Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 92 - Penuh Permohonan



Saran. Baca saat malam, kalau tetep baca jangan salahkan Author, haha.


Dengan menggendong baby Sha, Anna masuk ke dalam kamar anaknya, Alam pun mengikuti. Sementara Lily memutuskan untuk menunggu diluar, dia tahu disaat seperti ini tuan dan nyonya nya butuh waktu berdua.


"Lily, sini ikut mama dulu," ajak Rachel. Gadis manis ini pun segera mengangguk dan mengikuti langkah mama Rachel turun ke lantai 1.


"Biarkan saja Alam dan Anna beraama baby Sha, kalau mereka belum memanggil mu kamu bisa beristirahat, atau nonton tv, senyaman kamu saja," ucap Rachel, diantara langkah kaki mereka yang menuruni anak tangga.


"Baik Nyonya," balas Lily.


"Kamu sudah punya kekasih?"


"Hah? be-belum Nyonya," jawab Lily gugup, tiba-tiba ditanya masalah pribadi sungguh membuatnya malu. Semenjak lulus Sekolah Menengah Pertama, Lily langsung ikut kursus babysitter, 2 tahun dia mengenyam pendidikan itu dak akhirnya memutuskan untuk bekerja. Sejak usia remaja Lily sudah sibuk hingga tidak ada waktu baginya untuk berpikir tentang cinta.


Apalagi kini usianya masih 23 tahun, belum terpikir untuk menikah. Apalagi targetnya menikah saat usia sekitar 26 tahun.


"Orang tua mu tinggal dimana?"


"Di kota B."


"Kamu anak Pertama?"


"Bukan Nyonya, anak kedua."


"Oh dua bersaudara."


"Bukan Nyonya, 3 bersaudara."


"Em, adiknya satu. Masih sekolah?


"Iya."


Mereka terus berbincang, membuat Lily merasa begitu nyaman bekerja di rumah ini.


Sementara di lantai 2, baby Sha baru saja pup dan Alam sendiri yang coba membersihkannya. Semalam dia sudah melihat Lily, kini dia yakin bisa.


"Mommy tenang saja, ini hal mudah bagi Daddy."


Anna mencebik, kesal dengan kesombongan suaminya itu. Namun Anna terus melihat dan ternyata Alam bisa mengerjakannya dengan baik, bedong yang kembali dipasang oleh Alam cukup rapi seperti buatan Lily. Anna akhirnya tersenyum, suaminya ternyata bisa dibanggakan.


"Bagaimana? rapi kan?" tanya Alam, bertanya dengan nada penuh kesombongan.


Dan Anna mendengus.


Alam tersenyum, melihat istrinya kesal jadi terbesit ide usil untuk mengerjai istrinya itu.


"Sekarang Sha tidur dulu, Daddy mau minta imbalan pada mommy."


"Imbalan apa?" ketus Anna.


Dan setelah Alam meletakkan baby Sha di dalam box, dia segera kembali menghampiri sang istri dan memeluk pinggang Anna.


"Imbalan memasang bedong," ucap Alam, setelahnya dia langsung mencium bibir istrinya dengan sayang. Ciuman lembut yang lama-lama jadi ciuman dalam. Terlebih di perut Anna sudah tidak ada lagi penghalang, dan dada yang semakin besar, membuat keinginan Alam untuk melahap istrinya jadi semakin banyak.


"Dad," panggil Anna saat Alam mulai melepas ciumannya, kini kepala suaminya itu turun menciumi lehernya yang jenjang, terus turun ke bawah sana mencari sesuatu yang begitu menggoda. Sampai akhirnya dada Anna keluar salah satu.


"Mom, dari semalam aku menginginkan ini, tapi kita tidak melakukannya di rumah sakit kan? apa lagi disebelah kita ada Lily, jadi biarkan daddy menikmatinya sebentar," pinta Alam dengan raut wajahnya yang memelas, penuh penuh permohonan.


"Tapi Dad..." belum selesai Anna bicara, Alam sudah lebih dulu melahap buah itu, membuat Anna menganga tanpa suara.


Sampai akhirnya suara tangisan baby Sha menghentikan aksi Alam. Inilah yang ingin Anna katakan, bahwa anak mereka belum tidur.


"Baby Shaaaa," rengek Alam, merasa anaknya curang.


"Ini yang mau mommy bilang Dad, kalau Daddy mau biar mommy tidur kan dulu baby Sha."


Tapi Alam tidak menjawab, dia mencebik dan melipat kedua tangannya di depan dada.