
Terlihat Horison menatap Tuan Geraldine dan nyonya Tapasya seolah dirinya meminta pendapat dari mereka.
Tuan Geraldine pun angkat bicara. "Kembalilah besok nak, Horison. Om akan pastikan Anastasia akan segera kembali ke Jakarta, setelah kerjasama dari panitia pelaksana pesta pemerintahan bersama restoran milik Anastasia telah usai ia lakukan.
Om juga tidak ingin Anastasia lari dari tanggung jawabnya. Om selalu mengajarkan Anastasia untuk bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Untuk itu om mohon, pahami situasi saat ini. Kembalilah ke Jakarta seorang diri bersama anak buah mu. Percaya sama Om. Tidak mungkin Anastasia tidak kembali ke kota Jakarta. ucap Tuan Geraldine mencoba meyakinkan Horison.
Horison lemas seolah dirinya tidak rela meninggalkan baby Marcello dan Anastasia di sana, dan ia kembali seorang diri tanpa Anastasia dan baby Marcello.
Sementara di tempat lain, Jonas yang mengetahui pemberitaan tentang Marina, kalau saat ini Marina sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Ia pun mengerikan bahunya.
"Amit-amit menjalin hubungan dengan wanita gila. Untung saja aku langsung menghantarkannya ke jalanan, tapi kasihan dia digilir oleh beberapa pria. Salahnya juga sih, Siapa suruh dia serakah, sudah bagus-bagus aku orbitkan menjadi seorang model papan atas, dia tidak merasa puas akan apa yang sudah ia dapatkan. Justru dia berkhianat dariku. Iya diterimanya lah sekarang dia tidak ada artinya lagi hidup." gumam Jonas bermonolog sendiri
Jonas berniat ingin pergi ke kantor agency miliknya, ia membayangkan Bagaimana dirinya bergumul saat berada di kantor dengan Marina. Gerakan demi gerakan yang dilakukan Marina yang menaikkan gairahnya pun terngiang di kepala Jonas.
Sungguh tidak disangka dan tidak diduga kini nasib Marina begitu miris, akibat keserakahannya sendiri. Jelas-jelas sudah memiliki kekasih seperti Horison, tapi ia tetap tidak puas hingga dirinya mampu menyerahkan seluruh tubuhnya untukku, Yang penting baginya apa yang ia impikan tercapai.
Jonas menaikkan kedua kakinya ke atas meja lalu menggoyang-goyangkan kakinya, membayangkan Bagaimana dirinya bersama Marina melakukan hubungan intim saat berada di kantor dan di beberapa hotel.
Jonas seolah lupa kalau dirinya sudah memiliki istri dan juga seorang anak. Yang penting baginya hasrat birahinya terlampiaskan. Apalagi Marina begitu hebat melayani pria berada di atas ranjang, membuat dirinya pun mabuk kepayang lupa akan istri dan anaknya.
Kemarahan Jonas terhadap Marina, karena Marina hengkang dari agensi miliknya dan beralih kepada agensi persaingannya, membuat dirinya marah besar. Jonas merasa dicampakkan begitu saja, saat nama Marina melambung tinggi. Padahal dia lah, yang berjuang mati-matian untuk mengorbitkan Marina menjadi model papan atas.
Sementara di tempat lain, tepatnya di ruang VVIP Rumah Sakit ternama yang ada di kota Jakarta. Tampak Tuan Airos gelisah melihat kondisi istrinya yang saat ini berbaring lemah di atas Branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Terlihat di punggung tangan Nyonya Nadine tertancap jarum infus, dan di bagian hidungnya tersambung selang oksigen Karena rasa sesak yang dirasakan oleh Nyonya Nadine.
Tuan Airos begitu khawatir akan kondisi istrinya. Istri yang selama ini setia mendampingi Tuan Airos mulai dari titik nol hingga berjaya sampai sekarang. Tuan Airos terkenal dengan kesetiaannya terhadap istrinya, perkembangan perusahaan miliknya tidak membuat dirinya gelap mata seperti bos-bos lainnya. Ia merasa kalau istrinya merupakan wanita yang sangat luar biasa, wanita yang menemaninya mulai dari dirinya tidak memiliki apa-apa.
"Jangan khawatir, Aku tidak apa-apa." ucap Nyonya Nadine sambil berusaha mengelus wajah suaminya yang tanpa khawatir melihat kondisi kesehatan yang tiba-tiba saja drop. Tiba-tiba seorang dokter datang menghampiri Nyonya Nadine dan Tuan Airos.
"Selamat sore Tuan, Nyonya. Saya periksa dulu ya sebentar." ucap sang dokter kepada Nyonya Nadine dan Tuan Airos. Sang dokter pun memeriksa setelah Tuan Airos menganggukkan kepalanya, tampak sang dokter mengerutkan keningnya.
"Ada apa dokter? tanya Tuan Airos yang melihat raut wajah dokter itu seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Nyonya Nadine tolong rileks pikirannya jangan terlalu banyak berpikir seperti ini. Kalau Nyonya Nadine terlalu banyak berpikir, nanti kondisinya semakin drop.
Jika seperti ini terus nanti tensi Ibu semakin naik. Ini tensinya semakin naik, Aku khawatir Nanti semakin parah." ucap sang dokter mengingatkan kepada Nyonya Nadine agar tidak terlalu memikirkan sesuatu.
"Baik dokter." ucap Nyonya Nadine sambil berusaha mengembangkan senyumnya.
"Tuan tolong hibur istrinya, mungkin ada sesuatu yang belum terpecahkan di dalam pikiran Nyonya Nadine, cobalah berbicara pelan-pelan." ucap dokter itu saat Tuan Airos berjalan menghantarkan dokter keluar dari ruang rawat inap Nyonya Nadine.
"Baik dokter." sahutnya lalu dokter itu pun meninggalkan Tuan Airos.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN