
15 menit Maura sudah sampai di ruang IGD, tapi saat itu Anna tidak datang-datang juga.
Baru mulai melangkah untuk mencari dan memarahi, tiba-tiba dilihat oleh Maura, Anna yang memasuki IGD.
Dia mengeram kesal dan mendekati Anna.
"Darimana saja kamu? baru minggu kedua jaga malam sudah semaunya," geram Maura. Ucapan nya mampu di dengar oleh para perawat yang lain namun Maura tidak peduli, dia malah merasa bangga dan menunjukkan kekuasannya disini.
"Maaf Dokter Maura, saya tidak akan mengulanginya lagi," jawab Anna dengan santainya, dia tersenyum sambil menghapus peluh di dahi.
Benar-benar tanggapan yang sangat dibenci oleh Maura. Semakin ingin dia tahu kelemahan Anna.
Malam ini Maura bahkan bertekad untuk membuat Anna hancur tanpa tanggung-tanggung.
Saat tepat jam 2 dini hari, rumah sakit semakin terasa sepi. Bahkan di lorong-lorong pun tidak nampak ada orang yang lewat. Semua perawat dan dokter berada di bagian jaga, di tengah-tengah setiap lantai yang dihuni oleh pasien.
Dan Maura masih terus mengamati Anna. Saat melihat Anna dan Tissa menuju dapur ruang jaga dia pun mengikuti. Menguping pembicaraan kedua orang itu.
"Terima kasih Tis," ucap Anna, karena minggu ini Tissa akhirnya ikut jaga malam. Demi bisa mendampingi Anna, Tissa merubah jadwal jaganya, dari shift jaga siang jadi jaga malam.
Mereka berdua sedang membuat kopi.
"Jangan berterima kasih, dengan begini aku bisa mengurangi rasa bersalah ku padamu. Bagaimana pun kamu dihukum begini gara-gara aku juga, maafkan Aku," jawab Tissa apa adanya, jujur saja dia masih merasa bersalah tentang kejadian beberapa hari lalu, kejadian yang membuat Anna dihukum seperti ini.
Padahal dia sudah berjanji untuk selalu ada.
"Itu bukan salah mu Tis, aku juga tidak bisa selamanya bergantung padamu. Aku memang harus mengatasinya sendiri."
"Tapi kamu butuh bantuan An, andai orang mengerti itu."
"Sudah, jangan dibahas lagi. Aku baik-baik saja kok."
"Siapa sih kekasih mu? kalian pasti sering melakukan itu ya? hii lehermu itu mengerikan sekali," goda Tissa yang ingin mengalihkan pembicaraan.
Maura yang mendengar itu mulai mendengus kesal, padahal dia sudah bersemangat untuk mendengar pembicaraan antara Anna dan Tissa yang pertama, tapi kini malah pembahasan mereka lain.
Pembahasan yang membuatnya geram. Sebelum Anna dan Tissa keluar, dia lebih dulu pergi dari sana.
Menjauh dengan pikirannya yang kembali menerka-nerka.
Anna dihukum karena sikapnya saat berhadapan dengan pasien kecelakaan itu.
Tapi Tissa meminta maaf untuk hal itu. Kenapa?
Anna tidak bisa bergantung selamanya pada Tissa. Tapi dia memang harus mengatasinya sendiri.
Apa maksudnya itu?
Maura terus berpikir dan mencocokkan nya satu sama lain. Hingga akhirnya dia mengambil sebuah kesimpulan.
Anna memang memiliki phobia darah, tapi dalam keadaan tertentu. Keadaan seperti kecelakaan parah yang dialami pasien saat itu.
Menyadari itu Maura menyeringai.
Rencana di dalam benaknya makin menjalar dengan liar. Andai phobia tidak ditangani, bisa saja orang itu akan gila bila dihadapkan pada keadaan yang membuatnya takut.
"Habis sudah nasibmu An, ku rasa besok pagi adalah akhir hidupmu," gumam Maura. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, malam menjelang pagi saat itu juga Maura memutuskan pulang.
Menyusun rencana selanjutnya dengan matang.