
"Ini harus dilakukan visum! tubuhnya banyak luka, di area sensitifnya pun luka. Wanita ini mengalami kekerasan dan pemerkosaan,"jelas sang dokter yang berada di rumah sakit jiwa. Perlu dilakukan visum, untuk dilakukan penyidikan kasus ini.
Marina dibawa ke rumah sakit untuk melakukan visum dan menyembuhkan luka. Pihak kepolisian memberitakan kasus Marina di televisi. Berharap pihak-pihak keluarga ada yang melihatnya. Karena Marina Tak memiliki identitas apapun.
Setelah mendapatkan data untuk penyeledikan kasus ini, pihak kepolisian membawa Marina ke rumah sakit jiwa kembali. Sementara waktu, Marina harus dirawat di rumah sakit jiwa untuk penyembuhan.
Marina sudah ditempatkan di sebuah ruangan. Dia harus merasakan kehidupan di rumah sakit jiwa. Sang dokter menyuntikkan obat penenang, agar dia bisa tertidur nyenyak. Perlahan matanya meredup, hingga akhirnya dia tertidur nyenyak.
Rencananya hari ini Nyonya Nadine berniat bertemu dengan Marina. Karena nyonya Nadine sama sekali tidak mengetahui kalau hubungan putranya Horison memang sudah benar-benar putus. Namun, sejak tadi dia tak menemukan nomor ponsel Marina di kontak whatsapp-nya. Dia sampai bolak-balik melihat nomor telepon Marina di kontak ponselnya.
"Di sini ada nomornya Mengapa di WhatsApp tak ada? Apa mungkin Marina telah menghapus whatsapp-nya? aku coba telepon dulu deh."Nyonya Nadine bermonolog sendiri.
Ternyata nomor Marina tak aktif.
"Ponselnya nggak aktif kenapa ya, dia? apa dia ganti nomor WhatsApp? tapi, mengapa dia tak memberitahu aku nomornya yang baru,"Nyonya Nadine tampak bingung sendiri.
"Ya sudahlah, mungkin dia sudah tak mau berhubungan dengan aku, Biarkan saja." gumam Nyonya Nadine. Apalagi ketika dirinya teringat apa yang dikatakan Horison, kalau Marina itu merupakan wanita murahan tak tahu diri. Terakhir Horison mengatakan dia tidak akan menjalin hubungan lagi dengan wanita itu.
Nyonya Nadine menghampiri sang suami yang sedang duduk menonton tayangan televisi, yang sedang serius menonton berita. Sambil menikmati secangkir teh hangat dan juga cemilan.
"Loh bukannya itu Marina?"Tuan Airos bermonolog. Mata nyonya Nadine membulat dengan sempurna.
"Marina jadi korban pelecehan, sekarang dia di rumah sakit jiwa,"ujar Tuan Airos.
"Ya Tuhan tragis sekali nasibnya. Kasihan dia harus seperti itu, papi sih kemarin mengusir dia. Pasti dia sedih banget hingga akhirnya jadi mainan orang yang tak bertanggung jawab. Horison harus tahu ini semua, gara-gara dia Marina seperti sekarang." cecar nyonya Nadine.
"Kamu ini, selalu saja menyalahkan anak. Semua itu Karena dia yang memilih Jalan hidupnya sendiri. Hubungan dia sama Horison sudah selesai, sudah tak ada urusan lagi. Horison tak perlu menemani dia biarkan saja. ucap tuan Airos karena tuan Airos memang benar benar mengetahui apa saja yang dilakukan Marina, semenjak dirinya menjadi seorang model papan atas.
"Memangnya kamu mau punya menantu yang sudah dipakai banyak orang? kau lihat berita kan, berdasarkan CCTV Marina digilir dengan empat pemuda tubuhnya, sudah sangat kotor kasihan Horison jika kembali kepadanya. Aku tak sudi memiliki menantu seperti itu." ujar tuan Airos.
Nyonya Nadine terdiam. Karena benar juga apa yang dikatakan oleh suaminya itu, tentu saja dia ingin memiliki menantu yang berkualitas. Tak sudi memiliki seorang menantu yang pernah masuk rumah sakit jiwa.
****
Matahari sudah menunjukkan sinarnya, menyelusup masuk menembus tirai membuat mata Anastasia merasa silau. Tidurnya menjadi terusik hingga akhirnya membuka matanya.
"Jam berapa ini?" Anastasia bermonolog. Anastasia mengambil jam beker yang ada di atas nakas, alangkah terkejutnya dia saat melihat Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Anastasia mencoba melirik ke kanan dan ke kiri, ternyata putranya masih tertidur pulas sementara Horison masih setia tertidur di ruang tamu. Anak buahnya sudah ia perintahkan pulang ke kota.
Anastasia bangkit dari pembaringannya. pelan-pelan melangkah ke dapur, ia melihat Bibi Narsih sudah mencuci kain kotor dan juga mencuci piring. Sementara Anastasia saat ini bertugas ingin menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Sambil berkutat di dapur Anastasia meminta pendapat dari Bibi Narsih. Tentang bagaimana kedepannya nasib Marcello. Apakah dirinya harus mengikuti keinginan Horison kembali ke kota Jakarta, sementara dirinya saja belum memberitahu kepada kedua orang tuanya tentang kehadiran Marcello?
Bibi Narsih menghela nafas panjang. Ia pun mencoba memberikan pendapatnya kepada Anastasia. "Seharusnya tuan Geraldine dan nyonya Tapasya, harus mengetahui kehadiran baby Marcello. Karena bagaimanapun mereka berhak mengetahui kehadiran cucu mereka.
Jika memang mereka marah, pasti itu hanya sebentar saja. Melihat raut wajah baby Marcello pasti mereka akan luluh, dan Lagian Tuan Horison bersedia untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat kepada Nona. Dan juga baby Marcello." ucap Bibi Narsih kepada Anastasia, mencoba memberikan pendapatnya kepada Anastasia.
Anastasia terdiam. lalu ia pun menganggukkan kepala. "Sepertinya aku harus memberitahu Papa dan mama dulu, baru nanti ke depannya kita susun rencana bagaimana agar baby Marcello diterima oleh keluarga Horison.
Tidak menutup kemungkinan keluarga Horison juga menolak kehadiranku dan kehadiran baby Marcello, karena hubungan Di Antara Aku Dengan Horison sama sekali belum dekat. Apalagi kehadiran Marcello diluar pernikahan.
Memang aku sudah kenal dekat dengan Nyonya Nadine. Tapi betapa kecewanya dirinya nanti, jika dia mengetahui apa yang sudah aku lakukan dengan putranya sendiri, hingga menghadirkan baby Marcello." ucap Anastasia kepada Bibi Narsih.
Bibi Narsih mencoba untuk tetap memberikan pandangan-pandangan positif, agar Anastasia memantapkan diri untuk memberitahu kepada kedua orang tuanya, dan menerima Horison menjadi Ayah atau suami untuknya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN