
Lagi-lagi Anastasia tidak percaya.
"Tolong anda pergi dari sini. Saya tidak ingin mencari masalah dengan siapapun. Saya tidak ada hubungannya dengan anda. Anda salah besar. mungkin Anda salah orang." ucap Anastasia mencoba untuk berkilah agar Horison segera meninggalkan tempat itu.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini, sebelum kamu bersedia menikah denganku. Dan hidup bersama ku dan Putra kita." ucap Horison langsung mendudukkan bokongnya di kursi rotan yang ada di teras rumah milik Bi Narsih Walaupun kursi rotan itu sudah tampak usang tapi masih bisa digunakan.
"Ya sudah kalau anda tidak mau pergi dari situ, Itu terserah anda." ucap Anastasia sambil melongos masuk ke dalam rumah. Sementara Bi Narsih yang masih setia menemani baby Marcello, menatap kedatangan Anastasia dengan wajah gusarnya.
"Non, Bagaimana ini Apa memang dia ayah kandung Tuan muda Marcello?" tanya Bi Narsih kepada Anastasia berharap Anastasia menjawabnya dengan jujur. Ya selama ini Anastasia menghormati bi Narsih. Bi Narsih yang selalu ia anggap menjadi orang tuanya saat berada di pematang Siantar. Anastasia langsung memeluk Bi Narsih tangisnya pecah .
"Non, cerita sama bibi. Siapa tahu Bibi bisa bantu." ucap Bi Narsih kepada Anastasia.
"Tolong Jawab dengan jujur apa benar pria yang ada di depan itu ayah kandung Marcello?
Anastasia lagi-lagi belum menjawab pertanyaan Bi Narsih. Tapi Bi Narsih berusaha untuk meyakinkan Anastasia Kalau semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Hingga Anastasia pun mencoba kembali terbuka kepada Bi Narsih, ia berterus terang kepada binarsih kalau Horison adalah ayah kandung Marcello, membuat Bi Narsih begitu terkejut.
"Jika memang dia ayah kandung Marcello itu berarti orang yang menodai Nona Anastasia pria itu. Jika memang ia ingin bertanggung jawab, kenapa Non Anastasia tidak bersedia menikah dengannya?"
"Bagaimana aku menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku cintai? Bahkan dia juga tidak mencintaiku. Di dalam pernikahan Kalau tidak ada yang namanya cinta sulit untuk dipertahankan.
"Dia bersedia menikahi ku, karena dia merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan sekitar satu tahun yang lalu. Bukan berarti dia menikahi ku karena dia juga mencintaiku." ucap Anastasia memberi alasan kepada Bi Narsih, Mengapa dirinya tidak bersedia menikah dengan pria yang sudah datang jauh-jauh mencarinya hingga ke pelosok Pematangsiantar.
"Cinta tumbuh dengan sendirinya cobalah membuka hati."sahut BI Narsih
Matahari sudah mulai tenggelam, langit juga mendung, angin kencang bergemuruh membuat suasana perkampungan yang ditempati oleh Bibi Narsih ,dan juga Anastasia saat ini sangat mencekam. Tetapi itu tidak membuat Horison beranjak dari teras rumah bi Narsih.
Sementara anak buah Horison yang masih tetap berada di mobil sudah sangat khawatir dengan keadaan cuaca saat ini. Tapi sepertinya Bosnya itu tidak bergeming. Dan memilih terus berdiam diri di sana. Mereka tidak mampu berkomentar apa-apa, hingga memilih mereka memejamkan mata mereka di dalam mobil Alphard milik Horison.
Bi narsih mengintip dari kaca nako, melihat Horison masih duduk di teras rumah. walaupun di situasi cuaca yang sangat buruk. hingga angin menerpa tubuhnya. Mereka sudah tahu kalau Horison saat ini pasti kedinginan. Apalagi tepisan hujan mengenai tubuhnya.
"Non Apa tidak sebaiknya kita persilahkan masuk Tuan Horison? kasihan dia, masih saja duduk di sana mengharapkan Nona bersedia untuk menemuinya. Anastasia terhenyak ia mengira kalau Horison sudah meninggalkan rumah itu, ternyata Apa yang diucapkan oleh Bi Narsih benar adanya. Kalau saat ini Horison masih berada di tempat yang sama saat ia tinggalkan.
"Gila itu orang, sudah tahu hujan lebat, angin kencang, petir bergemuruh. Tapi masih saja berada di situ. Seperti tidak ada kerjaan lain saja." gerutu Anastasia.
"Bukan tidak ada kerjaan non, tapi sepertinya tekad Tuan Horison sudah bulat ingin sekali menikahi Nona Anastasia. Sehingga ia rela jauh-jauh datang ke desa ini, untuk mencari Nona." ucap Bi Narsih.
Beberapa jam sudah berlalu Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Tetapi tetap saja Horison masih berada di tempat yang sama seperti yang ditinggalkan Anastasia. Hingga anak buah Horison pun terbangun melihat mereka masih berada di lokasi yang sama.
Bagas datang menghampiri Horison meminta agar mereka segera kembali ke kota, tapi sepertinya Horison tak bergeming. Justru Horison meminta kepada Bagas agar mereka lebih dulu kembali ke kota. Ia ingin tetap berada di sana.
"Tapi Tuan tidak mungkin kami meninggalkan Tuan di sini sendiri, kita boleh kembali besok ke sini, kan tidak apa-apa Tuan?" ucap Bagas mencoba bernegosiasi dengan Horison.
Tidak, Jika kalian ingin kembali kembalilah duluan. Aku masih tetap disini." ucap Horison dengan tatapan sendu.
lagi lagi Bagas tidak dapat memaksakan kehendaknya. Ia pun memilih balik ke dalam mobil. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Anastasia pun tidak dapat memejamkan matanya, ia mengetahui kalau Horison Pasti sangat kedinginan, lapar dan juga kelelahan. Merasa tidak tega, akhirnya Anastasia bangkit dari tempat tidur. Perlahan melangkah keluar, ia melihat Horison masih berada di sana.
"Masuklah, di sini sangat dingin, Nanti Kamu sakit." ucap Anastasia mempersilahkan horison masuk ke dalam rumah. Horison sudah tampak kedinginan, membuat Anastasia merasa tidak tega melihat Horison yang sudah menggigil kedinginan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN