
Alam dengan segera mendekat kepada Anna, dia pun memeluk pundak sang istrinya erat.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alam.
Sebuah pertanyaan yang membuat Anton mendelik. Terpaku melihat interaksi keduanya.
"Tidak tahu Sayang, tiba-tiba mual."
"Kepala mu pusing?"
"Tidak." rengek Anna, dia mau menangis. Perutnya yang terasa tidak nyaman cukup membuatnya bersedih.
"Berbaringlah, biar ku periksa."
"Tidak mau, aku cuma mau dipeluk seperti ini."
"Tapi perut mu mual Sayang, aku obati dulu ya?"
"Tidak mau," rengek Anna, Akhirnya dia menangis juga. Jadi kesal dengan Alam yang tidak mau dia peluk.
Anna menangis dan Alam jadi bingung.
Dan jangan lupakan Anton, dia lebih bingung melihat ini semua. Matanya masih mendelik, namun lidahnya masih kelu untuk bertanya ada apa? kenapa jadi begini? kenapa kalian?
Anton sangat bingung.
Padahal setahu dia, diantara mereka benar-benar tidak ada hubungan. Apalagi saat Alam memberikan hukuman kepada Anna untuk menambah shift jaga, makin membuat Anton yakin jika diantara keduanya memang tidak ada hubungan spesial.
Tapi apa ini? apa yang dia lihat ini?
"Iya, iya maafkan aku, tidak usah diperiksa, sini ku peluk."
"Tidak mau, kamu jahat, aku cuma mau ditenangkan, kenapa kamu tidak mengerti?"
"Iya sayang maafkan aku."
Tangis Anna pecah.
Dan Anton jadi semakin bingung.
Ehem! Anton berdehem, seketika perhatian Anna dan Alam tertuju padanya.
Anna dan Alam sangat terkejut, sungguh mereka berdua melupakan jika ada Anton disini. Seketila ketakutan mendatangi Anna, mulai takut bagaimana jika Anton mengetahui hubungannya dengan Alam.
"Anna istriku."
Anna dan Alam saling pandang, sementara Anton makin menganga.
"Maaf dokter Anton, kami memiliki hubungan. Ku harap anda bisa menjaga rahasia ini," jelas Alam lagi dan Anna mengangguk setuju.
Sementara Anton? mengangguk cengo.
Sesaat suasana jadi canggung dan lebih canggung lagi ketika Anton pun buka suara ...
"E ... se-sepertinya dokter Anna hamil," ucap Anton ragu, apalagi ketika dia tidak tahu ada hubungan apa diantara mereka berdua, suami istri? atau pasangan selingkuhan.
Astaga! hanya membayangkannya saja sudah membuat Anton pusing. Lalu bagaimana bisa mereka sampai memilili anak.
Ya Ampun! Anton tidak sanggup lagi untuk membayangkannya.
"Hah? apa? Aku hamil?" tanya Anna pula, dia pun sungguh tidak tahu. Sementara Alam menelan ludahnya susah payah, antara bahagia dan takut jika harapannya terlalu besar untuk hal itu.
"Saya akan panggil dokter kandungan kesini."
"Ya cepat panggilkan!" titah Alam atas ucapan Anton tadi.
Tidak berselang lama setelah Anton pergi, dia kembali lagi bersama seorang dokter wanita. Dokter Marleen yang menjadi dokter kandungan satu-satunya di rumah sakit ini.
Setelah mengantar dokter Marleen, Anton pun pamit undur diri. Namun sebelum benar-benar keluar, Alam kembali memanggil Anton dan bicara berdua saja, sedikit menjauh dari Anna dan Marlene yang duduk di sofa.
"Rahasiakan hubunganku dengan Anna, dia adalah istriku."
"Baik Dok," jawab Anton patuh. Meski banyak pertanyaan di dalam kepalanya, namun tidak ada satupun yang berani dia utarakan.
Anton cukup yakin, jika Anna adalah istri kedua Alam.
Ya, Anton meyakini itu agar otaknya tetap berpikir waras.
Selepas Anton pergi, Marleen mulai memeriksa kondisi Anna. Bahkan Anna diminta pula untuk memeriksakan diri menggunakan testpack.
Hasilnya ada dua garis merah meski masih nampak buram.
"Bagaimana Dok? apa istri saya hamil?" tanya Alam, dengan hati yang berharap penuh jika jawaban Marleen adalah Iya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...