
Pagi itu Alam kembali menyentuh Anna di dalam kamar mandi, ingin benar-benar membuat Anna sebagai miliknya.
Alam percaya, wanita itu paling lemah dengan sentuhan. Setelah Alam memiliki tubuh Anna, dia yakin Anna akan memberikan hatinya.
Anna kembali mendesaah dibawah permainan Alam, rasanya kini dia benar-benar sudah gila. Malu melakukan ini semua bersama Alam. Tubuh mereka menyatu dan saling bergerak menciptakan irama, sama-sama mencari getaran yang memabukkan.
Semua milik Anna sudah dalam kuasa Alam, tubuhnya, harga dirinya. Anna tidak akan bisa lari lagi.
Di bawah guyuran air hangat itu, akhirnya mereka sampai pada puncak kenikmatan bersama.
Siang datang.
Anna dan Alam pergi ke rumah sakit bersama.
Jalan Anna sedikit Aneh, juga beberapa bercak merah yang sedikit terlihat di tengkuk leher Anna.
Alam suka sekali melihat itu, mereka saling menatap sejenak sebelum akhirnya berpisah di salah satu lorong.
Interaksi yang selalu menjadi pusat perhatian semua orang.
Hari ini Pricilla sudah pulang, Anton juga sudah mendapatkan surat peringatan 1. Kini Anton lebih banyak diam, dia hanya fokus pada pasien-pasiennya.
Sementara nama Anna semakin melambung dan banyak dibicarakan orang. Mulai banyak pasien yang memilih untuk dirawat oleh Anna.
Siang menjelang sore waktu itu, Anna dan Maura tidak sengaja bertemu di dalam lift. Awalnya memang banyak orang, lalu kemudian hanya menyisahkan mereka berdua.
Maura menatap Anna, melihat ada tanda merah di leher dokter baru ini.
Maura berdecih, menilai jika Anna adalah wanita murahan.
"Apa malam mu menyenangkan dokter Anna? sebagai wanita yang masih single, hidupmu bebas juga," sindir Maura dengan senyum menghina.
Anna sadar, Maura pasti melihat lehernya. Tapi ini semua gara-gara Alam yang melarang Anna untuk menutupi itu. Hukuman karena Anna menggunakan status single di kartu pengenalnya.
"Anda benar dokter Maura, malam ku sangat menyenangkan dan penuh gairah. Aku cukup prihatin melihat kondisi Anda, di usia seperti ini belum merasakan indahnya surga dunia," balas Anna dengan senyumnya yang lebar.
Dan melihat wajah kesal Maura, membuat Anna semakin bersemangat memanas-manasi perawan tua ini.
"Lihatlah leher saya dok, ini buatan kekasih saya, dia perkasa Sekali," ucap Anna dengan menunjukkan lehernya.
"Sekarang saja aku sulit berjalan," timpal Anna lagi, makin membuat Maura geram.
Dan saat pintu lift terbuka, Maura keluar lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Anna langsung tertawa terbahak.
Tawanya mendadak reda, saat di depan lift tiba-tiba ada Alam. Dengan cepat Alam masuk dan kembali menekan tombol hingga pintu itu tertutup.
"Eh eh aku mau keluar!" ucap Anna tapi dia terlambat, karena kini lift mulai berjalan naik.
Anna menelan ludahnya kasar, melihat tatapan sang suami yang seperti ingin menerkam dia.
"Al, disini ada cctv." Anna mengingatkan.
"Aku tahu, aku hanya ingin memegang tanganmu." Alam mengikis jarak, mereka berdampingan dan saling menggenggam dibalik punggung.
"Kenapa membawaku naik? Aku mau turun," ucap Anna.
"Temani aku dulu, kita temui pasien VIP sebentar."
"Nanti banyak yang curiga, kenapa aku harus menemani kamu."
"Pasien VIP ini salah satu pemegang saham, dia ingin bertemu dengan mu. Dia mendengar banyak cerita tentang kamu."
Anna terdiam.
"Selain para direksi, dekati juga para pemegang saham. Setelahnya jalan mu menuju kursi ku akan semakin lancar."
Anna mengulum senyum, sangat tidak sabar menantikan hari itu. Hari dimana dia akan membanggakan keluarganya yang sudah tiada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...