
"Buka selimutnya," titah Alam.
"Aku malu."
"Kenapa malu, aku sudah melihat semuanya."
"Tapi bukan begitu, bukan berarti aku bebas tanpa pakaian di depanmu." sanggah Anna, dan Alam paling tidak bisa melawan jika sudah berdebat seperti ini.
"Baiklah, aku akan ambilkan handuk kimono mu," ucap Alam, dia berjalan ke kamar mandi dan mengambil handuk sang istri. Menyerahkan handuk itu pada Anna lalu berbalik, memunggungi istrinya yang sedang memakai handuk.
"Sudah belum?" tanya Alam.
"Sebentar lagi."
Alam menunggu.
"Sudah," ucap Anna akhirnya.
Alam kembali duduk ditempat yang sama, di sebelah Anna yang masih berada di atas ranjang. Dia merapikan rambut Anna yang acak-acakan, menyingkapnya ke belakang hingga memperlihatkan tanda merah di leher Anna.
Melihat itu Alam mengulum senyum, dulu sempat dia tahan agar tidak membuat tanda kepemilikan. Tapi semalam di puas-puaskan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Anna, melihat tatapan Alam yang seperti pria mesyum.
"Apa salahnya menatap istri sendiri?"
"Tapi tatapan mu itu mengerikan."
Alam terkekeh, "An, apa ada yang ingin kamu tanyakan padaku, apapun itu aku akan menjawabnya," ucap Alam.
Kini hubungan mereka sudah semakin dalam, rasanya baik dia ataupun Anna sudah harus saling terbuka satu sama lain.
Ditanya seperti itu, Anna tidak langsung menjawab, dia malah diam dan sibuk berpikir. Memikirkan tentang 10 tahun masa lalu mereka.
"Jika tidak ada, aku yang akan bertanya," ucap Alam lagi.
"Kenapa kamu melakukan ini, apakah karena papa dan mama?" tanya Alam dengan tatapannya yang mulai nampak sendu. Dia menggenggam erat kedua tangan Anna.
Tapi lagi-lagi Anna hanya diam, dia bingung. Beberapa detik diambil jeda hingga akhirnya Anna buka suara.
"Kenapa selama 10 tahun ini, kamu tidak pernah menemui aku? mama, papa, Bella, Luna bahkan Ardi datang kesana, tapi kamu tidak."
"Itu juga masa yang sulit bagiku An, waktu itu aku harus memimpin 2 rumah sakit sekaligus. Papa pergi kesana dan Ardi belum siap. Apalagi saat itu banyak orang-orang yang ingin mengambil alih rumah sakit Medistra."
"3 tahun pertama aku tau itu sulit, tapi setelahnya kamu juga tetap tidak datang."
"Aku menemui dokter Samantha, dia menceritakan semuanya tentang kamu, tentang phobia darah mu. Aku meminta hypnotherapy dengan aku sebagai objeknya. Tapi kamu lebih memilih untuk membenci aku An, jadi aku putuskan untuk tidak menemui kamu."
Anna terdiam, tergugu. Ingat jelas dalam benaknya, saat itu Samantha mengatakan jika ketakutan yang dia rasa harus dialihkan pada perasaan lain, mencintai atau membenci dan obyeknya adalah Alam. Saat itu Anna memilih untuk membenci.
"Apa sekarang kamu masih membenci aku An? setelah kita melakukannya, apa kamu berpikir untuk pergi dariku?" tanya Alam, sesaat setelah mereka sama-sama diam.
Dan Anna tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku tidak ingin kita berpisah. 10 tahun bukan waktu yang sebentar, selama itu juga kita sudah terikat An ..."
"Cinta bisa datang karena terbiasa, karena itulah biasakan dirimu denganku, dengan sentuhan ku," ucap Alam lagi dengan suaranya yang mulai berat.
Alam mengikis jarak, membelai wajah Anna dan berhenti di bibir istrinya.
"Buka mulutmu," ucap Alam lagi, anehnya Anna menurut dan saat itu juga Alam langsung menyesap bibirnya. Ciuman dalam dan penuh cinta yang Alam berikan.
Anna melenguh, dia memukul dada Alam pelan, ingin ciuman ini terhenti. Tapi Alam masih belum mau, satu tangannya bahkan menarik tali handuk Anna hingga terlepas, setengah terbuka dada itu menyembul. Alam meremaasnya kuat.
"Kamu milikku An," ucap Alam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...