
Sehabis bercinta dan makan bersama, Anna tertidur pulas di dalam kamar. Sementara Alam keluar rumah, mengambil berkas tentang Maura dari asistennya, Deril.
Waktu yang Alam minta hanya 1 hari dan Deril mengerjakan semuanya dengan baik.
Masih berdiri di teras rumah, Deril menyerahkan berkas itu dan Alam segera meminta Deril untuk pergi.
Selama Anna istirahat, rumah ini haruslah tenang, terhindar dari semua gangguan.
Dan setelah Deril pergi, Alam masuk seraya mulai membuka berkas itu dan duduk di sofa ruang tamu. Membaca satu per satu catatan yang di tulis Deril tentang pertemuan Anna dan Maura, lengkap dengan jam, tanggal dan interaksi yang mereka lakukan.
Sampai akhirnya Alam membaca saat Anna menyelidiki Maura dan Anton di ruang cctv. Saat itu bertepatan dengan kasus Pricilla. Karena itulah Anna sering terhubung dengan kedua orang itu.
Di jam makan siang, Tissa memakan makan siang Pricilla lebih dulu, tapi ternyata dia malah mengalami mual. Dan sebelum itu Anton dan Maura menghentikan troli makan siang untuk ruang VIP.
Dari sana Alam bisa menebak, jika itu pasti perbuatan Anton dan Maura. Mereka pasti ingin menjatuhkan Anna dengan memanfaatkan kondisi Pricilla pasca operasi.
Membaca itu Alam mengepalkan tangannya kuat, bahkan sedikit meremat kertas yang dia pegang. Kenapa baru sekarang dia menyadarinya? Alam sungguh menyesalkan akan hal itu, andai sedikit saja dia peka.
Tidak sampai disana, keterkejutan Alam pun kembali berlanjut.
Di dalam berkas itu tertulis pula Maura yang mengambil data diri Anna di ruang HRD, juga mulai menyelidiki masa lalu sang istri.
Bahkan terus bertanya pada pihak rumah sakit dimana Anna dulu di rawat.
Karena itulah Samantha sampai mengirimnya kabar.
Alam sungguh tidak habis pikir, ternyata Maura bisa sejauh ini melangkah. Terlalu dalam ingin tahu tentang Anna dan dia.
Dan terakhir, ada beberapa foto yang menunjukkan saat Maura selalu membawa kantung darah dan mendekati Anna.
Melihat itu Alam semakin yakin, jika Maura sudah mengetahui tentang phobia Anna.
Tidak ingin menunda terlalu lama untuk menyelesaikan masalah ini, akhirnya jam 11 siang saat itu juga Alam segera menuju rumah sakit. Sebelum pergi dia meninggalkan catatan untuk Anna dan ditempelkan di kaca meja rias istrinya itu.
Sayang, aku pergi ke rumah sakit lebih dulu. Tunggu saja di rumah, nanti jam setengah 2 aku akan menjemputmu.
I love you, suami mu.
Setelah menempelkan kertas catatan itu, Alam pergi.
Masih menunggu kedua orang itu datang, tiba-tiba terdengar suara ponselnya yang berdering. Alam melihat itu dan membaca nama istriku memanggil.
Bibir Alam tersenyum, baru ditinggal beberapa menit dan Anna malah terbangun. Biasanya saat dia di rumah, Anna tidur terus seperti tidak akan bangun.
"Halo An?"
"Hemm, dimanaa?" rengek Anna dengan suaranya yang berat, khas orang bangun tidur dan masih malas membuka mata.
"Tidak membaca pesan ku?"
"Baca sih, tapi tetep mau tanya, dimana?"
Alam terkekeh pelan, "Aku di rumah sakit," jawabnya.
"Memang ada urusan penting?"
"Iya."
"Urusan apa?"
Belum sempat menjawab, pintu ruangan Alam sudah ada yang mengetuk.
"Tamu ku sudah datang, teleponnya mau dimatikan atau bagaimana?" tanya Alam balik, dia jadi lupa untuk menjawab pertanyaan Anna tadi.
"Memangnya aku boleh dengar?"
"Tentu saja."
"Baiklah, aku mau dengar. Jangan dimatikan."
"Hem."
Setelahnya Alam memberi izin masuk, Maura dan Anton datang bersamaan.
"Selamat siang dokter Alam," sapa Anton dan Muara.
Membuat Anna mengerutkan dahi, seperti mengenal kedua suara itu.