Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 73 - Terdiam Seribu Bahasa



Sehabis sarapan Anna dan Alam mulai bersiap untuk pulang. Sejak awal mereka sudah berencana untuk berhenti-berhenti selama perjalanan pulang.


Tiap 1 jam perjalanan mereka akan berhenti untuk beristirahat.


Perjalanan yang harusnya hanya membutuhkan waktu 4 jam kini mereka tempuh hingga 7 jam lamanya. Tapi Anna dan Alam tidak merasa lelah, mereka berdua menikmati perjalanan panjang itu. Apa lagi Alam mengemudikan mobilnya sendiri, membuat keduanya jadi berinteraksi dengan intim.


Dan meski terlambat tapi saat itu Anna tetap datang ke rumah sakit, meminta maaf pada semua tim nya karena datang terlambat.


Semua tim Anna baik-baik saja, tapi Maura yang mendengar keterlambatan itu pun meradang pula.


Pasalnya ini hari pertama Anna bekerja seperti biasa setelah menjalani hukumannya jaga malam.


Maura mendatangi Anna di ruang IGD, dengan wajahnya yang nampak berkuasa dia menghampiri Anna yang tengah duduk di kursinya.


Semua perawat langsung bangkit dan menyapa Maura dengan hormat. Sementara Anna hanya melirik, mengangguk kecil dan kembali sibuk membaca buku catatannya, dia tidak bangkit.


"Dokter Anna," panggil Maura dengan suaranya yang dingin, wajahnya pun nampak marah.


Anna mengangkat wajahnya, membalas tatapan Muara tak kalah dingin.


"Kenapa datang terlambat di hari pertama mu masuk? apa kamu meremehkan aturan yang sudah dibuat di rumah sakit ini?" tanya Maura penuh sindiran.


Anna belum menjawab, dia lebih dulu bangkit dan mensejajarkan diri dengan Maura. Mereka saling tatap dengan tatapan yang tajam.


Sontak pemandangan itu menarik untuk dilihat oleh semua orang. Terlebih selama ini Anna dan Maura memang selalu menjadi topik pembicaraan, mereka berdua sudah di cap sebagai musuh. Entah tentang memperebutkan Alam atau tentang citra mereka di rumah sakit ini.


Sebagian perawat yang berdiri di paling ujung pun diam-diam merekam perdebatan kedua orang itu.


"Aku sudah mengatakan pada tim ku kenapa datang terlambat dan mereka menerima itu, kenapa Anda yang sewot. Lagipula tentang aturan dokter jaga itu bukan wewenang anda," jelas Anna, dia bicara dengan suaranya dingin pula. Entah hormon kehamilan atau bukan, tapi melihat Maura membuat kemarahannya jadi mudah terpancing.


"Apa kamu tahu, peraturan di rumah sakit ini sebagaian dibuat atas persetujuan ku, jadi jangan coba untuk melanggarnya."


"Aku tidak melanggar, lagipula aku sudah meminta maaf, berjanji tidak akan mengulangi ini lagi. Tapi sepertinya Anda yang ingin memperpanjang masalah."


"Aku hanya mengingatkan mu."


"Anda bukan hanya mengingatkan, tapi anda juga seolah sedang menunjukkan kekuasan. Memangnya anda pemilik rumah sakit ini?" kesal Anna, rasanya dia pun ingin menjambak rambut Maura.


"Aku memang bukan pemiliknya, tapi Aku punya hak di rumah sakit ini dan siapa kamu? hanya dokter umum yang terlalu banyak ulah."


Anna sangat geram, dia ingin bergerak menjambak rambut Maura namun urung saat sebuah suara menghentikan perdebatan mereka.


"Dokter Anna, dokter Maura," panggil Alam. Dia datang dengan wajahnya yang datar. Awalnya hanya ingin mengunjungi pasien yang beberapa hari lalu dia operasi, namun malah melihat keramaian di ruang IGD.


Ternyata kedua dokternya sedang jadi bahan tontonan.


"Apa yang kalian berdua lakukan? apa ini pantas?" tanya Alam, dia lalu menatap sekeliling, melihat para perawat yang ada disana. Seketika itu juga para perawat itu pergi, menyibukkan dengan tugas mereka masing-masing.


Sementara Maura langsung melangkah mendekati Alam.


"Maaf dokter, aku hanya mengingatkan dokter Anna karena dia datang terlambat. Tapi dia malah tidak mau dengar," ucap Maura dengan suaranya yang begitu lembut, tatapannya pun berubah jadi teduh ketika bersitatap dengan Alam.


"Dokter Anna terlambat karena dia pergi bersama ku, sebelumnya juga sudah ada pemberitahuan. Ini bukan terlambat yang mendadak. Apa masih ada lagi masalahnya?"


Dan mendengar itu Maura terdiam seribu bahasa.