Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 68 - Mengabulkan Keinginan Mereka



"Aku tidak pernah pakai KB, kamu juga tidak pernah keluar di luar. Jadi mungkin saja disini sudah tumbuh anak kita," ucap Anna, dia membawa satu tangan Alam untuk menyentuh perutnya yang nasih rata.


Dan mendengar itu Alam langsung mengecup bibir istrinya. Sangat bahagia jika Anna tidak menolak keinginan dia.


"Kita harus segera mengumumkan pernikahan kita An."


"Jangan sekarang, tunggu sebentar lagi."


"Bagaimana jika kamu hamil?"


"Tidak masalah, aku tidak peduli omongan orang."


"Tapi aku peduli padamu, aku tidak bisa melihat kamu jadi bahan gunjingan."


"Kalau begitu pecat mereka semua yang menggunjingku, termasuk dokter Maura."


Alam terdiam.


"Memangnya berapa persen saham yang keluarga mereka punya? kenapa sepertinya dokter Maura berkuasa sekali."


"40 persen milik kita, 60 persen milik kolega. Keluarga Maura 15 %, kamu ingat tuan Daniel Lincoln? dia memilki 10 persen, dan sisanya beberapa pemegang saham yang lain."


"Kenapa yang di jual sebanyak itu? seingetku dulu daddy masih memegang 65 persen?"


"Bisakah kita selesaikan mandi ini dulu? nanti baru dibahas."


Anna terkekeh, dia mencubit perut suaminya pelan. Akhirnya mereka segera mandi dan bergegas ganti baju. Alam memesan makanan dan mereka langsung makan bersama. Sesekali saling menyuapi.


Selesai makan, Alam menceritakan semua hal yang terjadi tentang rumah sakit Medistra selama Anna tidak disini. Tentang kenapa dia harus melepas 25 persen saham itu. Setelah kecelakaan dan kedua orang tua Anna meninggal, ada beberapa pihak yang ingin mengakuisisi rumah sakit Medistra. Saat itu Alam membutuhkan banyak uang dan bantuan orang lain untuk tetap menjadikan dia pemimpin. Belum lagi banyak rumor yang mengatakan jika rumah sakit ini membawa sial.


Sampai akhirnya rumah sakit Medistra bisa kembali stabil seperti sekarang ini.


"Untuk menjadikan kamu pemimpin, setidaknya kita harus punya tambahan dukungan dari beberapa pemegang saham, dan mendapatkan suara 51 persen," jelas Alam dan Anna mengangguk.


"Jadi ayo kita sembuh kan phobia ini dan tunjukkan kemampuan mu yang sesungguhnya."


Lagi-lagi Anna mengangguk.


Dan waktu terus bergulir, semenjak saat itu Anna dan Alam sering melakukan terapi berdua untuk membuat Anna tidak lagi takut darah.


Bahkan Alam menyiram tubuhnya dengan darah dan meminta Anna yang membersihkannya.


Sampai akhirnya masa hukuman Anna usai dan dia mulai bekerja seperti biasa. Selama itu pula Maura tidak pernah menganggu, dia masih disibukkan dengan banyaknya pasien Anton yang dilimpahkan kepadanya.


Selepas masa hukumannya selesai, Anna mendapatkan hari libur satu hari. Saat itu juga Alam memutuskan Tidak pergi ke rumah sakit.


Mereka berdua pergi berkunjung ke makam keluarga Anna, 4 makan berdampingan.


Saat itu mereka tidak pergi berdua, Rachel pun ikut bersama dengan mereka.


Sama-sama menabur bunga segar di tiap pusara, sampai akhirnya Anna duduk dan memperhatikan keempat makan itu secara bergantian.


Anna menangis, rasanya masih sama sakitnya seperti 10 tahun lalu. Hanya dia yang selamat sementara yang lain meninggal, seolah untuk hidup Anna harus mengorbankan nyawa semua orang.


"Sayang, jagan menangis. Tersenyumlah," ucap Rachel, dia memeluk Anna dari samping. Sementara Alam memperhatikan keduanya dengan dada yang juga sesak. Air mata Anna selalu mampu membuatnya terluka.


"Phobia mu sudah sembuh sayang, jadi sekarang waktunya mengabulkan keinginan mereka. Menjadi dokter bedah ternama di kota ini," ucap Rachel lagi, tapi semakin deras pula air mata Anna mengalir.