CEO I LOVE YOU

CEO I LOVE YOU
BAB 3. CEO I LOVE YOU S2



Tok...Tok...


Dora mengetuk pintu kamar putrinya. wanita itu memutar-mutar handle pintu kamar Sesilia. Ternyata pintu itu dikunci oleh anak gadisnya.


"Lia, Bangun Nak."Anastasia memanggil dengan setengah berteriak.


Lia yang terganggu dengan tidurnya itu langsung merenggangkan badannya sebelum Dia beringsut turun dari pembaringan. Gadis itu berjalan sedikit sempoyongan menuju pintu kamar, karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.


"Ada apa Ma?"Lia mengucek matanya mencoba mengumpulkan kesadaran.


"Bangun sayang, kita salat subuh dulu!"ujar Anastasia mengajak Putri cantiknya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang umat muslim.


Tanpa menunggu jawaban dari Lia, Anastasia melanjutkan langkahnya menuju kamar Putra tengilnya. Langkahnya terhenti saat berada di depan kamar Marcello. sebelum membuka pintu kamar putranya, Anastasia juga mengetuk pintu itu.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Marcello, Marcello sama sekali tidak ada sahutan. Anastasia memutar handle pintu untuk membangunkan putranya. Seperti biasa, Marcello jarang sekali mengunci pintu kamarnya.


Anastasia duduk di sisi ranjang anak bungsunya. "Marcel bangunan!"Anastasia menepuk lengan Marcello. Anak lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya pada gulingnya. Membuat Anastasia geleng-geleng kepala melihat tingkah Putranya. Padahal putranya sudah duduk di bangku kuliah.


Anastasia membuang napas kasarnya. Setiap hari kegiatannya Saat bangun tidur pasti seperti itu. Marcello memiliki kebiasaan buruk, walaupun dirinya sudah bangun dan melakukan salat subuh, dia sering sekali tidur kembali. Dan itu membuat dirinya sering telat bangun dan terlambat masuk sekolah.


Jam 06.30. suara derap langkah Horison menuruni anak tangga sambil menenteng tas kerjanya. Setelah meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu, Horison melangkah masuk ke ruang makan. Tak berselang lama, Marcello dan Lia juga berjalan menuruni tangga untuk segera sarapan bersama kedua orang tuanya.


"Selamat pagi papaku yang tampan dan mamaku yang cantik." sapa Marcello sambil langsung menarik kursi makan yang bersebelahan dengan adiknya Lia.


"Tumben jam segini sudah rapi. Kamu ada kelas pagi ini ya, Marcel?"tanya Horison kepada putranya.


"Iya Pa "Anastasia memasukkan nasi ke dalam piring putranya berikut lauk pauknya."


"Oh ya, Pa. Marcello bisa nggak minta nambah uang jajan?"


"Memangnya untuk apa?"


"Kan, Marcello sudah kuliah, sudah otomatis pengeluaran Marcel juga akan semakin banyak."sahutnya


"Kan, sudah Papa tambah 20% dari sebelumnya."


"Itu masih kurang Pa, kebutuhan Marshall kan banyak."


"Hemmm, nanti akan Papa pikirkan."


"Kebutuhan untuk apa, kak? yang ada kakak itu melirik cewek-cewek cantik di kampus. Jangan Kakak kira, dia tidak tahu. Di hari pertama masuk kampus saja, dan itu masih masa ospek. Kakak sudah nongkrong bareng dengan cewek-cewek cantik di cafe." celoteh Lia membuat sang kakak.


"Heh, anak kecil! nggak usah ikut campur urusan Kakak."


"Idih, sensi amat!! emang benar kan Kak, dia lihat kok, kakak sama Kak Charles nongkrong bareng dengan Kak Jasmine dan Kak Resti!"sahut Lia ngasal.


"Kenal dari mana lo sama Jasmine dan Resti?


"Kasih tahu nggak, ya!? ucap Lia membuat Marcello semakin kesal kepada adiknya.


"Iya kuliah lah, Pa. Kalau mereka yang mendekati Marcel, Apa itu salah Marcello?


"Ingat Sayang, kamu itu Putra papa satu-satunya. Tolong jangan membuat keluarga ini malu, buat Papa dan Mama begitu juga Opa dan Oma bangga kepada Mu. Papa harap, masa lalu Papa yang kelam jangan terjadi di kehidupan kamu."ujar Horison kepada putranya.


Marcello terdiam, lalu ia menatap tajam ke arah adiknya. "idih, itu mata sudah mau keluar."celetuk Lia yang tidak merasa takut sedikitpun melihat tatapan horor sang kakak.


"Sudah sudah! Ingat Marcello, Papa dan Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu Nak. Mama dan Papa paham kalau anak muda seusia kamu sudah pasti mulai memilki ketertarikan kepada wanita. Mama tidak melarangnya sayang. Tapi ingat ya nak, jangan sampai merusak anak perempuan orang dan menyakiti nya. Karna kamu juga terlahir dari rahim seorang wanita." ucap Anastasia kepada Marcello.


Marcello menatap Anastasia dengan tatapan penuh kebanggaan kepada mamanya. Dia memegang tangan Mamanya. "Mama tenang saja, Marcello tidak akan mempermalukan keluarga ini. Marcello juga tahu batasan kok."ucap Marcello meyakinkan Anastasia.


"Mama percaya sama kamu Nak, Karena Kamu terlahir dari rahim mama. Penuh perjuangan Mama memperjuangkan kamu sayang, jadi ingat pesan mama ya nak."ucap Anastasia membayangkan kejadian 19 tahun silam, dia berjuang melahirkan putranya Marcello seorang diri. Tanpa kehadiran kedua orang tuanya dan ayah Marcello kala itu.


Setelah menghabiskan sarapannya, Horison berpamitan kepada istrinya. Dia berangkat bersama Lia. Sedangkan Marcello, menggunakan mobilnya sendiri untuk pergi ke kampus.


Pagi ini Marcello berangkat ke kampus dengan mengendarai mobil miliknya. lebih tepatnya, mobil hadiah ulang tahun pemberian kedua orang tuanya untuk Marcello.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit membelah jalanan ibukota, akhirnya Marcello sampai di sebuah kampus ternama dan dia langsung memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mahasiswa.


Tak jauh dari tempat itu, Jasmine yang merupakan kakak senior Marcello juga baru saja memarkirkan mobilnya. Pagi yang dingin ini tidak dirasakan dingin oleh gadis itu. Sebab hatinya berbunga-bunga saat melihat pria tampan yang menjadi idamannya keluar dari mobil.


Tak jauh berbeda dengan Jasmine, Sherly dan kanza gadis yang menyukai Marcello itu juga terkejut melihat lelaki pujaan hatinya sudah tiba di kampus, Marcello menyapa Jasmine dengan penuh senyuman, Hal itu membuat Sherly dan Khansa iri. Sebab Jasmine di kampus menjadi incaran cowok-cowok tampan, Tetapi entah mengapa Jasmine lebih respect kepada Marcello.


Bisa dikatakan, hanya Marcello saja yang terlihat biasa-biasa saja kepada Jasmine. mungkin karena Marcello belum mengenal dekat dengan Jasmine.


"Marcello!"Panggil Jasmine yang melebarkan langkahnya. Menghampiri lelaki pujaan hatinya, lelaki yang membuat dirinya tertarik.


Khansa yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya, dan melengos pergi dari tempat itu.


"Ada apa ya, Kak? tanya Marcello kepada Jasmine.


"Nggak usah panggil kakak, kenapa? umur kita tidak beda jauh kok. Hanya selisih 6 bulan saja." ucap Jasmine yang tidak ingin dipanggil kakak oleh Marcello.


"Nggak enak juga, Kak. Kan kakak itu, kakak seniorku." sahut Marcello.


"Walaupun aku kakak seniormu, tapi usia kita tidak jauh berbeda. Lagian, derajat laki-laki di atas perempuan."sahut Jasmine sambil berjalan beriringan dengan Marcello. Marcello melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Maaf Kak, sepertinya aku duluan dulu. takut telat masuk kelas." ucap Marcello berpamitan kepada Jasmine.


"Memangnya kamu ada kelas pagi?"


"Iya Kak. Pamit dulu ya." Marcello melebarkan langkahnya menuju ruang kelasnya. Jasmine menatap Marcello dari kejauhan, sampai punggung pria tampan itu menghilang dari pandangannya.


"Idih!!! jangan ditatap terus, nanti kamu tidak bisa tidur."Celetuk Resti yang tiba-tiba menepuk pundak Jasmine.


"Kamu ini sudah seperti jelangkung saja, datang tak diundang pulang tak diantar."kesal Jasmine karena Resti sudah mengagetkannya. Kedua wanita itu hanya tertawa ngakak. Sementara Khansa dan Sherly sudah seperti cacing kepanasan melihat dua wanita cantik yang tampak bahagia.


bersambung...