lelakinya. Setelah tawanya mereda, Maura mulai menyusun rencana. Malam ini dia akan tetap tinggal di rumah sakit, mulai memancing ketakutan Anna akan darah.