CEO I LOVE YOU

CEO I LOVE YOU
BAB 60. MERINDUKAN BABY MARCELLO



Sementara di tempat lain dokter Richard sudah duduk di kursi meja makan, dan memperhatikan sang istri yang sedang mengambilkan makanan untuknya.


"Terima kasih."ucap dokter Richard saat menerima piring berisi makanan dari sang istri.


"Kamu nggak makan?"Ayo temani aku, meskipun sedikit!"ujar dokter Richard. Hingga akhirnya Marina ikut makan menemani sang suami untuk makan yang ia persiapkan sebelumnya.


Marina tampak memperhatikan sang suami, saat sang suami mulai masukkan makanan ke dalam mulutnya. Dia takut kalau hasilnya akan mengecewakan di luar dugaannya suaminya justru memuji masakannya.


"Kau tidak membohongi aku, kan?"tanya Marina Ketus. Dia kira sang suami memuji dirinya karena ingin membahagiakan dirinya.


"Tentu saja tidak! bagi ku masakan kamu sudah enak, hanya saja kamu harus lebih berlatih untuk mengkombinasikan masalah perasa. Agar lebih enak lagi sahut dokter Richard.


Dokter Richard memberi masukan kepada sang istri. Tetapi tidak dengan cara menghina. Lebih untuk memberikan masukan agar sang istri lebih bersemangat untuk berlatih. Dia sangat menjaga perasaan istrinya. Terlebih saat ini istrinya sedang hamil perasaannya lebih sensitif. Jika seperti itu istrinya tak akan tersinggung dan justru merasa senang karena sang suami menyukai makanannya.


Bagi dokter Richard bukan soal rasa makanan, Tetapi dia lebih melihat niat dan antusias sang istri untuk berusaha menyenangkan hatinya. Membuat makanan itu dengan penuh cinta.


"Mengapa suamiku makan begitu lahap? sedangkan aku rasanya ingin muntah memakan makanan yang aku buat,"ucap Marina dalam hati. Dia memperhatikan sang suami yang kini sedang makan dengan lahap.


"Terima kasih sayang, aku suka."ucap dokter Richard dan Marina menganggukan kepalanya dengan ragu-ragu.


Setelah selesai makan, dokter Richard membantu sang istri merapikan meja makan dan mencuci piring sisa mereka makan. Dia tak memperbolehkan sang istri melakukan hal itu. Karena dia yakin kalau sang istri sudah sangat lelah melakukan semua pekerjaan rumah.


"Ayo kita duduk santai dulu di depan TV, sampai makanan kita turun dulu! setelah itu barulah kita siap-siap Untuk pergi,"ujar dokter Richard dan Marina mengiyakan. Kini keduanya sudah duduk di sofa yang berada di depan TV.


Marina tampak memeluk sang suami, sambil meletakkan kepalanya di dada bidang sang suami. Dia terlihat begitu manja kepada sang suami. Tangan dokter Richard terlihat sedang mengusap punggung sang istri dengan lembut.


"Semangat ya Sayang! Kamu pasti bisa melewati semua ini! aku pun akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk kamu."ucap dokter Richard dibalas anggukan dari Marina.


Marina melepaskan pelukannya, Karena Dia teringat sang suami belum meminum teh yang dia buatkan. Marina mengambil teh yang berada di meja dan memberikannya kepada sang suami. Dokter Richard langsung meneguknya hingga habis.


Setelah berbincang-bincang selama kurang lebih dua puluh menit, Marina dan dokter Richard memutuskan untuk bersiap-siap pergi. Mereka ingin menikmati waktu berduaan, meskipun hanya pergi berkeliling mencari makanan yang sang istri mau


Mereka kini sedang berkeliling santai dengan menggunakan sepeda motor dokter Richard. Marina tampak melingkarkan tangannya dari belakang.


"Nanti, kamu bilang aku ya! kalau ada makanan yang kamu inginkan!"ujar dokter Richard. Dokter Richard sengaja mengendarai sepeda motornya dengan pelan.


Tampak Marina menikmati perjalanan mereka sore ini dengan bahagia. Ia benar benar bersyukur memiliki dokter Richard yang begitu sayang dan perhatian terhadapnya.


