Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 84 - Berbunga-bunga



Alam coba menghubungi Anna melalui sambungan telepon, tapi sayang panggilannya diabaikan. Anna masih sedikit kecewa, karena jika Alam berusaha mengumpulkan suara pun pasti pengangkatannya bisa tetap dilakukan.


Tapi Alam memilih diam, memilih mendengarkan pemegang saham 40 persen yang mendukung Maura.


Dan tidak berselang lama Anna masuk ke dalam ruangannya, Tissa pun mengunjungi Anna. Dia datang kemari untuk menenangkan sang sahabat.


Kabar tentang pembatalan pengangkatan Anna sudah tersebar di seluruh penjuru rumah sakit. Orang-orang mulai membicarakan hal itu, banyak dari mereka yang semakin takut dengan kekuasan Maura.


"Jangan murung terus, aku yakin suamimu punya alasan kenapa dia membatalkan pengangkatanmu sekarang, sementara sebenarnya dia bisa melawan dokter Maura." terang Tissa, kini dia sudah duduk di salah satu kursi di hadapan Anna.


Mendengar itu Anna tidak menanggapi apapun hanya membuang nafasnya berat. Entahlah, dia tetap saja merasa kecewa.


Padahal Alam sangat tahu ini adalah hal yang dia impikan.


"Mungkin dokter Alam ingin kamu melahirkan dulu, baru memikirkan tentang rumah sakit. Apa kalian sudah membicarakan itu?"


Anna menggeleng, semalam setelah Alam mengatakan tentang pembayarannya suasana hati Anna langsung tidak baik. Dia enggan melanjutkan pembicaraan dan memilih tidur lebih dulu, meski tidak benar-benar tidur. Hanya pura-pura memejamkan mata dan memunggungi Alam.


"Ihklas lah, tidak biasanya kamu seperti ini. Aku yakin anakmu nanti tukang marah," ledek Tissa dan Anna mencebik. Anna akui memang, semenjak hamil dia sering sekali memarahi suaminya. Sementara Alam terus sabar menghadapi dia.


Disaat Anna dan Tissa saling diam, tiba-tiba ponsel Anna di atas meja bergetar. Anna melihat ada panggilan masuk dari Rachel dan Anna langsung menjawabnya.


Sementara Tissa pamit keluar menggunakan bahasa isyarat, tanpa suara.


"Halo Ma."


"Mama sudah di rumah sakit sayang, tapi sudah lama tidak kesini mama jadi lupa tempat-tempatnya, coba kamu kirim lokasi."


"Di depan ruang IGD."


"Iya disana saja, tunggu Anna."


Panggilan itu terputus, Rachel menunggu menantunya untuk menjemput. Dia berdiri dan memperhatikan sekeliling. Sudah cukup lama dia tidak datang ke rumah sakit ini dan sudah banyak yang berubah.


Di tangan Alam pembangunan rumah sakit jadi semakin pesat.


Rachel memang tidak tahu apa-apa, tapi banyak pula orang yang mengenali wajahnya. Istri dari pemilik rumah sakit Royal Dude dan juga ibu dari Alamsyah Dude.


Para perawat yang mengenali Rachel sebenarnya ingin menyapa dan bertanya ada perlu Apa, jika ingin ke ruangan Alam mereka pun siap mengantar. Tapi mereka tidak punya cukup keberanian.


Sampai akhirnya Maura pun melihat keberadaan Rachel itu, dia tersenyum ketika merasa telah menemukan peluang besar untuk mendekati keluarga Alam.


Hati Maura berbunga-bunga, ini adalah hari keberuntungan dia. Setelah tadi membuat Anna kalah, kini dia juga bertemu dengan Rachel Dude.


Dengan penuh percaya diri Maura menghampiri, menyapa dengan ramah dan menundukkan kepalanya hormat.


"Permisi Nyonya Rachel, perkenalkan saya adalah Maura Thomson. Apa Anda ingin menemui dokter Alam, mari saya antar," sapa Maura, dia sopan sekali. Menunjukkan jika Maura benar-benar memiliki pesona seorang Nona Muda.


Dan Rachel menyambutnya dengan senyuman pula, dia mengenal keluarga Thomson.


Melihat balasan senyum Rachel itu, membuat Maura jadi semakin berbunga-bunga.