Doctor Alamsyah'S Secret Wife

Doctor Alamsyah'S Secret Wife
DASW BAB 61 - Membuat Anna Diam



Sampai di rumah.


Alam meminta Anna untuk mandi, sementara dia memasak untuk makan mereka berdua.


Semua makanan sudah tersaji diatas meja makan, tapi Alam masih berdiri di meja dapur.


Saat terdengar suara langkah kaki Anna yang mendekat, Alam sengaja menggores salah satu jarinya menggunakan pisau. Terasa perih namun masih mampu Alam tangani, dia hanya sedikit terkejut.


Alam sengaja mengguyur jarinya yang terluka di westafel, membuat darah itu terlihat seperti mengalir.


"Astaga Alam!" pekik Anna, dia mendekat dan langsung menarik tangan Alam, menggenggam erat tangan itu hingga luka nya tertutup.


"Kenapa disiram Air, bukanya langsung diobati!" keluh Anna, wajahnya nampak marah. Dia lalu menarik suaminya untuk duduk di kursi meja makan, dan mengambil kotak p3k. Tidak peduli jika ditangannya pun ada bekas darah, tapi Anna terus mengobati luka suaminya.


Dan saat Anna tengah sibuk mengobati luka itu, Alam pun sibuk mengamati wajah Anna.


Melihat istrinya seperti ini, seolah Anna sudah sembuh dari phobianya. Tapi tetap saja masih membuat Alam gusar.


Rasanya masih terus mencemaskan Anna. Masih takut jika kejadian beberapa hari lalu kembali terulang. Dalam benaknya pun mulai terbayang bagaimana jika dia saja yang melempar dirinya di jalanan, membuat Anna mengobatinya hingga phobia itu benar-benar hilang.


"An?"


"Apa?" jawab Anna singkat, dia membalut luka di jari Alam, tidak bisa menggunakan hansaplas karena lukanya cukup besar.


"Apa kamu mencintai ku?" tanya Alam.


Sebuah pertanyaan yang membuat semua pergerakan Anna terhenti. Sejenak Anna terdiam, kemudian melanjutkan tugasnya dan mendongak menatap Alam.


"Kenapa tanya seperti itu?"


"Jika aku terluka lebih parah dari ini apa kamu akan tetap menolongku?"


Dan melihat wajah Anna yang nampak kesal, Alam pun menarik sang istri untuk duduk di atas pangkuannya.


"Aku hanya khawatir, sangat khawatir."


"Tentang Apa?"


"Tentang kamu?"


"Apa kamu sengaja melukai jarimu? untuk melihatku takut atau tidak dengan darah?"


Alam terdiam, karena tebakan Anna benar.


Tapi sungguh, Anna tidak menyukai cara itu. Untuk sembuh, dia tidak ingin ada yang terluka. Apalagi itu orang terdekatnya.


"Aku tidak suka cara mu," ucap Anna lirih, tiba-tiba ada air mata yang mengalir di sudut matanya.


Alam langsung mendekap istrinya erat.


"Maafkan aku," lirih Alam, dia menciumi pipi Anna. Menghapus air mata itu dan menyesap bibir sang istri.


Terus mencium dalam hingga akhirnya Anna membalas. Ciuman yang awalnya hanya untuk menenangkan berubah jadi ciuman yang menuntut. Di kursi meja makan itu Alam mengangkat baju rumahan Anna hingga tertanggal sempurna. Kemudian dia menyesapi dada istrinya hingga membuat Anna melenguh.


"Maafkan aku," ucap Alam, sejenak dia menarik diri dari tubuh sang istri. Namun belum sempat Anna menjawab, Alam sudah lebih dulu kembali mencium bibir istrinya. Mengarahkan inti mereka untuk menyatu dan membuatnya tenggelam.


"Aku mencintaimu Al, aku tidak mungkin melakukan ini jika tidak mencintaimu," ucap Anna, diantara tubuhnya yang terus bergerak.


"Dan apa kamu tahu? Aku tidak bisa melihat orang yang ku cintai terluka," timpal Anna lagi, dan Alam langsung menutup mulut istrinya dengan sebuah ciuman dalam, membuat Anna diam.