
Alam menangis, dia mengusap wajahnya kasar sebelum menerima uluran bayinya dari tangan Bella.
Bayi mungil ini baru saja keluar dari dalam perut sang ibu, Anna masih mengatur nafasnya yang terengah. Sampai tidak tahu jika Alam sudah menangis sambil menggendong anaknya. Alam, Rachel dan Luna ikut masuk ke ruang persalinan menemani Anna.
45 menit ruangan ini gaduh dan kini mendadak tenang ketika si jabang bayi sudah keluar, sudah dibersihkan pula oleh Bella.
"Ann, ini mendapatkan 4 jahitan, rasanya sedikit sakit, tahan Ya?" pinta Bella. Namun sebelum dia bergerak untuk mulai menjahit, dia lebih dulu melihat sang abang.
"Abang, berikan dulu bayi itu pada Mama. Lebih baik abang pegang Anna lagi," titah Bella.
"Memangnya dijahit sakit Bel?" tanya Anna, kini dia sudah merasa lega setelah anaknya lahir, tidak ada lagi sedikitpun sakit yang dia rasa.
"Kalau kata pasien-pasienku sebelumnya sih seperti digigit semut."
"Oh, oke deh."
"Siap Ya?"
"Iya."
"Aduh!! Bella!!" pekik Anna saat merasakan intinya sakit luar biasa, rasanya sama saja seperti melahirkan tadi. Bahkan entah kenapa bagi Anna rasanya lebih ngilu.
"Tenang sayang, 3 kali lagi Ya?" Alam pun coba menenangkan, namun Anna malah menatapnya tajam. Anna memang tenang, namun tetap aja butuh berteriak untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Aw Bella!!" rengek Anna lagi saat jahitan kedua dia dapatkan.
Dan terus berteriak seperti itu sampai akhirnya 4 jahitan selesai. Anna menangis, namun langsung tenang saat Rachel mendekatkan bayi mungil itu pada Anna.
Tangisan Anna hilang, diubah jadi senyum yang terkembang sempurna.
"Cantik, seperti aku."
"Ya ya ya, sangat cantik," balas Luna pula, membuat semua orang disana tersenyum bersama.
Dari ruang persalinan itu, Anna dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Disana seluruh kelurga Dude berkumpul dan memandang searah menuju cucu pertama di keluarga Dude. Bayi cantik yang belum diberi nama oleh Anna dan Alam.
"Karena ini cucu pertama, maka yang paling berhak memberinya nama adalah papa," ucap Firman tak mau kalah, membuat para wanita mencebik. Sementara Ardi hanya diam, bergerak pelan mendekati bayi itu hingga sampai di samping Alam yang sedang menggendong.
Pipinya merah. Batin Ardi. Dia memang lebih suka membatin dari pada bicara langsung, benar-benar pria yang dingin.
"Mana bisa, ini kan anakku Pa. Jadi tetap aku yang akan memberinya nama." balas Alam pula.
Sementara Anna sudah di mode pasrah, dia akan ikuti apapun keputusan semua orang. Kini dia sedang disuapi makanan oleh Rachel.
"Selama ini sebenarnya aku sudah memikirkan nama untuk dia,"timpal Alam lagi, bicara lebih serius sambil menatap sang anak yang berada di gendongannya.
"Siapa?" tanya Bella.
"Aresha Dude," jawab Alam dengan bibirnya yang tersenyum, senyum yang akhirnya menular pada semua orang.
Akhirnya mereka setuju, jika bayi mungil nan cantik itu akan diberi nama Aresha.
"Baby Resha," panggil Luna.
"Kalau masih kecil Baby Echa Lun," balas Bella.
"Kalau begitu baby Caca saja."
"Tidak, baby Echa."
"Caca."
"Echa!"
Kedua wanita ini terus berdebat, membuat yang lainnya merasa pusing. Perdebatan mereka terhenti saat Rachel mulai buka suara.
"Jangan ganggu anaknya Anna dan Alam, kalau kalian ingin memberi nama sebaiknya buat anak sendiri."