
Dengan bibirnya yang mengerucut Anna coba menghubungi Alam melalui sambungan telepon, sementara Rachel kembali sibuk menata makanan di atas meja.
Tidak berselang lama setelah bunyi Tut, telepon Anna langsung dijawab oleh Alam.
"Sayang," panggil Alam, tapi malah semakin membuat Anna mengerucutkan bibirnya.
"Mama ada di ruanganku, kalau tidak sibuk datanglah kesini." balas Anna dengan suaranya yang ketus, Rachel yang ikut mendengar itu hanya geleng-geleng kepala. Dia sudah yakin 100 persen setelah melewati malam ini hubungan anak dan menantunya akan kembali hangat.
"Baiklah aku akan kesana."
"Hem," balas Anna singkat dan panggilan itu terputus. Jika dulu Alam yang suka ham hem ham hem ketika ditanya, kini malah gantian jadi Anna.
Sekitar 10 menit menunggu dan akhirnya Alam tiba di ruangan Anna, dia datang dengan tersenyum tapi Anna tetap memalingkan wajah. Entah kenapa dia jadi kesal terus, mulai berpikir jika Alam membela Maura dibanding dirinya.
"Ma," sapa Alam, dia duduk dihadapan Anna dan Rachel.
"Ayo kita makan sama-sama, mama banyak membawa makanan," ajak Rachel dan tidak ada yang berani menolak perintahnya. Meski diantara Alam dan Anna masih terasa canggung, tapi mereka berdua makan dengan lahap.
Dan melihat keduanya Rachel pun tersenyum, marah tidak apa-apa yang penting cucu, menantu dan anaknya tidak kelaparan.
Selesai makan bersama, Rachel berbincang sejenak dengan Alam dan Anna, sampai akhirnya dia pamit untuk pulang.
Anna ingin mengantar kedepan namun Rachel menolak. Dia bilang sudah tahu jalan keluar.
"Lebih baik segera selesaikan masalah kalian berdua, jangan suka memupuk masalah. Memangnya kalian mau cerai?"
"Astaga Mama," rengek Anna, dia memang marah tapi sedikitpun tidak ada niatan untuk pisah, Alam adalah cinta mati nya.
"Ya sudah cepat diselesaikan, pulang nanti awas kalau masih marahan."
"Hem," jawab Alam dan Anna hanya mencebik.
"Tentang pengangkatanmu_"
"Sudah jangan dibahas, aku tidak mau dengar itu. Lagipula sejak awal aku memang ingin berhasil tanpa bantuan dari mu, dari jabatan yang kamu punya," potong Anna.
Namun Alam sedikit marah ketika Anna memotong pembicaraannya seperti ini. Apalagi dia ingin menjelaskan semuanya agar tidak ada salah paham diantara mereka.
Pengangkatan Anna bukan dibatalkan, hanya ditunda hingga semuanya siap.
Ketika Anna sudah melahirkan dan Alam bisa memastikan semua petinggi rumah sakit dan pemegang saham mendukung Anna.
Tapi belum apa-apa Anna sudah memutus ucapan dia.
Alam terdiam, rasanya bicara apapun akan terdengar salah di telinga Anna.
Akhirnya Alam memutuskan untuk pergi, dia dan Anna memang sepertinya sedang butuh waktu untuk sendiri.
"Aku pergi," pamit Alam.
Tidak ada pelukan hangat, tidak ada pula kecupan. Setelah mengucapkan itu Alam langsung keluar dari ruangan.
Meninggalkan Anna yang dadanya jadi terasa semakin sesak. Setelah pintu ruangannya tertutup dan Alam menghilang, Anna mulai sadar jika dia sudah keterlaluan.
Memotong pembicaraan Alam sama saja dia tidak menghargai suaminya.
Anna menangis, pertengkaran seperti ini saja sudah berhasil membuatnya sangat bersedih. Anna ingin meminta maaf namun egonya masih terlalu tinggi.
Akhirnya siang itu mereka sama-sama saling mendiami. Tidak ada yang berusaha untuk bicara lagi.