
"Benar Dok, Nyonya Anna hamil," jelas Marleen, saat mengatakan itu dia tersenyum. Rasanya bahagia ketika menyampaikan berita baik ini.
Dan Alam terperangah, sementara Anna langsung tersenyum lebar. Lalu sepersekian detik kemudian Anna dan Alam saling tatap begitu dalam, dengan segera Alam mengikis jarak dan mencium bibir sang istri saking senangnya. Alam bahkan sampai lupa jika masih ada Marleen di hadapan mereka.
Marleen pun bingung harus bagaimana, dengan kikuk dia meninggalkan testpack itu diatas meja dan melipir keluar dengan pelan-pelan.
Meninggalkan ruang sunyi itu yang kini dipenuhi suara decapan dari ciuman sepasang manusia.
Puas menyesap bibir istrinya Alam pun melepas pagutan itu, dia mencium seluruh wajah Anna secara beruntun.
"Kamu hamil," ucap Alam diantara rasa percaya dan tidak. Dia bahkan mulai membayangkan betapa bahagianya Firman dan Rachel ketika mendengar kabar ini.
"Iya sayang, aku hamil," jawab Anna lirih, dia terharu. Baru tadi pagi dia mengunjungi makan seluruh keluarganya dan sore ini dia tahu bahwa di dalam rahimnya ada kehidupan. Anna terharu, merasa ini adalah hadiah dari mereka.
Mereka berciuman lagi dan lagi, Alam juga mengelus perut rata istrinya dengan sayang.
Sebelum malam datang mereka memutuskan untuk kembali ke Villa. Alam juga memerintahkan salah satu penjaga disana untuk menghidupkan perapian di dalam kamar mereka.
Malam ini pasti akan terasa dingin dan dia tidak ingin Anna merasa kedinginan.
Selepas makan malam bersama, mereka memutuskan untuk langsung kembali ke kamar. Duduk diatas ranjang dan menggunakan selimut.
"Sayang," panggil Anna, dia juga bergelayut di lengan suaminya.
"Apa? ada yang sedang kamu inginkan? katakan."
Anna tidak langsung menjawab, dia memberi jeda.
"Bisakah aku meminta 1 permintaan?"
"Berapapun permintaan mu akan aku kabulkan. "
Anna mengulum senyum.
"Jangan melarang ku untuk bekerja meski sekarang aku hamil."
Anna mengangguk dengan bibirnya yang tersenyum lebar, dia semakin memeluk erat lengan suaminya.
Malam ini mereka tidur dengan saling memeluk.
Pagi-pagi suasana makin dingin terasa, membuat keduanya sama-sama malas bangun.
Sampai akhirnya ada salah satu penjaga yang mengetuk kamar mereka, meminta keduanya untuk keluar dan sarapan. Hidangan sudah tersaji diatas meja makan, ada sup jamur sesuai permintaan Anna semalam.
"Ayo sayang kita bangun," ajak Alam, tapi Anna sungguh enggan untuk beranjak.
"Aku akan menggendong mu untuk keluar, yang harus kamu lakukan hanya membuka mata," ucap Alam lagi, dia mencium pipi Anna menggoda.
Dan Alam benar-benar melalukan ucapannya itu, dia bangun lebih dulu lalu menggendong istrinya seperti pengantin baru.
Anna terkekeh, terpaksa dia membuka mata dan menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Kita belum mandi Sayang."
"Tidak masalah, yang penting makan dulu. Jangan biarkan anak kita kelaparan."
"Ish!" gemas Anna.
Para penjaga yang melihat tuan dan nyonya nya keluar sambil menggendong pun langsung menyingkir dengan perlahan. Tidak ingin mengganggu dan memberikan waktu sebanyak-banyaknya untuk mereka berdua.
Sampai di meja makan Alam tidak mendudukkan Anna di kursi, dia memangkunya.
Membuat Anna tertawa kecil, "Apa harus duduk seperti ini?" tanya nya dan Alam mengangguk kecil.
"Tentu saja, aku ingin memangku anakku."
"Iss terus saja bicara seperti itu, aku geliii," rengek Anna dan Alam terkekeh pelan.