
"Dokter Anna, kenapa Anda disini? ini masih shift pagi, bukankah mulai sekarang shift anda siang dan malam?" tanya Maura dengan suaranya yang geram. Rasanya muak sekali, pagi-pagi melihat Anna yang menggoda Alam.
"Dokter Maura, ada perlu apa Anda datang kemari? bukankah untuk menemui ku, kenapa malah bertanya pada dokter Anna?" potong Alam, membuat Maura semakin geram. Karena kekesalannya pada Anna belum tertuntaskan.
"Maaf dokter Alam, aku mendengar dokter Alam menginap. Jadi aku pergi ke kantin rumah sakit dan membawakan makanan ini, ada juga minuman hangat," jawab Maura dengan menunjukkan senyumnya. Meski kesal pada Anna, namun dia harus tetap telihat cantik dan anggun di mata Alam. Dia juga mengangkat makanan dan minuman yang dia beli untuk Alam.
"Terima kasih, kamu bisa meletakkannya di meja."
Maura menurut, dia mulai melangkah dan meletakkan semua makanan yang dia bawa di atas meja. Namun semakin risih saat melihat jas dokter Anna ada di salah satu kursi.
Dasar wanita penggoda! Maura semakin geram.
Tidak memiliki alasan lain disana, akhirnya Maura pergi. Namun sebelum benar-benar keluar, Maura kembali berbalik dan menatap Anna.
"Dokter Anna, jika sudah tidak ada urusan keluarlah. Jangan mengganggu dokter Alam." ucap Maura.
Saat itu Anna langsung tersenyum kecil, tahu jika Maura pasti cemburu.
"Baiklah dokter Maura, setelah urusan saya selesai saya akan pergi," jawab Anna dengan tersenyum, dan senyum itu terlihat menyebalkan sekali di mata Maura.
Dengan langkah berat akhirnya Maura keluar, Anna langsung berlari dan mengunci pintu.
Anna terkekeh, teringat wajah kesal Maura.
"Kenapa tertawa?" tanya Alam, dia mendekat dan memeluk istrinya.
"Dasar tidak peka."
"Kenapa jadi aku yang tidak peka."
"Dokter Maura itu menyukai mu Al, dia pasti kesal melihat kita bersama."
"Oh, aku akan turun mengambil ganti baju di mobil. Kamu ingin makan sesuatu, biar sekalian aku beli." tawar Alam, dia memeluk pinggang Anna erat, bahkan mengelus punggung istrinya naik turun. Entahlah, tiap berada didekat Anna, rasanya dia selalu ingin menyentuh tubuh istrinya ini.
"Aku ingin makan sup."
Alam menciumi bibir Anna dan Anna pun membalasnya, ciuman kasar itu membuat Anna terdorong hingga membentur pinggiran Sofa.
Bukannya berhenti, Alam malah semakin lancar memberikan serangan. Meremaas dada Anna yang tertutup rapat.
"Al," lirih Anna saat Alam mulai menciumi lehernya, kedua tangan itu pun menelusup masuk ke dalam baju terusan yang dipakai oleh sang istri, merayap naik ke punggung dan melepaskan pengait bra Anna.
"Alam."
"Sebentar saja sayang," balas Alam, untuk pertama kalinya Anna mendengar Alam memanggilnya sayang. Tentu saja dia terbuai dan membiarkan sang suami berbuat semaunya. Kembali menyesap dadanya dan memberikan sensasi bergetar di seluruh tubuh.
"Mulai sekarang saat kita berdua seperti ini, jangan hanya panggil namaku," pinta Alam setelah dia puas menyesap kedua dada itu. Tapi satu tangannya masih bersarang disana, kini dia menatap Anna.
"Lalu panggil apa?"
"Terserahmu, sayang boleh."
"Hii, lucu sekali."
"Katakan, aku ingin dengar."
"Tidak mau, aku malu, lidahku terlalu kaku untuk mengatakan itu."
Di tolak, Alam langsung meremaas kuat pegangan tangannya, membuat Anna menjerit nikmat.
"Katakan."
"Kamu jahat."
"Panggil aku sayang."
Anna mengigit bibir bawahnya, rasanya sangat malu untuk mengucapkan sepatah kata itu. Tapi Alam menatapnya dengan lekat.
"Sayang," panggil Anna akhirnya.