
Melihat Maura yang seperti kehilangan kendali, Deril dengan segera mencekal tubuh wanita ini.
"LEPASKAN AKU!"
"Tenanglah Dok," jawab Deril, dia memegang kedua tangan Maura semakin kuat. Maura harus tetap berada di ruangan ini sampai rapat selesai.
Sementara orang-orang yang berada di ruang rapat itu mulai menatap tak suka pada Maura. Sikap yang Maura tunjukan sungguh memalukan, tidak mencerminkan etika yang baik. Padahal jika dia ingin mengajukan keberatan bisa diutarakan baik-baik, akan ada sesi tanya jawab di setiap rapat diadakan.
Tapi Maura malah memotong dengan suaranya yang lantang, seolah dia adalah seorang penguasa. Padahal kini dia bukan siapa-siapa.
Nafas Maura terdengar memburu, mengisyaratkan kemarahannya yang sudah siap meledak.
Sementara Alam meminta Anna untuk melanjutkan ucapannya dan menutup dengan benar.
Selesai Anna mengucapkan sambutan, Alam kembali mengambil alih podium.
Alam mengatakan jika dia akan melakukan tugas akhirnya sebagai Direktur utama di rumah sakit ini.
"Dokter Maura Thomson anda dipecat dari rumah sakit Medistra secara tidak hormat," ucap Alam. Semua ucapan yang keluar dari mulut Alam selalu mampu membuat orang tercengang.
Apa lagi Maura, dia sampai tidak bisa berkata apa-apa dengan jantungnya yang bergemuruh hebat.
Tidak sampai di sana Alam pun menyampaikan alasan kenapa dia melakukan itu kepada Maura. Mulai dari kasus Pricilla, memanipulasi data dan penggelapan dana pasien.
Untuk mendapatkan gelar dokter teladan, Maura memanipulasi data pasiennya. Pasien yang belum sembuh, Maura klaim sembuh atas penangannya.
Maura terjatuh, dia tersungkur diatas lantai dengan tubuhnya yang lemah. Mulutnya tidak mampu lagi berteriak untuk menyanggah semua argumen Alam, karena semua itu adalah benar. Belum lagi semua bukti yang terlihat di sana terpampang nyata.
Alam memang sengaja menunjukkan ini kepada semua direksi dan para dokter di rumah sakit Medistra, selain untuk pembelajaran bagi para dokter yang lainnya dia juga ingin menghentikan Maura. berhenti hingga tidak mampu lagi berkutik.
Maura melihat Anna, dilihatnya wanita yang paling dia benci itu tersenyum menyeringai.
"TIDAK!! aku akan tuntut kalian Semua!" pekik Maura, Kini dia sudah hilang kendali. Untunglah Deril selalu sigap untuk menahan tubuh Maura ketika wanita ini ingin berlari ke arah Anna dengan penuh amarah.
"Lepaskan AKU!"
"Maaf dokter Maura, sebelum anda melakukan tuntutan kepada kami, kami sudah lebih dulu mengajukan tuntutan kepada anda. kasus Anda bukanlah kesalahan ringan, karena itu kami melibatkan pihak Kepolisian," terang Alam lagi, khas dengan suaranya yang begitu dingin.
Seketika para dokter di ruang rapat itu menelan ludahnya dengan kasar. Mereka mulai takut untuk melakukan kesalahan, meski hanya kesalahan kecil.
Tidak berselang lama kemudian 2 aparat kepolisian masuk ke dalam ruangan ini dan memasangkan borgol di tangan Maura.
Saat itu Maura terus meronta-ronta dan menjadi tontonan semua orang. Kekuasaan yang selama ini selalu dia tunjukkan kepada semua orang seolah runtuh seketika. Kesombongan yang ada pada dirinya entah menguap ke mana.
Hari ini adalah hari akhir hidup Maura di rumah sakit Medistra.
Dan melihat pemandangan itu, Anna hanya terdiam. Dia memang merasa iba namun tidak ada niat sedikitpun untuk membantu.
Karena apa yang Maura tanam, memang pantas untuk dia dapatkan.