Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 44 - Kenapa?



"Dasar dokter bodoh! dokter Gila!"


Pria itu terus memaki Anna, saking marahnya pria itu bahkan mendorong tubuh Anna hingga nyaris jatuh. Namun untunglah saat itu Anton dengan segera menahan.


"Jaga sikap Anda Tuan, saya yang akan menangani istri Anda," ucap Anton.


"Dia tidak pantas jadi dokter! dasar pembunuh!"


Beberapa perawat menahan pria itu yang hendak kembali menyerang Anna. Sementara Anton langsung menggenggam tangan Anna erat merasakan tangan Anna yang sangat dingin.


"Pergilah, biar aku yang tangani ini," ucap Anton nyaris berbisik. Tapi Anna tidak memberikan respon apa-apa, bahkan kakinya tidak mampu melangkah.


Sampai akhirnya seorang perawat membantu Anna untuk menjauh dari sana.


Jam 7 malam kegaduhan itu akhirnya usai, namun kabar tentang Anna dan keributan di ruang IGD tadi mulai menyebar dan jadi bahan pembicaraan.


Orang-orang mulai bertanya kenapa Anna seperti itu? kenapa Anna diam saja saat melihat pasien yang terluka parah. Kenapa Anna nampak takut dengan tubuhnya yang gemetar.


Tissa yang baru mendengar kabar itu pun langsung berlari mencari keberadaan Anna. Disemua sudut Rumah sakit dia datangi. Namun tidak menemukan Anna dimana-mana.


"Maafkan aku An, maafkan Aku,"lirih Tissa dengan kaki yang terus melangkah mencari, kepalanya berulang kali berputar melihat setiap sudut.


Sampai akhirnya Tissa menemukan Anna. Wanita itu duduk ditermenung di belakang rumah sakit. Hujan sudah reda dan membuat malam ini terasa begitu dingin. Anna duduk dibawah lampu sorot. Meringkuk memeluk kedua kakinya sendiri.


"Anna," panggil Tissa dengan suaranya yang serak, dia merasa sangat bersalah, membuatnya ingin menangis. Apa lagi saat melihat keadaan Anna yang seperti ini.


"Maafkan aku An," ucap Tissa, dia ikut berjongkok dan memeluk Anna erat.


"Kamu tidak salah Tiss, ini memang salahku. Aku membunuh seseorang."


"Tidak An, pasien itu selamat, dokter Anton yang menanganinya." Tissa akhirnya menangis.


"Apa Aku tidak bisa jadi dokter Tiss?"


"Jangan berkata seperti itu, selama ini sudah banyak pasien yang kamu sembuh kan An."


"Tapi aku punya penyakit!"


"Orang-orang seperti mu butuh dukungan An, bukan dicekal langkahnya. Maaf, ini semua salahku."


"Tidak Tis, memang aku yang salah. Aku bisa melawan orang lain, tapi aku tidak bisa melawan ketakutan yang ada pada diriku sendiri." Anna mulai menangis. Kedua wanita ini akhirnya menangis dengan saling memeluk erat.


Dan Tissa terus mengucapkan kata Maaf, maaf karena dia tidak selalu ada disamping Anna.


Masih sesenggukan, mereka berdua mencoba bangkit. Berniat kembali masuk ke dalam rumah sakit. Namun langkah mereka terhenti, saat diambang pintu sana mereka melihat Anton.


sama seperti Tissa, sedari tadi Anton juga mencari Anna. Mencemaskan keadaan wanita itu. Anton tahu, ada sesuatu yang terjadi pada Anna. Meski tidak tahu apa itu, tapi Anton sungguh ingin menenangkan.


Anna dan Tissa melanjutkan langkah hingga akhirnya sampai di hadapan Anton.


"Dokter Anna, Anda baik-baik saja?" tanya Anton dan Anna hanya menanggapinya dengan anggukan kepala kecil.


Tapi wajahnya yang sembab tidak bisa ditutupi.


"Terima kasih untuk tadi," ucap Anna akhirnya. Tissa disana hanya diam memperhatikan keduanya.


"Bukan masalah, jika butuh bantuan katakan padaku."


Lagi-lagi Anna mengangguk kecil. Ada Tissa membuat Anton tidak leluasa bertanya, kenapa tadi Anna gemetar saat melihat pasien itu? kenapa tadi Anna nampak takut? kenapa tadi, tangan Anna terasa begitu dingin?