
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Bibi Narsih bangun lebih awal dari Anastasia terlihat Bibi Narsih, sudah bersih-bersih di dapur Ia juga sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Kali ini porsi menu sarapan pagi yang disediakan oleh Bibi Narsih sengaja ia perbanyak. Karena ia mengetahui Horison dan anak buahnya sarapan pagi di sana juga.
Anastasia mulai bergeliat lalu perlahan membuka kedua kelopak matanya. Ia melihat Putra semata wayangnya masih tertidur pulas. Anastasia mengembangkan senyumnya. Lalu memberikan kecupan hangat di kening putranya, kemudian ia bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi berniat ingin membersihkan diri.
Setelah memastikan penampilannya sudah terlihat rapi dan tidak acak-acakan, Anastasia keluar berniat untuk menghampiri Bibi Narsih yang ada di dapur. Alangkah terhenyaknya Anastasia sudah melihat beberapa macam menu makanan sarapan pagi, terhidang di atasnya meja makan sederhana itu. Membuat Anastasi mengerutkan keningnya.
"Bi, Bibi bangun pagi-pagi sekali, ya?tanya Anastasia
"Tidak juga non, hanya saja bibi sudah mempersiapkan sarapan pagi untuk kita. Mungkin mereka sudah lapar juga non. Hanya saja aku sudah mempersiapkan sarapan pagi untuk kita. Mungkin, mereka sudah lapar
Terlihat Anastasia menyiapkan susu formula untuk putranya. Karena dia mengetahui setiap kali putranya terbangun akan langsung mencari ASI ataupun susu formula yang dapat membuatnya merasa kenyang dan nyaman. Karena di usianya saat ini baby Marcello belum diperbolehkan dokter untuk mengkonsumsi bubur tim.
Anastasia kembali ke kamar memperhatikan putranya yang masih tertidur pulas, karena malam tadi, dia sedikit gelisah. Entah apa yang membuat putranya gelisah malam itu. Untung saja ada Bibi Narsih yang selalu membantu Anastasia. Sehingga Anastasia sedikit terbantu dan tidak terlalu kewalahan.
Anastasia meletakkan susu formula di atas nakas, sambil menunggu susu formula itu dapat diminum oleh baby Marcello. Anastasya Kembali keluar melihat Horison dan kedua anak buahnya masih tertidur pulas. Anastasia merasa maklum karena ia sangat mengetahui kalau Horison Pasti sangat lelah apalagi cuaca saat ini sangat dingin.
Anastasia tahu kalau Horison sulit untuk memejamkan matanya, di ruang tamu. Apalagi ia sama sekali tidak terbiasa tidur di tempat seperti itu.
Horison mulai bergeliat, ketika mendengar suara gonggongan anjing dan juga ayam berkokok membuat telinga Horison merasa terganggu, maklum di daerah pedesaan banyak yang memelihara ternak ayam dan juga ternak lainnya.
Horison perlahan mengucek kedua kelopak matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, alangkah terhenyaknya dirinya, dia tidur di salah satu rumah yang sangat sederhana. Perlahan baru ingatannya pulih, kalau dirinya saat ini berada di rumah salah satu asisten Anastasia, wanita yang selama ini ia cari.
Perlahan Horison bangkit dari pembaringannya. Ia berniat untuk ke kamar mandi. Tapi Horison sama sekali tidak tahu di mana letaknya. Horison meraba masuk ke dapur mencoba mencari seseorang di sana, dan ternyata ia menemukan Bibi Narsih di sana.
"Loh Tuan, kok datang ke dapur? ada yang bisa Bibi bantu?
Horison mengembangkan semuanya.
" Bi, Saya ingin ke kamar mandi boleh numpang nggak?
"Tentu Boleh dong Tuan, silakan di sebelah sana." ucap Bibi Narsih sambil menunjukkan arah kamar mandi yang lokasinya tepat di samping dapur.
Horison berjalan perlahan masuk ke kamar mandi. Ia menatap keadaan kamar mandi lalu menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa Anastasia tinggal di rumah sesederhana ini bersama Putraku Marcello, demi menghindar dariku." gumamnya dalam hati sembari menyiram wajahnya dengan air agar terlihat lebih segar.
