Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 41 - Rencana Lain Alam



Setelah pertemuannya dengan Anton di ruangan Alam, Anna terus menghindari Anton hari ini. Semakin mengambil jarak diantara mereka berdua.


Anna takut kembali ditanya tentang pertemuan mereka di ruang itu.


Tapi Anton berpikir lain, pertemuannya dengan Anna tadi ingin dia jadikan bahan untuk pembicaraan diantara mereka. Anton ingin memperbaiki hubungan yang ada diantara dia dan Anna.


Diam selama 1 bulan tetap membuatnya tidak tenang, Anton pernah menyukai Anna, pernah membenci Anna dan kini dia di tahap mengagumi Anna.


Anton ingin hubungan pertemanan diantara mereka kembali membaik.


"Dokter Anna," panggil Anton saat Anna kembali ke lemari loker dokter penjaga di ruang IGD.


Anna tidak menjawab, hanya menoleh melihat siapa yang memanggil. Wajah Anna tetap nampak dingin, meski jantungnya gugup takut-takut Anton bertanya tentang dia dan Alam.


"Anda sibuk?" tanya Anton lagi, memulai dari pembicaraan formal.


"Tidak, katakan, ada apa?" jawab Anna dingin, dia menutup loker dan menguncinya. Lalu menatap Anton dengan tatapan yang sangat dingin.


"Anda belum memaafkan saya?"


"Maafku tidak penting."


"Tentu saja penting, karena kita pernah berteman."


"Bukan teman, cuma say hai."


"Ya ampun dokter Anna, kamu itu keras kepala sekali."


Anna tersenyum kecil.


"Apa kamu memiliki hubungan dengan dokter Alam? sepertinya hubungan kalian dekat?" tanya Anton, membuat senyum Anna langsung hilang seketika itu juga. Diganti dengan menelan ludahnya susah payah.


"Iya, kami memang memiliki hubungan. Kedua orang tua kami saling mengenal." balas Anna, mencoba bicara biasa saja, tidak ingin menunjukkan kegugupan. Cukup Alam yang tahu kelemahannya, dia tidak ingin terlibat lemah dimata orang lain.


Dilihat oleh Anna, Anton yang menganggukkan kepalanya kecil.


"Iya, dokter Alam pernah mengatakan itu juga. Di malam penyambutan mu saat kamu mabuk, aku berniat mengantar mu pulang. Tapi dokter Alam menghentikan aku dan mengatakan jika sebaiknya dia saja yang mengantar mu, karena dia mengenal keluargamu."


Karena tiap respon yang akan dia berikan, pasti akan jadi bahan pertanyaan baru untuk Anton.


"Apa ada yang ingin kamu katakan lagi?" tanya Anna dan Anton kehabisan kata-kata.


Anton menggeleng, setelahnya Anna pergi dan menghembuskan nafasnya lega.


Sikap dingin Anna itu membuat Anton mengulum senyum tipis. Baginya Anna memang berbeda, dia wanita yang sangat spesial.


Cantik namun ahli bela diri.


Berwajah dingin namun memiliki hati yang hangat.


Senyum Anton semakin terkembang, dia terus menyaksikan kepergian Anna hingga benar-benar hilang.


Jam pulang kerja.


Anna sedang melakukan pergantian shift. Tiba-tiba pena diatas meja hilang, sibuk mencari namun akhirnya datang sendiri, Anton memberinya sebuah pena.


"Terima kasih," ucap Anna, dia mengambil pena itu dan mulai tanda tangan di kertas absen pulang. Absen masih mengunakan cara manual, absen sidik jari hanya untuk para petinggi rumah sakit.


"Sama-sama," balas Anton saat Anna mengembalikan pena nya.


Interaksi singkat itu tak lepas dari kedua mata tajam di ujung sana. Alam menyaksikan keduanya yang nampak begitu dekat.


Niat hati ingin menjemput sang istri, dia malah melihat pemandangan menyakitkan ini.


Anna terlalu banyak memiliki pesona, aku harus segera membuatnya berhasil dan menduduki kursi Dirut. setelahnya aku bisa mengumumkan pernikahan kami. Batin Alam.


Bukan hanya itu. Alam juga ingin ketika Anna sudah mendapatkan hak nya, mereka bisa merencanakan sesuatu yang lain, yaitu tentang Anak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...