Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 67 - Relakan Mereka Pergi



Awalnya Anna ingin mengunakan handuk kimono dan masuk ke dalam kamar mandi. Tapi dia urungkan dan memilih polos saja.


Sudah jadi jati dirinya untuk melakukan semuanya secara totalitas, termasuk saat melayani sang suami.


Dengan tubuh polosnya itu Anna masuk, dia sedikit melipat kakinya menggoda. Melihat sang suami yang menatapnya tanpa berkedip.


"Mendekatlah padaku pelan-pelan, lihat ke arah bathtub, saat takut langusng lihat wajah ku lagi," ucap Alam, setelah dia puas memandang indahnya tubuh sang istri.


Anna menelan ludahnya kasar, lupa jika saat ini dia sedang di terapi. Anna melirik ke arah bathtub, air itu benar-benar berwarna merah seperti kolam darah.


Jantung Anna bergemuruh hebat, juga kakinya yang terasa berat untuk mendekat.


Namun Anna coba kendalikan diri, dia melihat Alam yang tersenyum ke arahnya.


Ayo An, kamu bisa. batin Alam, dia mengulurkan tangannya, ingin Anna menyambut itu.


Dan perlahan Anna melangkah, tapi fokusnya pada mata Alam.


"Lihat bathtub nya," ucap Alam dan Anna menurut.


Anna terus melangkah sampai akhirnya tiba di dalam dekapan Alam. Alam langsung memeluknya erat, bahkan menciumi ceruk leher sang istri yang sudah terbuka sempurna.


"Tenanglah, kamu tidak sendiri sayang, ada Aku,"bisik Alam, Anna memejamkan matanya dan memeluk Alam erat. Jujur saja dia masih takut, tapi tekad Anna pun semakin kuat untuk sembuh. Dia tidak ingin membebani Alam.


"Apa kita harus mandi disitu?"tanya Anna, dia menatap Alam, sesekali melirik ke arah bathtub.


"Tentu saja."


"Aku bisa pingsan."


"Tapi bukan pingsan karena takut, melainkan pingsan karena kenikmatan."


"Iss nakal sekali!"


Mereka berdua tersenyum, lalu Alam lebih dulu mengikis jarak dan mencium bibir sang istri, melumaatnya seraya semakin mengeratkan pelukan.


"Jangan buka matamu," ucap Alam dan Anna menurut. Dia terus terpejam dan menikmati semua sentuhan, sentuhan yang terasa hingga sampai di intinya.


Anna mendesaah saat akhirnya sang suami menenggelamkan senjatanya diantara kedua kaki. Dan saat itu pula, Alam meminta Anna untuk membuka mata ...


"Buka mata mu."


Lagi-lagi Anna menurut, pelan-pelan dia membuka mata dan melihat tubuh mereka berdua terendam dalam air berwarna merah ini. Dia nyaris menjerit takut, sampai akhirnya Alam menggerakkan tubuhnya dan takut itu berubah jadi desaah.


Mulut Anna menganga, menerima serangan sang suami yang begitu memabukkan.


Belum lagi saat Alam mulai menggerakkan tangannya, meremaas sesuatu yang paling sensitif dibagian dada.


Anna tidak sempat takut, dia terus mendesaah. Sampai akhirnya puncak pertama dia dapatkan sendiri. Sementara Alam masih berdiri tegak.


"Bisakah aku meminta pelayananan mu?" tanya Alam dan Anna langsung terkekeh.


"As you wish hubby," jawab Anna, dia mulai mendorong tubuh Alam dan mengambil posisi diatas. Warna merah yang mengelilingi mereka tidak lagi membuat Anna takut, dia bergerak sesuai dengan nalurinya, terus memancing sang suami untuk sampai di puncak.


Dan ketika pelepasan itu nyaris datang, Alam langsung memeluk Anna erat. Desahaan panjang mereka begitu jelas terdengar. Menyusahkan nafas yang memburu.


Nafas yang lama-lama jadi tenang.


"Sayang," panggil Alam dan Anna mendongak, dia masih duduk diatas pangkuan Alam meski penyatuan mereka sudah terlepas.


"Relakan kepergian mommy dan daddy, juga Abian dan Keysha," ucap Alam lembut, dia pun mengelus wajah sang istri dengan sayang.


"Relakan mereka pergi, kamu tidak sendiri. Ada Aku, papa, mama, bella, Luna dan Ardi. Kami sangat mencintai kamu."


Anna menangis dan Alam langsung menghapus air mata itu. Ketakutan Anna pada darah bisa jadi karena Anna pun belum bisa merelakan keluarganya pergi. Itulah yang dikatakan Samantha, dan meminta Alam untuk membuat Anna menerima semua yang terjadi.


"Aku ingin memiliki anak dari mu sayang," ucap Alam lagi, membuat darah Anna berdesir dan jantungnya berdebar.