Horison keluar dari kamar mandi, Ia tidak berniat mandi di sana, hanya saja ia ingin buang air kecil dan membersihkan wajahnya. Horison berharap Anastasia bersedia kembali ke kota dan tidak akan pernah menghindarinya.
Tiba-tiba suara tangis baby Marcello menggema di seisi rumah. Membuat Anastasia yang sedang menjemur pakaian langsung berlari menghampiri putranya. Mendengar suara tangis baby Marcello ingin sekali rasanya Horison langsung meraih tubuh bayi mungil itu. Tapi ia terhalang saat Anastasia langsung lebih dulu masuk ke dalam kamar meraih tubuh baby Marcello.
Anastasia langsung menggendong baby Marcello membawanya keluar lalu memberinya susu formula. Berharap baby Marcello terdiam dari tangisnya. Tapi entah mengapa tangis baby Marcello semakin menjadi. Membuat Anastasia sedikit kewalahan, ia pun kembali membawa putranya masuk ke dalam kamar lalu memberinya ASI eksklusif.
Bibi Narsih pun yang berada di dapur menghampiri Anastasia dan baby Marcello. mencoba menenangkan baby Marcello, sama seperti apa yang ia lakukan ketika baby Marcello menangis. Tapi untuk kali ini tak kunjung terdiam. Bahkan tangisnya semakin menjadi membuat Bibi Narsih melirik ke arah Anastasia.
Anastasia tidak mengerti apa arti lirikan dari Bi Narsih. Anastasia pun langsung bertanya kepada baby Narsih.
"Ada apa Bi?Kenapa menatapku seperti ini?
"Mungkin baby Marcello menyadari kalau Ayah kandungnya ada di sini. Dan dia ingin ditimang oleh ayahnya."ucap Bibi Narsih menduga. Membuat Anastasia sedikit heran mendengar ucapan Bibi Narsih.
Tapi karena putranya tak kunjung terdiam membuat Anastasia pun tidak memiliki pilihan lain, selain menuruti apa yang dikatakan oleh Bibi Narsih. Siapa tahu memang benar kalau baby Marcello ditimang oleh ayah kandungnya dia bisa diam.
Anastasia kembali membawa baby Marcello keluar. Suara teriakan tangis baby Marcello membuat Horison merasa tidak tega. Tanpa aba-aba Marcello langsung meraih tubuh putranya.
"Cup.... cup... cup, Jangan nangis Sayang, ini papa." ucapnya dengan penuh keyakinan yang mampu membuat Anastasia membulatkan matanya.
Sementara kedua anak buah Horison langsung terbangun mendengar suara jeritan tangis baby Marcello. Mereka pun bergantian masuk ke kamar mandi lalu membersihkan tubuh mereka masing-masing.
Sementara Horison saat ini sedang menimang putranya. Entah mengapa baby Marcello merasa cukup tenang, berada di gendongan Horison membuat Anastasia dan Bibi Narsih saling pandang.
"Jangan nangis sayang, Papa ada di sini kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa dengan kamu, Kalau papa ada bersamamu." ucap Horison sambil terus menghujani Marcello dengan kecupan demi kecupan.
Terlihat Anastasia membulatkan matanya selalu menatap Bibi Narsih.
"Sepertinya baby Marcello merasa nyaman di pangkuan Anda tuan." ucap baby Narsih sambil mengembangkan senyumnya.
"Iya, pasti dia ingin sekali ditimang oleh papanya, ikatan darah dan dia menyadari kalau papanya ada di tempat ini."ucap Marcello membuat Anastasia terdiam.
"Bi, lebih baik kita sarapan kebetulan cacing-cacing yang ada di perut Anastasia sudah berdemo mau minta jatah." ucap Anastasia sambil berlalu meninggalkan Horison dan juga rotan yang telah usang di ruang tamu.
"Ayo Tuan, kita sarapan bareng, Tuan juga pasti sudah sangat lapar bukan? biarkan baby Marcello berada di baby Woker, agar Tuan dapat menikmati menurut sarapan pagi yang sudah dihidangkan di meja makan, Walaupun sarapannya ala kadarnya." ucap di Narsih mempersilahkan Horison dan kedua anak buahnya untuk menikmati sarapan pagi yang sudah dihidangkan di atas meja makan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN