CEO I LOVE YOU

CEO I LOVE YOU
BAB 28. TANGIS ANASTASIA



Nyonya Tapasya dan Tuan Geraldine mengikuti langkah Anastasi, masuk ke dalam rumah miliknya. Yang lokasinya tepat berada di belakang restoran. Bibi Narsih dan juga Horison masih berada di kamar yang ditempati oleh baby Marcello.


Anastasia sedikit ragu. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur Tua Geraldine dan Nyonya Tapasya sudah keburu datang dan tidak memiliki waktu lagi, untuk menghindar. Mungkin ini saatnya kedua orang tuanya mengetahui rahasia yang selama ini ditutup rapat-rapat olehnya.Tak selamanya Anastasia dapat menyembunyikan kehadiran baby Marcello. Terlepas di terima atau tidak kedua orang tua Anastasia, Anastasia sudah tidak peduli lagi.


Rasa rindu melanda Anastasia terhadap kedua orang tuanya. Membuat dia tidak mampu lagi menahan segalanya. Tiba tiba suara tangis bayi terdengar jelas di telinga Nyonya Tapasya, saat Anastasia berlalu ke dapur untuk sekedar membuatkan minuman dan cemilan kepada kedua orang tuanya. Karena ia tahu Bibi Narsih pasti sedang di sibuk.


"Nyonya tapasya mengikuti Anastasia ke dapur. "Ana, mama dengar ada suara tangis bayi itu berasal dari kamar sebelah sana. apa ada tamu? atau apa ada penghuni di rumah ini selain kamu dan asisten rumah tangga? tanya nyonya Tapasya yang tiba-tiba mengagetkan Anastasia.


Anastasia menoleh ke arah nyonya Tapasya. lalu menatap Nyonya Tapasya dengan tatapan sendu. Anastasia tidak langsung menjawab ia memilih berjalan mendahului Nyonya Tapasya untuk duduk di ruang tamu membawa dua cangkir teh dan cemilan. Lalu menghidangkannya di atas meja mempersilahkan Tuan Geraldine dan nyonya Tapasya meminum teh itu.


"Ana, kamu belum menjawab pertanyaan Mama, nyonya Tapasya yang tak kunjung mendapat jawaban dari Anastasia, Ia pun berinisiatif untuk berjalan ke arah kamar yang terdengar suara tangisan bayi. Anastasia ingin menahan nyonya Tapasya. Tapi ia tidak mampu melakukannya.


"Ada apa ini ana? tanya tuan Geraldine. Anastasia terdiam lalu menundukkan kepalanya. Air bening yang ia tahan sedari tadi kini luruh begitu saja di wajah cantiknya. Membuat Tuan Geraldine mengerutkan keningnya.


Nyonya Tapasya yang sudah tiba di dalam kamar, ia melihat Bibi Narsih sedang sibuk mengganti popok bayi yang tadi menangis.


"Kamu siapa? Tanya nyonya Tapasya yang belum begitu kenal dengan Bibi Narsih.


Bibi Narsih membungkukkan badannya sambil menggendong baby Marcello, sementara Horison saat ini berada di halaman belakang. Sebelumnya Bibi Narsih meminta kepada Horison untuk menghindar terlebih dahulu sebelum suasana aman.


"Maaf nyonya besar, saya Narsih asisten rumah tangga di sini." ucap bi Narsih memperkenalkan diri memberi salam sambil membungkukkan badannya.


"Lalu bayi itu, bayi siapa? Apa itu bayi kamu? Bibi Narsih tidak langsung menjawab. Ia diam membuat Nyonya Tapasya menjadi merasa bingung.


Suara amarah dari Tuan Geraldine di ruang tamu terdengar jelas di telinga nyonya Tapasya. mengalihkan atensi nyonya Tapasya, Ia pun langsung meninggalkan baby Narsih begitu saja, lalu kembali menghampiri Tuan Geraldine dan putrinya di ruang tamu.


Alangkah terhenyaknya nyonya Tapasya melihat putrinya bersujud di kaki Tuan Geraldine.


"Papa, Ada apa ini? tanya nyonya Tapasya yang begitu tidak tega melihat putrinya bersujud di kaki-kaki Tuan Geraldine sambil minta maaf.


Tuan Geraldine hanya menatap nyonya Tapasya. "lebih baik kamu tanyakan sendiri kepada Putri kamu pembohong ini." ucap Tuan Geraldine dengan amarahnya.


Perlahan Nyonya Tapasya melangkahkan kakinya mendekati Anastasia.


