Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 100 - Bukan Istri rahasia



Rapat umum yang diadakan di rumah sakit Medistra memang sudah usai, tapi semua orang masih terus membicarakan pembahasaan dalam rapat. Tentang Anna, tentang Maura dan semua hal yang sangat mengejutkan bagi mereka semua.


Tiga hari setelah diadakan rapat itu, Anna mulai menduduki posisi Direktur Utama Rumah Sakit Medistra. Sementara Alam kini menggantikan sang ayah di posisi Direktur Utama Rumah Sakit Royal Dude.


Firman sangat bahagia akan hal itu karena akhirnya dia bisa menyerahkan posisi tersebut pada sang anak dan dia menghabiskan waktu tuanya bersama istri berserta sang cucu.


Kasus Maura masih terus berlangsung, berkas gugatan Alam kini sudah masuk ke tahap pengumpulan barang bukti, setelahnya sidang akan dilaksanakan.


Pagi ini sebelum datang ke rumah sakit Medistra, Anna datang seorang diri ke makam keluarganya. Meletakkan satu-satu buket bunga di tiap makam.


Anna tersenyum, dia memilih untuk bersimpuh di sanding makam sang ibu.


"Mom, sekarang aku sudah jadi seperti mu, menjadi seorang ibu," ucap Anna, bercerita tentang hal sudah dia lalui.


"Namanya Aresha, putri ku."


Anna tersenyum kecil, kini dia tidak ingin menangis lagi. Tentang semua yang terjadi dimasa lalu sudah Anna ikhlaskan.


Masih bersimpuh di samping makam ibunya, tiba-tiba ponsel Anna bergetar.


Ada panggilan masuk dari sang suami, Alam.


"Halo Dad."


"Mommy dimana? kenapa belum sampai di rumah sakit? Aku menelpon Deril dan dia mengatakan kamu belum sampai, harusnya sejak 20 menit tadi kamu disana."


Mendengar kekhawatiran Alam membuat Anna tersenyum lebar, setiap hari Alam selalu memberinya banyak cinta seperti ini.


"Aku ke makam Dad, hanya sebentar. Ini sudah mau ke rumah sakit."


"Kenapa tidak mengatakan padaku , aku bisa menemani mu Mom."


"Hari ini daddy sibuk."


"Setiap hari kita selalu sibuk, tapi jika kamu memintaku berhenti, aku akan menghentikan semuanya."


"Aahhh dokter Alam," balas Anna dengan suaranya yang mendayu.


Panggilan itu terus terhubung, seraya Anna yang mulai bangkit dan keluar dari area pemakaman. Masuk ke dalam mobilnya dan barulah telepon itu putus.


5 bulan telah lewat.


Kini Maura sudah resmi di tahan untuk jangka waktu 8 tahun. Namun di bulan pertama penahanannya Maura sering lepas kendali, dia sering memukul para rekan tahanan.


Hingga akhirnya Maura dilarikan ke rumah sakit jiwa untuk menangani depresi yang dia dera.


Hari ini Anna ke rumah sakit Medistra dengan menggendong baby Aresha, di dampingi pula oleh Lily. Entah kenapa dia ingin membawa sang anak untuk berkunjung kemari. Disela-sela langkahnya, dia berpapasan dengan Karin.


Dilihatnya Karin yang sedang menggandeng seorang anak kecil, bocah tampan itu tidak asing dimatanya, dia adalah Rayden Carter.


Mereka saling sapa.


"Kenapa tuan muda ada bersama mu?" bisik Anna, kini Rayden sedang bermain bersama Aresha yang berada di gendongan Lily.


"Nyonya Jia sibuk mengurus bayinya, jadi Rayden sering ikut bersama ku dan Daniel."


Kedua wanita ini kembali memperhatikan anak-anak, melihat Rayden yang coba menggendong baby Aresha. Lucu sekali.


Tak lama kemudian Alam datang kemari.


Dia langsung memeluk pinggang Anna. Kini hubungan mereka tidak perlu disembunyikan lagi.


Anna bukan lagi istri rahasianya.


"Dokter Alam," sapa Karin.


Selepas saling sapa itu Anna dan Alam pamit untuk pergi, mereka terpaksa memisahkan Rayden dan baby Aresha yang masih asik bermain.


"Ha? lihat Dad, anak mu terus melihat Rayden," ucap Anna dengan terkekeh.


"Iya, persis seperti kamu dulu. Saat masih kecil kamu selalu melihat ke arahku."


"Apa iya? bohong!"


Alam terkekeh, dia lalu menggandeng tangan istrinya erat. Membiarkan semua orang melihat kemesraan mereka.


...TAMAT...