
"Kenapa? tumben peluk-peluk," tanya Alam. Tapi Anna tidak menjawab, dia semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang suami.
"Mau ya?"
"Mau apa?"
"Mau itu."
"Ish daddy, tunggu 40 hari dulu."
"Iya tahu, tapi kan cicip-cicip boleh."
"Iiss!" kesal Anna, dia mencubit pelan perut suaminya. Membuat Alam terkekeh, karena cubitan itu tidak terasa sakit, tapi geli.
Setelahnya mereka memutuskan untuk langsung tidur. Saat Anna sedang menyusui seperti ini, ia harus pintar-pintar mengatur waktu, disaat baby Sha tidur dia juga harus tidur.
Pagi datang.
Pagi itu Alam akan pergi untuk menemui kliennya, Adam Malik. Mereka sudah membuat janji temu di perusahaan Malik Kingdom. Alam ingin mengajukan sebuah kerja sama. Menyandang nama Adam Malik di barisannya akan memperkuat posisi Anna di rumah sakit Medistra.
Pertemuan mereka berlangsung selama 3 jam, Alam tidak datang sendiri, dia juga di dampingi oleh Deril.
Setelah pertemuan itu usai, Alam dan Deril memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sebentar. Selain memeriksa keadaan operasional rumah sakit, Alam dan Deril juga akan mengerjakan satu dokumen penting.
Kedatangan Alam itu sontak mencuri perhatian semua orang, terlebih di rumah sakit Medistra sedang gencar berhembus kabar jika Anna melahirkan.
"Lihatlah, saat dokter Anna sudah melahirkan baru dokter Alam datang ke rumah sakit," ucap seorang perawat.
"Jadi benar anak yang dikandung dokter Anna adalah anaknya dokter Alam."
"Sepertinya begitu, tapi hubungan apa yang sebenarnya mereka punya. Dokter Alam memang sudah menikah meski entah istrinya siapa, sementara Anna masih single. Apa mereka menjalin hubungan terlarang?"
Para perawat itu terdiam, mulai menerka-nerka.
Sementara Maura yang diam-diam mendengar pembicaraan itu pun langsung pergi dari sana. Dia mendatangi ruang kerja Alam.
"Aku ingin bicara berdua dengan dokter Alam, bisakah kamu pergi?" tanya Maura, melihat tak suka pada Deril.
Namun Alam merasa tak nyaman jika hanya dia dan Maura saja di ruangan ini, dia ingin Deril tetap ada disini.
"Katakan saja, Deril akan tetap disini," balas Alam dan Deril pasti menuruti keinginan tuan nya daripada Maura.
"Ada yang ingin aku bicarakan, masalah pribadi bukan tentang rumah sakit."
"Katakan saja, Deril bukan orang lain bagiku."
"Tapi Al, aku ingin kita bicara berdua," Maura mulai bicara biasa, seperti mereka saat di sekolah dulu. Dan mendengar panggilan itu benar-benar tidak terasa nyaman di pendengaran Alam.
"Katakan atau tidak sama sekali, aku sedang sibuk, jadi tolong manfaatkan waktu dengan baik," terang Alam yang mulai jengah.
Dan mendengarkan itu Maura hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
"Tentang Anna, kalau dia bukan siapa-siapa bagimu lebih baik segera buat pengumuman resmi, citra mu bisa buruk hanya karena gosip yang beredar di rumah sakit ini," balas Maura Akhirnya, memang inilah yang ingin dia katakan, meminta Alam untuk memperjelas hubungan diantara Anna dan Alam.
Alam yang awalnya melihat berkas akhirnya mengangkat wajah dan menatap Maura.
"Penjelas status mu itu Apa? kalau sudah menikah siapa istri mu? dan katakan juga jika Anna bukan siapa-siapa, kamu tidak perlu bertanggung jawab dengan anak yang dilahirkan Anna Al, aku yakin dia bukan anak mu."
Mendengar itu Alam terdiam, menahan amarahnya agar tidak pecah.
"Terima kasih saran mu Dokter Maura, aku akan membuat pengumuman saat Anna kembali bekerja nanti."
"Benarkah?"
Alam mengangguk kecil dan saat itu juga Maura tersenyum lebar.
Habis sudah riwayat mu An. batin Maura.