
"Terima kasih Dokter Maura, tapi tidak perlu repot. Aku bukan ingin menemui Alam, seseorang yang aku tunggu akan datang kemari," jawab Rachel tak kalah ramah.
Namun jawaban Rachel itu membuat Maura mengerutkan dahi. Setahu dia di rumah sakit ini keluarga Dude yang bekerja hanya ada Alam, sementara yang lainnya bekerja di rumah sakit Royal Dude.
Lalu siapa yang ingin ditemui oleh Rachel?
"Maaf Nyonya, Anda ingin beetemu siapa? biar saya bantu untuk menemuinya."
"Tidak perlu, dia akan datang kesini. Aku tadi sudah mengubungi dia."
Maura tersenyum dan mengangguk kecil, meski hatinya mulai merasa kecewa.
"Saya akan menemani Anda sampai orang itu datang."
"Terima kasih." jawab Rachel. Mereka berdiri sejajar.
Maura pun mengikuti kemana arah pandangan Rachel, sama-sama menunggu siapa yang sebenarnya ingin ditemui oleh calon ibu mertuanya ini.
Sampai akhirnya diujung sana Rachel dan Maura melihat Anna yang berjalan ke arah mereka. Rachel tersenyum antusias, tidak menunggu Anna sampai disini dia sudah lebih dulu menghampiri. Sementara Maura yang dilewati begitu saja oleh Rachel langsung merasakan sesak di hati.
Belum lagi saat dia melihat Rachel yang langsung memeluk Anna erat, juga menciumi pipi wanita itu dengan sayang.
"Mama membawakan makanan untukmu sayang," ucap Rachel, tadi pagi Anna hanya makan sedikit, karena itulah dia datang kemari membawakan makanan untuk sang menantu yang sudah seperti anaknya sendiri. Bahkan Rachel lebih menyayangi Anna ketimbang 4 anaknya yang lain.
"Terima kasih Ma, aku memang lapar," jawab Anna dengan merengek. Rachel terkekeh dan mengusap puncak kepala Anna dengan sayang.
Rachel dan Anna sampai tidak sadar, jika ada sepasang mata yang menatap nanar ke arah mereka. Wajah Maura pias, mendadak pucat ketika melihat kedekatan antara Rachel dan Anna. Dadanya semakin sesak, ada rasa tidak terima dengan apa yang dia lihat ini.
Maura ingin marah, namun bingung melampiaskannya pada siapa. Dia hanya mampu mengepalkan tangannya kuat.
Sampai akhirnya Anna pun melihat ke arah Maura, lalu tersenyum miring dan memeluk pinggang Rachel.
Tidak Anna, kamu tidak akan pernah bisa menang melawan aku.
Tanpa banyak kata, Maura segera pergi dari sana. Dia kembali ke ruangannya dengan kekesalan yang membuncah, terlebih diantara langkah kakinya itu dia pun mendengar bisik-bisik para perawat yang membicarakan dia, tentang Alam yang sudah pasti memilih Anna ketimbang dia.
"Arght!" kesal Maura, sampai di ruangan dia langsung mengacak rambutnya frustasi.
Deru nafas Maura memburu karena amarah, namun dia coba tenang, coba kembali memikirkan bagaimana caranya membuat Anna keluar dari rumah sakit ini. Tapi sayangnya Maura tidak bisa benar-benar tenang, kini dia mulai diselimuti ketakutan dan cemas.
Sementara itu di ruangan Anna, kini Rachel dan Anna mulai duduk di sofa. Rachel pun mulai membuka beberapa kotak makanan yang dia bawa.
"Telepon lah Alam, suruh dia datang kemari kita makan bersama-sama," titah Rachel, namun Anna sedikit ragu untuk menuruti keinginan mertuanya itu. Pasalnya kini dia dan Alam sedang marahan, bukan! tapi hanya Anna yang marah.
"Kok malah diam, sana hubungi suami mu."
Tapi Anna masih diam, membuat Rachel menghentikan semua aktifitas dan menatap sang menantu.
"Kenapa? sedang marahan?"
Anna mencebik.
"Haduh-haduh, nanti kalau sudah ketemu tempat tidur juga baikan lagi."
"Mama!"
Rachel terkekeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...