Entah bagaimana jadinya hidup Marina, jika dokter Richard tidak ada. Hidup Marina benar benar hancur dengan masa lalunya. Beruntung Marina bertemu dengan dokter Richard


Saat ini, Bibi Narsih terus memperhatikan sosok Horison yang begitu telaten membuat susu untuk istrinya. "Ya Allah semoga rumah tangga non Anastasia dan Tuan horizon menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah."gumam Bibi Narsih sambil terus memperhatikan Horison membawakan susu ke dalam kamar untuk diberikan kepada Anastasia.


Bibi Narsih mengembangkan senyumnya, sementara Bibi Narsih melanjutkan aktivitasnya untuk membuatkan susu buat baby Marcello. Ya baby Marcello begitu dekat dengan Bibi Narsih. Bagaimana tidak, semenjak baby Marcello berada di dalam kandungan, Bibi Narsih yang selama ini menemani dan menjaga Anastasia di kota pematang Siantar. Sampai Anastasia melahirkan dan kembali ke kota Jakarta baby Narsih yang selalu setia menemani baby Marcello.


Sementara di tempat lain, terlihat Nyonya Tapasya sangat merindukan cucunya baby Marcello. Padahal baru beberapa hari baby Marcello tinggal di rumah utama keluarga Airos. Ya, kehadiran baby Marcello dirumah utama keluarga Geraldine, membuat hidup nyonya Tapasya semakin berwarna.


Sehingga Nyonya Tapasya tidak ingin jauh-jauh dari baby Marcello. Karna rasa rindu terhadap baby Marcello, Nyonya Tapasya berniat menghubungi Anastasia dalam sambungan video call-nya.


Kring....


Kring....


Kring....


Suara deringan ponsel Anastasia terdengar jelas di telinganya. Anastasia yang saat ini berada di kamar baby Marcello dengan Horison, meraih ponselnya yang berada di atas nakas. ia melihat nama nyonya Tapasya yang tertera di dalam layar ponselnya.


Anastasia yang sedang mengganti popok baby Marcello pun, langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada nyonya tapasya. Ia langsung mengarahkan kamera kepada baby Marcello yang saat ini berbaring sambil dibantu oleh Anastasia mengganti popok yang sudah basah.


"Hello Assalamualaikum, Oma." ucap Anastasia menirukan suara khas anak kecil yang mampu membuat Nyonya Tapasya langsung tertawa ngakak. Nyonya Tapasya melihat Anastasia begitu telaten mengganti popok sang cucu. Nyonya Tapasya juga melihat Horison di sana memperhatikan Anastasia dengan seksama.


"Ada apa Ma?


"Tidak ada apa-apa, Mama hanya kangen saja kepada cucu Mama. Apa kamu tahu semenjak cucu Mama tidak ada di rumah, rumah ini tampak sepi. Mama mohon Mama sangat merindukan cucu mama."ucap Nyonya Tapasya memohon kepada sang putri.


"Ya Allah Ma, padahal Baru beberapa hari Baby Marcello menginap di sini, tapi mana sudah sangat merindukan cucu Mama yang tampan ini." sahut Anastasia sambil terkekeh. Horison mengembangkan senyumnya mendengar percakapan nyonya Tapasya dan juga sang istri membuat hati Horison semakin menghangat.


Ia terus memperhatikan sang istri mengganti popok dan kembali memangku baby Marcello. Horison yang ingin meraih tubuh baby Marcello pun tidak dilarang oleh Anastasia. Ia pun memberikan baby Marcello dipangku oleh Horison sembari kamera tetap mengarah kepada Horison dan juga baby Marcello.


Hal itu membuat hati nyonya Anastasia merasa bangga. Ternyata menantunya itu begitu menyayangi cucunya. Setelah selesai berbicara puas dengan Anastasia, dan melihat sosok sang cucu, Nyonya Tapasya pun memutuskan sambungan telepon selulernya dan terakhir nyonya Tapasya berpesan, agar Anastasia, Horison dan baby Marcello datang ke rumah utama keluarga Geraldine.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN