
“ Kenapa kau melakukan ini? Kau bilang kau akan membantuku ”, “ Kau ingin tau alasannya Akila? ” tanya Eliya, Akila hanya menganggukan kepalanya sebagai jawabannya, “ Coba tanyakan kepada dirimu sendiri Akila ” ujar Eliya dengan sedikit berteriak dan mendorong Akila menjauh, Elina yang melihatnya segera menghampiri Akila dan membantunya berdiri, sementara itu Rafael baru saja bangun dari tidurnya dan turun kebawah untuk mengambil minum, “ Kenapa sepi sekali? Kemana Akila dan Elina? ” tanya Rafael kepada dirinya sendiri setelah itu meneguk minuman yang dia ambil tadi
Rafael pun meletakkan kembali gelas itu di atas meja dan mengelilingi rumah tersebut untuk mencari keberadaan adiknya dan juga Akila, dia sudah mengelilingi rumah tersebut tetapi tidak kunjung menemukan Elina dan Akila, Rafael pun keluar rumah dan bertanya kepada penjaga gerbang rumah tersebut “ Apakah kau tau dimana Elina dan Akila? ”, “ Nona Elina dan Akila tadi keluar Tuan ” jawab penjaga tersebut, “ Baiklah, terima kasih ” ujar Rafael sebelum melangkahkan kakinya pergi meninggalkan penjaga tersebut sendirian
Rafael pun pergi ke kamarnya, sesampainya di depan kamarnya “ Aishhh, kemana sih mereka berdua pergi? ” ujarnya setelah itu membuka pintu kamar tersebut, “ Aishhh, dan ni bocah kenapa belum bangun bangun juga sih? ” tambah Rafael setelah membuka pintu kamarnya dan melihat Jazztin yang masih berada dalam mimpinya, " Mimpi apaan sih sampai belum bangun juga, tapi jika mimpinya indah kenapa wajahnya ketakutan seperti itu, seperti takut kehilangan seseorang yang dia cintai saja " tambah Rafael lagi, " Aishh, sudahlah, lebih baik aku telpon Elina " ujar Rafael, Rafael pun mengambil handphone yang berada di atas nakas untuk menghubungi Elina, belum sempat menelpon Elina dia dikejutkan dengan pesan yang dikirimkan oleh Elina
Rafael terkejut dengan isi pesan tersebut dan dia juga di kejutkan lagi dengan Jazztin yang tiba tiba berteriak dan bangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya dan juga nafas yang tersenggal senggal, Jazztin pun melihat sekelilingnya dan manik matanya menatap Rafael yang memasang wajah khawatirnya, “ Kau kenapa? ” ucap mereka bersamaan, “ Aku mimpi buruk tadi ” ujar Jazztin, “ Tapi kenapa firasatku buruk hari ini? ” batin Jazztin, “ Dan kau kenapa? Kenapa dengan wajahmu seperti itu? ” tanya Jazztin balik
“ Kau benar benar tidak merasa bersalah sama sekali ya Akila ” ujar Eliya, “ Apa maksudmu? katakan dengan jelas Eliya, jangan berbelit belit ” tanya Elina, dan tiba tiba saja Jazztin dan Rafael datang dengan nafas yang tidak beraturan, “ 2 orang lagi datang ” ujar Nindy, Jazztin dan Rafael yang melihat Eliya pun terkejut, “ Jelaskan padaku Eliya ” ujar Akila, “ Kau merebut seseorang yang aku sayangi Akila ” ujar Eliya
Mereka berlima termasuk juga Nindy bingung dengan yang di katakan oleh Eliya, pasalnya selama ini Nindy tidak pernah di beritahukan alasan Eliya mau membantunya, “ Aku merebut seseorang yang kau sayangi? Apa maksudmu? ” tanya Akila, “ Kau benar benar melupakannya Akila ” ujar Eliya, “ Hah ” Akila dibuat semakin bingung oleh Eliya, “ Sampai kapanpun, seharusnya kau terus mengingatnya Akila ” ujar Eliya dengan sedikit membentak