Tangis Anastasia pecah, Ia tidak mampu memberitahu hal yang sebenarnya kepada nyonya tapasya. Ia terus menangis sesungguhkan, kini baby Narsih mendekati sang majikan. Ia Pun mencoba menerangkan semuanya. Karena melihat Anastasia tidak mampu memberitahu yang sebenarnya.


Nyonya Tapasya merasa kecewa dan marah, karena putrinya mampu menyembunyikan masalah sebesar ini kepada kedua orang tuanya. Nyonya Tapasya dan Tuan Geraldine tidak menyangka kepergian Anastasia dari kota Jakarta meninggalkan usaha kulinernya, dan mempercayakannya kepada karyawannya dan merintis usaha kuliner di kota Pematangsiantar. Ternyata itu hanya untuk menutupi segala masalah besar yang sedang ia hadapi.


"Maaf nyonya tidak bermaksud untuk ikut campur. Jujur Narsih sendiri yang menemani Nona Anastasia mulai Nona Anastasia berada di kota Pematangsiantar. Hingga ia membuka restoran sampai sebesar ini. Masalah besar yang tengah dihadapi Nona Anastasia sudah membuat Nona Anastasia begitu merasa bersalah kepada nyonya besar dan tuan besar.


Dari awal memang Bibi sudah menyarankan kepada Nona Anastasia, agar memberitahu masalah kehamilannya kepada nyonya besar dan Tuan besar. Tapi karena rasa hormatnya kepada nyonya dan Tuan membuat dirinya takut nyonya dan Tuan kecewa terhadapnya.


Dengan dibantu oleh Bi Narsih, akhirnya Anastasia menceritakan awal mula sehingga dirinya bisa menjadi hamil dan demi Marcello hadir di kehidupannya. Nyonya Tapasya dan Tuan Geraldine benar-benar kecewa dan sangat marah. Tapi setelah melihat raut wajah tampan baby Marcello, rasa marah mereka tiba-tiba redup begitu saja. Nyonya Tapasya meraih tubuh Marcello lalu menemani dan memberikannya kecupan demi kecupan.


Mengapa kamu sanggup menutupi rahasia besar seperti ini dari mama? Mama sangat tahu sulitnya. Bagaimana mengandung dan sampai melahirkan. Mama tidak bisa membayangkan. Bagaimana kamu melewati ini semua sendiri tanpa mama dan juga Papa.


Apalagi tampa lelaki yang menjadi Ayah biologis baby Marcello." ucap Nyonya Tapasya melemah, merasa tidak tega melihat putrinya. Karena ia dapat membayangkan betapa sakitnya hidup seorang single parent hamil dan melahirkan sendiri tanpa ada sanak saudara dan keluarga terdekat.


Nyonya tapasya memeluk putrinya setelah Tuan Geraldine meraih tubuh baby Marcello, kemarahan Tuan Geraldine dan nyonya Tapasya itu hal yang wajar. Apalagi mereka mengetahui setelah beberapa bulan Anastasia pasca melahirkan.


"Jadi kamu tidak ingin meminta pertanggungjawaban dari laki-laki itu? tanya Nyonya Tapasya kepada Anastasia.


"Tanpa Anastasia minta ternyata selama ini ayah dari baby Marcello selama ini mencariku, semenjak kejadian malam itu dia terus mencari dan mencari. Hingga dia rela tinggal di Desa saat Anastasia melarikan diri darinya. Semenjak mengetahui kehadirannya di kota ini, kebetulan ayah kandung baby Marcello menjalin hubungan kerjasama dengan salah seorang temanku yang berdarah Batak yang ada di sini.


Pertemuan kami juga sangat dramatis, dia ingin menikmati menu makanan yang ada di restoran ini. Ternyata pak Parlindungan memperkenalkanku kepadanya, dan alangkah terkejutnya aku melihat kehadirannya dan dia pun sepertinya seperti itu.


Saat pertama kali bertemu, hingga saat ini Horison ayah kandung baby Marcello tidak pernah kembali ke Jakarta, sebelum Anastasia bersedia kembali ke Jakarta bersama dirinya. Dan Dia ingin menikahi Anastasia secara sah di depan hukum dan agama. ucap Anastasia membuat nyonya tapasya dan Tuan Geraldine mengerutkan keningnya.


"Horison? nama itu seperti tidak asing bagi Mama. Sepertinya Mama pernah mendengarnya." ucap Nyonya tapasya


"Iya ,Papa juga seperti pernah mendengar nama itu."


"Iya pa, ma, Horison itu adalah Horison Airos. putra dari pemilik Airos company perusahaan raksasa yang ada di kota Jakarta, dan juga di kota Medan di berbagai provinsi juga memiliki cabang." ucap Anastasia yang mampu membuat nyonyaan Tapasya dan juga Tuan Geraldine benar-benar terhenyak.