
Sampai di salah satu ruang rawat VIP, Alam dan Anna langsung menemui sang pasien yang juga adalah salah satu pemegang saham di rumah sakit Medistra , Daniel Lincoln.
"Tuan Daniel," sapa Alam dan Daniel pun menyambut baik sapaan itu. Disana ada perkenalan singkat diantara semua orang. Bocah kecil bernama Rayden juga memperkenalkan dirinya dengan sopan. Membuat Anna merasa gemas.
Jadi membayangkan jika nanti dia memiliki anak laki-laki sepintar Rayden.
Selesai perkenalan, Alam mulai melakukan pemeriksaan dengan Anna yang mendampingi.
Dilihat oleh mereka keadaan Daniel yang baik-baik saja, bahkan dari mata, telapak tangan dan mulut tidak ada tanda-tanda penyakit yang sedang menyerang. Suhu tubuh normal, tekanan darah normal dan fisik segar bugar.
Tapi Daniel mengeluh dadanya sakit.
"Sebaiknya kita lakukan pemeriksaan lanjutan Tuan, kita pergi ke leb untuk memeriksa semua organ dalam Tuan," ucap Alam. Penyakit dalam memang akan lebih akurat setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Tapi bukannya setuju, Daniel malah langsung menolaknya dengan cepat.
"Tidak separah itu dokter Alam, sepertinya aku hanya butuh infus," kilah Daniel.
"Tapi tekanan darah anda normal Tuan, kondisi fisik Anda juga bagus, tidak perlu menggunakan infus. Lebih baik kita melakukan pemeriksaan lanjutan."
"Kalau ternyata ada yang tidak beres di dadaku, apa aku akan di operasi Dok?"
"Itu langkah terakhir Tuan, lebih baik kita pastikan dulu."
"Kalau dioperasi apa aku akan dibius sampai tidak sadar Dok?"
"Bius dengan dosis yang aman."
"Bagaimana jika dokter itu membiusku sampai mati?"
"Tidak akan ada yang seperti itu Tuan." jawab Alam dengan mengulum senyum tipis, sementara Anna sedang berusaha menahan tawanya. Anna pikir pasien VIP yang akan dia temui adalah pasien yang mengerikan dan menyebalkan, ternyata dugaannya salah, Daniel adalah pasien yang aneh.
"Baiklah, besok aku akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Sekarang lebih baik panggil dokter biusnya, aku ingin bicara 4 mata." pinta Daniel.
"Oh ya dokter Anna, aku ingin dokter biusnya yang satu tim dengan mu saat kamu melakukan operasi gadis remaja itu." pinta Daniel lagi .
Dan Anna menganggukkan kepala sebagai tanda iya dan hormatnya.
Setelah sepakat, Alam dan Anna pamit keluar, memanggil Karin untuk datang ke ruang VIP ini.
Kini Alam dan Anna kembali berada di dalam lift hendak turun ke lantai 1.
"Ku pikir pasien nya sudah tua dan menyebalkan, ternyata_"
"Ternyata apa?" potong Alam langsung.
"Ternyata masih muda dan tampan?" tanya Alam langsung, belum sempat Anna menjawab pertanyaannya yang pertama.
Tapi pertanyaan kedua Alam itu membuat Anna mengerutkan dahi, kenapa jadi muda dan tampan? apa Alam cemburu? pikirnya.
"Kamu cemburu?" tanya Anna, apa yang ada di dalam kepala nya, itulah yang dia ucapkan.
Alam tidak menjawab, malah menatap Anna dingin. Dia masih ingat dengan jelas saat Anna tersenyum lebar di ruang VIP tadi. Senyum untuk Rayden namun Alam mengartikannya itu senyum untuk Daniel.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Anna lagi.
"Lihat leher ku, apa wanita dengan banyak bercak seperti ini layak untuk dicemburui!" kesal Anna, dia sangat yakin jika pasien di ruang VIP tadi pun melihatnya juga.
Dan menyadari itu, Alam langsung mengulum senyum. Dia menarik Anna dan didekapnya erat, namun buru-buru melepas saat tiba-tiba pintu lift terbuka.
Dengan segera mereka mengambil jarak aman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...