
Rachel dan Firman pulang ketika waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, kini Anna dan Alam hanya ditemani oleh Lily.
Ada ranjang yang bisa digunakan oleh Lily untuk tidur, mereka di sekat dengan tirai tebal.
Alam dan Anna tidur dalam satu ranjang. Kini Anna tengah menyusui baby Sha. Tapi tidak semudah itu, baby Sha terlihat kesusahan untuk mengulumnya.
"Susah Dad."
"Tidak apa-apa, kata Lily dia juga masih belajar, yang penting terus diarahkan."
Anna mengangguk, setelah beberapa kali percobaan baru Anna merasa anaknya berhasil meminum Asi. Anna tersenyum, ada perasaan bahagia di dalam hatinya yang tidak bisa dijelaskan.
Sedari sore tadi coba mengurusi baby Sha, baru malam ini dia berhasil. Dadanya yang sudah terasa penuh akhirnya mulai terasa lebih ringan.
Anna terus tersenyum, merasa sangat lega.
"Bagimana?"
"Sudah Dad."
Alam pun tersenyum, dia mengelus puncak kepala sang istri dengan sayang, juga mencium pipi anaknya. Mereka terus terjaga sampai akhirnya baby Sha tertidur.
Lily mengambilnya dan menidurkan baby Sha di box bayi.
"Lily, kamu tidurlah juga."
"Baik Nyonya," jawab Lily patuh.
Anna pun bersiap tidur, namun malam itu Alam memutuskan untuk terus terjaga. Entah kenapa dia tidak tega melihat anaknya jika dia ikut tertidur pula. Jadi saat semua orang sudah tidur, Alam masih duduk di kursi diantara ranjang Anna dan box bayi anaknya. Dia membuka tablet miliknya dan membaca beberapa email dari Deril.
Sudah 4 hari ini Alam tidak datang ke rumah sakit, sementara dia meninggalkan sebuah pekerjaan yang penting.
Alam sedang menyiapkan kado untuk sang istri, saat Anna kembali ke rumah sakit nanti Alam pastikan pengangkatan Anna akan dilakukan. Bukan hanya pengangkatan Anna sebagai dokter bedah spesialis, namun juga menduduki kursi Direktur Utama rumah sakit.
Karena itulah Alam tidak bisa tinggal diam, meski tubuhnya disini namun pikirannya sudah jauh kemana-mana.
Dan tentang Maura, Alam juga sudah menyiapkan hukuman untuk dokter itu.
"Dad, kenapa tidak tidur?" tanya Anna, dia terbangun karena merasa tidak ada lagi sang suami di sampingnya. Dan Alam menoleh, membuat keduanya jadi saling pandang.
"Kenapa mommy terbangun? mau minum?"
"Daddy sedang apa?"
"Ada pesan dari Deril."
"Tentang?"
"Data terbaru para pemegang saham rumah sakit."
"Memangnya ada perubahan?"
Alam mengangguk dan Anna tidak memberikan respon apapun, dia sudah menyerahkan semuanya pada sang suami.
"Tidurlah lagi."
Lagi-lagi Anna mengangguk.
Malam itu baby Sha terbangun sebanyak 4 kali, dan tiap terbangun pasti bayi mungil itu pup dan minta Asi. Untunglah ada Lily yang dengan sigap membantu Anna.
Ketangkasan Lily dalam bekerja memang sudah tidak diragukan lagi.
Dan pagi datang.
Semua keluarga Dude kembali berkumpul di ruangan ini, kecuali Ardi, pagi ini dia ada operasi.
Rachel dan Firman berniat menjemput anak, menantu dan cucunya pulang. Sementara Bella dan Luna hanya mampir dan tidak bisa mengantar pulang, karena mereka berdua harus bekerja.
Meski rumah sakit ini adalah milik mereka sendiri, namun bukan berarti mereka jadi malas-malasan. Firman malah selalu mengatakan agar anak-anaknya bisa lebih rajin sehingga menjadi contoh baik bagi yang lainnya.
"Baby Sha, tunggu Onty Luna pulang yang sayang, nanti Onty makan siang di rumah."
"Iya, pulanglah, aku punya gosip," bisik Anna pula. Dia sudah bisa berjalan, meski masih hati-hati.
"Gosip apa?" Bella ikut-ikutan.
"Ayo cepat pulang," potong Alam, membuat pembicaraan ketiga wanita ini putus begitu saja.
Akhirnya mereka berpisah ke tujuan masing-masing.