
Maaf ya kalau banyak typo, dikomen aja nanti ku revisi.
Jam 2 siang, Alam dan Anna sudah berada di rumah sakit Medistra. Mereka juga sudah menjalankan tugasnya masing-masing.
Maura pun dengan segera menemui Alam untuk menyampaikan tentang keberatannya kemarin. Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin masuk, Maura menemui Alam dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Dokter Alam, aku membawa ini," ucap Maura seraya mengulurkan berkas yang dia bawa di hadapan Alam. Maura juga duduk disana membuat keduanya saling berhadapan.
Alam membuka berkas itu dan melihat beberapa nama disana, nama-nama para pemegang saham yang memberikan kuasa pada Maura untuk membatalkan pengangkatan Anna menjadi dokter bedah spesialis. Alasanya karena Anna harusnya menjalani pendidikan formal seperti yang lainnya.
Alam juga membaca ada nama Daniel Lincoln disana.
"Baiklah, aku akan mengkoordinasikan ini pada yang lainnya," balas Alam. Dia kembali menutup berkas itu dan melihat Maura yang terus tersenyum menatap ke arahnya.
Maura tahu, Alam sangat profesional dalam bekerja. Tidak peduli jika Anna adalah wanita simpanannya namun Alam akan tetap menjalankan prosedur rumah sakit dengan sebagai mana mestinya.
Hal itulah yang membuat Maura semakin mencintai Alam.
"Terima kasih dokter Alam, aku tunggu kabar baiknya," sahut Maura. Setelahnya dia pamit undur diri dari sana.
Dan selepas kepergian Maura, Alam langsung menghubungi Rudi kepala departemen bedah rumah sakit Medistra. Mereka berdua membicarakan ini dan sepakat untuk menunda pengangkatan Anna.
Bagaimana pun kini Anna dalam keadaan tidak maksimal untuk mengadakan ujian, mengingat kehamilannya yang sudah 8 bulan, nyaris masuk ke 9 bulan.
"Dokter Anna adalah dokter terbaik yang pernah saya temui dokter Alam, kita hanya butuh waktu untuk membantu dokter Anna berada di posisi dia yang sesungguhnya." jelas Rudi, dia adalah yang paling aktif mengawasi perkembangan Anna selama di rumah sakit ini. Tiap operasi yang Anna lakukan dia akan selalu mengawasi secara langsung dari ruang cctv khusus dokter.
Bahkan Rudi lah yang mengajukan pengangkatan Anna ini, melihat bagaimana ahlinya Anna saat berada di ruang operasi.
"Baiklah Dok, kita akan batalkan pengangkatan ini," final Alam pula.
Dan hari berlalu.
Keesokan harinya saat pagi hari Alam mengadakan rapat, guna mengumumkan pembatalan pengangkatan Anna menjadi dokter bedah spesialis.
Anna tentu terpukul, terlebih selama ini dia sudah menunggu hari itu tiba.
Semalam sebenarnya Alam sudah mengatakan hal itu padanya, tapi tetap saja kini rasanya terasa sesak.
Tapi Anna selalu mencoba tegar, dia masih mengucapkan kata terima kasih untuk semua jajaran petinggi departemen bedah rumah sakit Medistra.
Dan selesai rapat itu, Anna jadi terlihat lebih dingin kepada Alam. Entahlah, kini dia sedang tidak ingin di ganggu dulu.
Anna bahkan langsung kembali ke ruangannya tanpa berpamitan menggunakan kode dengan suaminya itu.
Tapi sayang, sebelum masuk ke dalam ruangannya, dia ditahan oleh Maura
"Astaga, aku selalu ingin tertawa melihat mu Dokter Anna," ucap Maura, sebuah ucapan untuk menyindir.
"Kamu sudah mengira jika kamu berada di atas awan kan? Tapi ternyata kamu tetap saja berada di bawah kakiku," hina Maura pula. Dia bahagia sekali dengan kemenangannya ini.
Dilihatnya wajah Anna yang nampak kesal, membuat Maura langsung tertawa bahagia.
"Baiklah, aku tidak akan menganggu mu. nikmatilah hari-hari terakhir mu di rumah sakit ini," ucap Maura lagi, setelah itu dia pergi.
Dan Anna segera masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu dengan keras.
Brak!