
"Kalau dokter Anna kelelahan harusnya bilang sejak awal, dia bisa mundur jadi dokter jaga dan tetep menjadi dokter umum seperti biasa," ucap Maura, memotong semua penjelasan Anton.
"Dokter Anna bisa mundur jika sudah merasa tidak mampu, tapi selama ini dokter Anna menjalankan tugasnya dengan baik. Dia hanya melakukan 1 kesalahan dan kenapa dengan begitu semua perjuangannya selama ini jadi tidak dianggap." balas Anton.
"Wajar keluarga Pasien marah dan menuntut keadilan, karena saat itu memang dalam keadaan darurat. Semakin lama penanganan persentase kemungkinan sembuh akan semakin kecil. Tapi lihat juga dari sudut pandang dokter Anna, tidak mungkin dia sengaja melakukan itu."
"Kenapa dari tadi Anda terus yang menjawab dokter Anton, biarkan dokter Anna yang menjelaskannya sendiri." putus Maura, dia sungguh merasa kesal kepada Anton. Dia kira Anton akan menjadi sekutunya. Tapi kini Anton malah membela Anna mati-matian.
Keadaan hening sesaat, selain ingin mendengar pembelaan Anna, mereka semua juga menunggu Alam untuk buka suara.
"Maaf untuk semua kekacauan yang sudah terjadi, saya sangat sadar jika saya salah. Apapun hukuman dari pihak rumah sakit akan saya terima. Saya juga akan meminta maaf pada keluarga Pasien, Saya akan memohon agar kasus ini tidak dilanjutkan ke jalur hukum." ucap Anna akhirnya, dia mengangkat wajah menunjukkan rasa penyesalan yang sangat mendalam.
"Apa kamu memiliki phobia dokter Anna?" tanya Maura, sebuah pertanyaan yang langsung membuat jantung Anna berhenti berdetak. Maura cukup memahami tentang gejala trauma dan phobia, dia memang tidak ada ditempat kejadian, namun mengamati video yang beredar dia tahu saat itu Anna tengah ketakutan. Tapi entah ketakutan apa.
"Jangan hanya dokter Anna, kita semua juga akan menemui keluarga Pasien untuk meminta maaf." potong Alam, sebelum pertanyaan Maura menjadi bahan pembicaraan selanjutnya.
"Tentang kelelahan, itu sudah menjadi resiko seorang dokter. Bagaimana kita berusaha membuat orang untuk sehat, harusnya kita melakukan itu juga untuk diri sendiri. Ini semua jelas kelalaian dokter Anna." terang Alam lagi.
Maura tersenyum kecil, bersiap mendengarkan hukuman yang akan diterima oleh Anna.
"Dokter Anna akan mendapatkan jam kerja tambahan sebagai sangsi. 1 bulan dengan 2 shift jaga, siang dan malam. Jadi berusahalah untuk bertanggung jawab pada dirimu sendiri dan orang lain." tukas Alam, dan berhasil membuat Maura tersenyum lebar.
Maura sangat yakin Anna akan kesulitan menjalani hukuman ini. Tubuh dan otaknya akan semakin lelah. Tidak bisa merawat diri dan pasti akan mengundurkan diri jadi dokter jaga.
Semua orang setuju dengan keputusan Alam itu. Sementara Anna hanya bisa pasrah.
Mereka terbawa emosi.
Melihat kesungguhan Anna meminta maaf cukup membuat mereka terenyuh.
Pembicaraan diantara mereka berjalan dengan baik.
Saat keluar dari ruangan itu, Anton menyentuh pundak Anna memberikan dukungan. Dan hanya Anna hanya mampu tersenyum kecil sebagai tanggapan.
Interaksi kecil itu tetap saja menganggu dimata Alam.
"Dokter Anna," panggil Alam, membuat langkah semua orang terhenti, termasuk Maura yang langsung menatap Alam.
"Ada yang ingin saya bicarakan, ikutlah ke ruangan saya," ucap Alam. Setelah mengatakan itu Alam pergi lebih dulu. Sementara yang lain pun kembali ke ruangan masing-masing.
Anton pun pamit pada Anna untuk pergi lebih dulu. Menyisahkan Anna dan Maura saja di lorong ini.
"Sana pergilah dokter Anna, nikmati kemarahan dokter Alam," ucap Maura dengan senyum menghina.
Tapi Anna tidak menanggapi apapun, hari ini dia sangat lelah. Sampai melawan Maura pun rasanya begitu malas.
Tanpa berkata apapun, Anna pergi.