
Jam makan siang Alam pulang ke rumah utama keluarga Dude. Selain makan siang bersama dengan sang istri dan keluarganya, Alam juga berniat menjemput Anna.
Di kehamilan 8 bulan ini Anna masih mau bekerja, dia akan mengambil cuti melahirkan saat memasuki usia kehamilan 9 bulan.
Kini Anna dan Alam berada di dalam kamar. Alam membantu Anna untuk mengganti baju.
"Perutku besar sekali ya Dad?" tanya Anna, kini dia memanggil Alam dengan sebutan Daddy, dan Alam memanggil Anna dengan sebutan Mommy. Mereka mulai membiasakan diri memanggil seperti itu untuk anaknya nanti.
"Iya Mom, terlihat lebih seksi," goda Alam, dia menatap lekat tubuh istrinya, menatap penuh minat.
"Bukan seksi Dad, tambah gendut."
"Yang lihat kan Daddy dan menurut Daddy ini seksi." Alam mengelus perut Anna, lalu mengecup bibir istrinya sekilas.
"Ingat apa pesan dokter Marleen?"
"Apa?" tanya Anna balik, seraya mengingat-ingat apa pesan Marleen di sambungan telepon kemarin saat Anna melakukan konsultasi.
"Di kehamilan yang semakin tua, harus sering melakukan hubungan badan untuk membuat jalan lahir," jawab Alam dengan gamblang, membuat Anna langsung merona tapi bibirnya mencebik.
"Jadi nanti malam bersiap-siaplah."
"Iss!" kesal Anna, dia sangat malu ketika membicarakan hal seperti ini. Harusnya kan tidak perlu dibicarakan, tapi langsung saja.
"Pakaikan bajuku," pinta Anna dan Alam mengangguk.
Selesai bersiap, Anna dan Alam pergi ke rumah sakit. Kedatangan mereka berdua semakin membuat semua orang yakin jika anak yang dikandung Anna adalah anak Alam. Tapi karena belum ada konfirmasi secara resmi membuat mereka semua hanya bisa menebak-nebak.
Di lobby rumah sakit Alam dan Anna berpisah, mereka hendak pergi ke tujuannya masing-masing. Anna menuju IGD dan Alam ke ruangannya.
"Hubungi daddy kalau ada apa-apa Mom," bisik Alam sebelum benar-benar pergi.
"Iya Dad."
"I love you too."
Alam mengusap punggung Anna pelan, baru setelahnya pergi.
Dan sebelum masuk ke ruang IGD, tiba-tiba tangan Anna di tarik oleh seseorang, dia adalah Maura.
Tapi Anna segera menarik tangannya, bahkan dengan cepat memutar tangan Maura dan membuat keadaan berbalik.
"Aw!! sakit! lepas dokter Anna!" pekik Maura dan saat itu juga anna melepaskan cekalanya. Hamil tidak membuat Anna lemah, dia masih siaga seperti biasanya.
"Kamu menyakiti aku dokter Anna!" kesal Maura, dia menatap tajam Anna.
Sementara yang digarap tajam malah memutar bola matanya malas.
"Salah sendiri menarik-narik tanganku. Dalam keadaan seperti ini tentu saja aku harus siaga, aku harus melindungi bayiku," jawab Anna, dia mengelus perutnya dengan sombong. Seolah memamerkan kehamilannya ini pada Maura.
"Cih! Apa kamu tidak malu dengan kehamilan mu itu? itu anak dari hasil kamu menggoda suami orang!" kesal Maura, dia bahkan sampai lupa dengan tujuan awalnya tadi. Tentang dia yang ingin membuat Anna menyerah untuk mengikuti ujian minggu depan.
Maura sudah mendapatkan dukungan dari beberapa pemegang saham, dia hanya perlu menunggu Daniel dan 2 orang lainnya.
Tapi dia mendadak melupakan itu, saat melihat Anna yang terlihat sombong dengan kehamilannya.
"Aku tidak menggoda suami orang, tapi dokter Alam lah yang selalu menggoda ku. Tentu saja aku tergoda," balas Anna pula, dia bicara pelan, tidak ingin ada orang lain yang mendengar ucapannya.
Dan mendengar itu Maura mengepalkan tangannya kuat.
"Dasar tidak tahu malu!" geram Maura, dia ingin menampar Anna namun dengan segera Anna menahan tangannya.
"Jangan selalu menghakimi aku dokter Maura. Anda juga mencintai dokter Alam kan? Tapi maaf, dokter Alam lebih memilih aku, aku yang lebih muda," balas Anna.
Kini tentang Alam dia tidak mau kalah.