
Tepat jam 6 pagi Maura sudah kembali ke rumah sakit, dia kembali melihat Anna yang masih terjaga di ruang IGD bersama dengan perawat yang lain.
Saat jam 9 dan Anna berganti Shift, Maura pun masih mengamati, tapi kini bibirnya tersenyum menyeringai. Ditangannya sudah ada 1 kantung darah.
Maura akan menyiram darah itu ditubuh Anna saat Anna sendirian di dalam ruangannya.
Dalam benaknya mulai terbayang, Anna yang akan berteriak histeris dan takut melihat tubuhnya sendiri yang berlumuran darah.
Membayangkan itu Maura terkekeh, namun dengan segera dia mengulum bibirnya agar tawa itu mereda.
Di langkah kaki Anna yang sedikit lemas menuju ruangannya, Maura pun mengikuti. Dilihat oleh Maura, Anna yang berulang kali menguap, juga memijat tengkuknya sendiri.
Melihat itu Maura makin senang saja, kondisi Anna yang lemah itu akan semakin menambah keuntungan untuk dia.
Namun tiba-tiba langkah kaki Maura terhenti. Saat matanya menangkap Alam yang menghampiri Anna.
Kedua matanya membola, ketika dia melihat secara langsung Alam yang memeluk tubuh dokter baru itu dan mengecup sekilas bibir Anna.
Deg! darah Maura mendidih, diantara percaya dan tidak dia melihat itu semua. Berulang kali bahkan Maura menggeleng, menolak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Tidak tidak, itu pasti salah, tidak, tidak mungkin."
Secepat kilat Maura bersembunyi, saat mata Alam mulai melihat ke arahnya. Jantung Maura bergemuruh hebat, kini dia sudah dikuasai amarah.
"Tidak, itu tidak benar, tidak mungkin Alam dan wanita itu. Tidak, tidak."
Maura terus berucap Tidak.
Saat dia kembali mengintip Anna dan Alam, kedua orang itu sudah tidak ada disana. Dengan langkah cepat Maura menghampiri tempat Anna tadi, melihat sekeliling dan memastikan benarkah kedua orang itu tidak ada.
"Kemana mereka?" Maura mulai gusar, wajahnya nampak cemas, takut dan marah.
Tidak ingin rencananya gagal, Maura lantas berlari menuju ruangan Anna dan membuka pintunya dengan kasar.
Tapi sayang, disana tidak ada siapa-siapa. Maura tidak melihat Anna di tiap sudut ruangan itu.
"Tidak mungkin!" kesal Maura, dia sangat geram.
Rencananya gagal dan dia malah melihat Alam bersama wanita murahan itu. Masih terbayang jelas diingatan Maura saat Alam memeluk dan mencium Anna.
"Aa!!" pekik Maura, dia mengacak rambutnya frusati, bahkan melempar asal kantung darah yang dia bawa di atas meja Anna. Untunglah kantung darah itu masih tertutup rapat, hingga tidak pecah ataupun tumpah.
"Arghh! tidak mungkin, ini tidak mungkin! aku pasti salah lihat, aku pasti salah!"
Maura coba menenangkan diri, dia coba menormalkan nafasnya yang memburu. Mencoba berpikir bahwa yang dia lihat tadi adalah salah.
"Ya, itu pasti salah!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di tempat lain, Alam membawa Anna untuk langsung menuju ruangannya. Alam memang sempat melihat Maura dan dia sengaja melakukan itu semua.
Memeluk dan mencium Anna.
Alam pun sempat melirik wajah Maura yang nampak pias dan merah, seperti mau marah.
Tapi saat itu bukan hanya Maura yang geram, Alam pun semakin bertanya-tanya kenapa Maura mengikuti Anna. Juga kenapa Maura membawa kantung darah di tangannya?
Apa Maura tahu phobia Anna?
"Sayang, kenapa kesini? tas ku kan ada di ruangan," keluh Anna, dan langsung membuyarkan lamunan Alam.
"Apa tadi kamu sadar jika ada orang yang mengikuti kamu An?"
"Hah? apa sih?" tanya Anna balik, cengo. Dia memang tidak tahu apa-apa.
Dan melihat wajah polos Anna itu Alam langsung mengusap puncak kepala sang istri, gemas. Dengan tersenyum, Alam menarik Anna untuk dipeluknya erat.
"Tidak," balas Alam, dia pun mencium kening Anna dengan penuh kasih sayang.